Selasa, 20 Oktober 2026
No menu items!
Beranda blog Halaman 178

Respons Lonjakan Kasus COVID-19, Kakorlantas Ubah Mobil Pelayanan Lalin

0
(Foto: Doc. Divisi Humas Polri)

SOLO, JAGAINDONESIA.COM – Kepala Korps Lalu Lintas (Kakorlantas), Polri Irjen Istiono, merespon cepat lonjakan kasus COVID-19 pasca libur Lebaran. Mobil-mobil pelayanan lalu lintas (lantas) diubah peruntukkannya secara situasional.

Awalnya, Istiono menanggapi kebijakan Gubernur Jawa Barat, Ridwan Kamil, yang melarang orang-orang masuk ke daerah Bandung akibat terjadinya lonjakan kasus COVID-19. Menurut dia, langkah-langkah penyekatan maupun pengetatan seperti itu memang harus dilakukan.

“Nah ini penting. Kita semua harus meresponnya dengan cepat situasi ini. Oleh karena itu juga, termasuk mobil-mobil pelayanan kita di lalu lintas pun kita banyak yang ubah saat ini, untuk kepentingan situasional,” ujar Istiono saat berada di salah satu Pos PPKM Mikro Polresta Surakarta, Jawa Tengah, Kamis (17/6/2021).

Istiono mengatakan, mobil-mobil milik Satlantas Polri diubah demi kepentingan menekan laju penyebaran COVID-19. Dia pun berharap kasus COVID-19 dapat segera turun.

“Seperti mobil keliling kita, ambulan kita, kemudian mobil Dikmas kita. Kita ubah untuk melakukan kegiatan-kegiatan yang berkaitan dengan penyebaran COVID-19 ini. Itu harapan kita. Semua dinamika terus kita ikuti, kita kawal agar COVID-19 bisa segera turun,” ucap Istiono.

Dia menyampaikan, saat ini terdapat 12 provinsi dan 29 kabupaten yang masuk zona merah. Sehingga, semua pihak harus saling bahu-membahu memperketat mobilitas.

“Kita mendirikan pos cek poin pengetatan ini. Kita sudah bangun 152 cek poin di zona-zona merah. Kegiatannya adalah rapid test random secara gratis, kemudian kita bagi masker, sosialisasi kepada masyarakat,” kata Istiono.

Istiono menjelaskan, aktivitas pengetatan di pos-pos cek poin tersebut dilakukan pada jam-jam sibuk. Terutama pada hari-hari libur.

“Agar laju perkembangan COVID-19 itu dari segi mobilitas dapat kita kendalikan. Ini ayo kita harus sama-sama dengan masyarakat dan instansi terkait untuk mengerem kegiatan ini di lapangan. Kalau tidak dibantu dengan kesadaran masyarakat, ini akan sangat sulit,” tuturnya.

Lebih lanjut, Istiono juga mengapresiasi jajaran Satlantas Polresta Surakarta. Meskipun Solo tak termasuk zona merah, namun langkah-langkah antisipatif tetap dilakukan.

“Solo tidak termasuk zona merah ya, ini zona kuning. Namun demikian karena dia berbatasan dengan zona merah, Kasatlantasnya langsung merespon membangun, mengantisipasi, mengawasi mobilitas aktivitas di perbatasan zona merah. Ini sangat bagus sekali ini,” jelas Istiono.

“Saya harapkan daerah-daerah lain juga melakukan hal yang sama. Tidak di zona merahnya, tapi yang di perbatasan zona merah juga dilakukan pengetatan bidang mobilitas kita monitoring. Kita lakukan rapid test random secara gratis. Kalau ketahuan ada beberapa orang kan bagus itu,” lanjut dia. (rls)

Simak Daftar Provinsi dengan Indeks Inovasi Terendah se-Indonesia

0
Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Kementerian Dalam Negeri (Litbang Kemendagri), Agus Fatoni . [Foto: Kemendagri]

JAKARTA, JAGAINDONESIA.COM – Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Kementerian Dalam Negeri (Litbang Kemendagri), Agus Fatoni menyampaikan, terdapat 5 provinsi yang memiliki nilai indeks inovasi terendah, di antaranya Nusa Tenggara Barat, Kalimantan Barat, Maluku, Kalimantan Timur, dan Gorontalo. Kelima provinsi tersebut masuk dalam kategori kurang inovatif hasil penilaian Indeks Inovasi Daerah tahun 2020. Sedangkan, masih terdapat 55 kabupaten dan 3 kota yang tidak dapat dinilai inovasinya (disclaimer). Hal tersebut disampaikannya pada acara Pembekalan Kepemimpinan Pemerintahan Dalam Negeri bagi Bupati/Wakil Bupati dan Wali Kota/Wakil Wali Kota Tahun 2021, Rabu (16/6/2021) secara virtual.

Fatoni mengatakan, rendahnya skor indeks tersebut dipengaruhi berbagai faktor, salah satunya dipicu kurang maksimalnya Pemda dalam melakukan pelaporan inovasi. Sering kali, Pemda tidak memenuhi persyaratan yang diberikan, kendati daerah tersebut sejatinya memiliki berbagai terobosan kebijakan.

“Bisa jadi Pemerintah Daerah memiliki inovasi yang cukup banyak, tapi tidak dilaporkan atau bisa saja dilaporkan tapi tidak _evidence based_ dan ditunjang data-data pendukung yang ada,” terang Fatoni.

Dirinya menambahkan, bagi Pemda yang memperoleh hasil skor indeks rendah diimbau untuk segera berbenah. Para Kepala Daerah diminta untuk melakukan langkah strategis dengan jajarannya, yakni dengan mensinergikan perangkat daerah untuk melahirkan inovasi. Di sisi lain, peran dan fungsi litbang daerah harus diperkuat untuk mendukung terobosan kebijakan melalui pengkajian dan penelitian.

“Kolaborasi dengan para aktor inovasi juga wajib dilakukan. Selain itu tiap perangkat daerah harus menumbuhkan budaya inovasi,” tutur Fatoni.

Hasil penilaian Indeks Inovasi Daerah, lanjut Fatoni, dapat menjadi masukkan bagi Kemendagri untuk melakukan pembinaan dan pengawasan terhadapnya. Penilaian indeks juga diharapkan dapat memotivasi daerah agar senantiasa meningkatkan inovasi dalam penyelenggaraan pemerintahan. Kemendagri sendiri selalu melakukan evaluasi terhadap penilaian Indeks Inovasi Daerah guna menghasilkan sistem penilaian yang lebih terukur, transparan, dan dapat dipertanggungjawabkan.

“Tahun ini, tahap penginputan data inovasi dalam indeks akan dimulai pada Mei hingga 13 Agustus 2021. Diharapkan semua pemda berpartisipasi,” ujar Fatoni

Sebagai informasi, berikut daftar Pemerintah Daerah dengan kategori kurang inovatif dan disclaimer hasil penilaian Indeks Inovasi Daerah tahun 2020: Provinsi dengan Skor Indeks Inovasi Terendah (Kurang Inovatif) 1. Provinsi Nusa Tenggara Barat 2. Provinsi Kalimantan Barat 3. Provinsi Maluku 4. Provinsi Kalimantan Timur 5. Provinsi Gorontalo.

Kabupaten dengan kategori Tidak Dapat Dinilai (Disclaimer): 1. Kabupaten Boalemo 2. Kabupaten Boven Digoel 3. Kabupaten Buru 4. Kabupaten Buton Tengah 5. Kabupaten Buton Utara 6. Kabupaten Deiyai 7. Kabupaten Dogiyai 8. Kabupaten Fakfak 9. Kabupaten Halmahera Barat 10. Kabupaten Halmahera Tengah 11. Kabupaten Halmahera Timur 12. Kabupaten Intan Jaya 13. Kabupaten Kaimana 14. Kabupaten Kapuas Hulu 15. Kabupaten Kepulauan Aru 16. Kabupaten Kepulauan Yapen 17. Kabupaten Lanny Jaya 18. Kabupaten Mahakam Ulu 19. Kabupaten Malaka 20. Kabupaten Mamberamo Raya 21. Kabupaten Manggarai 22. Kabupaten Manggarai Barat 23. Kabupaten Manggarai Timur 24. Kabupaten Manokwari Selatan;

25. Kabupaten Mappi 26. Kabupaten Maybrat 27. Kabupaten Memberamo Tengah 28. Kabupaten Morowali 29. Kabupaten Nduga 30. Kabupaten Ngada 31. Kabupaten Nias Utara 32. Kabupaten Paniai 33. Kabupaten Pasangkayu 34. Kabupaten Pegunungan Arfak 35. Kabupaten Polewali Mandar 36. Kabupaten Pulau Taliabu 37. Kabupaten Puncak 38. Kabupaten Puncak Jaya 39. Kabupaten Raja Ampat 40. Kabupaten Rokan Hilir;

41. Kabupaten Sabu Raijua 42. Kabupaten Sarmi 43. Kabupaten Seram Bagian Timur 44. Kabupaten Sorong 45. Kabupaten Sorong Selatan 46. Kabupaten Supiori 47. Kabupaten Tambrauw 48. Kabupaten Tana Toraja 49. Kabupaten Teluk Bintuni 50. Kabupaten Teluk Wondama 51. Kabupaten Timor Tengah Utara 52. Kabupaten Tolikara 53. Kabupaten Waropen 54. Kabupaten Yahukimo 55. Kabupaten Yalimo. Sedangkan kota dengan kategori Tidak Dapat Dinilai (Disclaimer) 1. Kota Sorong 2. Kota Gunungsitoli 3. Kota Subulussalam. (rls)

Peralatan Negara yang Disusupi Satelit Mata-mata Segera Diganti

0
Ketua DPD RI, AA LaNyalla Mahmud Mattalitti. [Foto: Dok. DPD RI]

JAKARTA, JAGAINDONESIA.COM – Laporan Badan Intelijen Negara (BIN) yang menyebut banyaknya peralatan negara yang ditempeli satelit mata-mata asing, menjadi perhatian Ketua DPD RI, AA LaNyalla Mahmud Mattalitti. 

LaNyalla meminta pemerintah segera mengambil tindakan. Salah satunya, mengganti semua peralatan negara yang disusupi satelit mata-mata.

“Ini bukan persoalan sepele. Harus mendapat perhatian serius dari pemerintah dan perlu ada evaluasi menyeluruh terhadap seluruh sistem maupun peralatan negara karena ini menyangkut ketahanan nasional,” tutur LaNyalla, Rabu (16/6/2021).

Ditambahkannya, pengecekan terhadap seluruh peralatan ketahanan negara perlu sesegara mungkin dilakukan sebagai antisipasi terjadinya kebocoran data. Untuk itu, ia meminta BIN merinci peralatan mana saja yang sudah disusupi pihak asing.

“BIN sebagai sebagai satu-satunya institusi yang kedudukannya sebagai ‘State Intelligence’ perlu menyampaikan informasi detil mengenai peralatan-peralatan yang dijadikan mata-mata asing tersebut,” tuturnya.

LaNyalla juga meminta BIN bekerja sama dengan instansi terkait agar masalah penyusupan mata-mata asing ini bisa ditangani dengan sebaik mungkin. Termasuk dengan TNI sebagai penjaga pertahanan negara.

“Kita harus duduk bersama untuk mengatasi persoalan ini. Jangan sampai ada ego sektoral yang akhirnya justru merugikan dan mengancam ketahanan nasional yang akan berdampak terhadap kehidupan bangsa,” tegas LaNyalla.

Mantan Ketua Umum PSSI ini berharap pemerintah menanggapi serius permintaan BIN agar Indonesia bisa memiliki satelit sendiri sehingga kita tidak bergantung kepada satelit pihak lain yang akhirnya menyebabkan kebocoran-kebocoran. LaNyalla menilai perlu ada peran serta dari jajaran akademisi dan berbagai instansi yang terkait dengan teknologi.

“Sudah saatnya Indonesia memiliki teknologi sendiri untuk menjamin keamanan setiap data yang kita miliki. Ini harus menjadi kebijakan pemerintah, apalagi Indonesia kini sudah memiliki BRIN (Badan Riset dan Inovasi Nasional),” tegasnya.

LaNyalla juga mengimbau agar masyarakat tenang. Ia juga mengingatkan supaya persoalan adanya mata-mata asing di sistem peralatan negara tidak dijadikan bahan pro-kontra.

“Kita harus berpegangan tangan, bersatu untuk bisa sama-sama menyelesaikan persoalan kemungkinan adanya kebocoran data. Tidak perlu saling menyalahkan, tapi mari kita cari solusi bersama demi tegaknya kedaulatan negara tercinta,” kata LaNyalla. (rls)

BKSP DPD RI-Dubes Arab Saudi Bahas Pengembangan Kerja Sama

0
Ilustrasi. (Foto: Istimewa)

JAKARTA, JAGAINDONESIA.COM – Badan Kerja Sama Parlemen (BKSP) DPD RI menilai Arab Saudi merupakan mitra penting Indonesia. Kedua negara ini memiliki hubungan baik dan sudah berjalan dalam jangka waktu yang sangat lama.

“Arab Saudi mitra penting dan punya kedekatan khusus dengan masyarakat Indonesia. Karena itu DPD RI berharap itu bisa menjadi modal untuk kerja sama yang lebih luas,” ucap Ketua BKSP, Gusti Farid Hasan Aman, saat bertemu dengan Duta Besar Arab Saudi untuk Indonesia, Syekh Essam bin Abed Al-Thaqafi, Jakarta, Kamis (17/6).

Sementara itu, Duta Besar Arab Saudi Syekh Essam bin Abed Al-Thaqafi dalam pertemuan tersebut memaparkan bahwa hubungan kedua negara semakin baik, khususnya pasca kunjungan kedua Kepala Negara.

“Arab Saudi juga ikut berinvestasi dalam pembangunan Ibu Kota Negara (IKN),” tuturnya.

Menurut Syekh Essam bin Abed Al-Thaqafi bahwa kerja sama ekonomi dan perdagangan juga semakin intensif dan akan segera dilakukan expo perdagangan kedua negara.

“Dalam perjanjian sosial budaya, kedua megara juga terus mengembangkan hubungan people to people yang berbasis pada semangat perdamaian, toleransi dan kemanusiaan,” paparnya.

Haji dan Umrah

Para anggota BKSP DPD RI memanfaatkan kesempatan Rapat Kerja ini untuk menanyakan beberapa hal seputar ibadah haji. Seperti diketahui Arab Saudi belum membuka haji bagi jamaah dari berbagai negara, termasuk Indonesia. Para Senator mengajukan permohonan agar dicari jalan tengah mengingat banyak sekali rakyat Indonesia yang sangat ingin berhaji dan berumrah. Jalan tengah yang dimaksud misalnya memberlakukan screening dan tindakan pencegahan melalui Swab Test dan kesamaan pemahaman dalam hal vaksin.

Anggota DPD RI asal Provinsi Banten, Ali Ridho, mengatakan jamaah haji Indonesia telah dua kali tidak bisa berangkat disebabkan oleh pandemi yang belum usai. Hal ini mengakibatkan antrian jamaah haji yang semakin panjang dan lama serta beberapa daerah bahkan antriannya bisa lebih dari 40 tahun.

“DPD RI berupaya mengakomodasi aspirasi masyarakat dan menyampaikan secara langsung pada Yang Mulia Dubes Arab Saudi. Harapannya ada solusi yang baik bagi kedua belah pihak,” terangnya.

Menanggapi hal tersebut, Syekh Essam bin Abed Al-Thaqafi mengatakan bahwa pihaknya memahami keinginan masyarakat Indonesia dan soal ini akan menjadi masukkan dan pertimbangan Pemerintah Arab Saudi ke depan.

Industri Syariah

Dalam hal industri syariah kedua pihak juga sepakat untuk menjalin kerja sama yang lebih intensif. Pasalnya potensi bisnis syariah dalam berbagai bidang sangat besar. Untuk Indonesia sendiri industri syariah berkembang sebesar 20 persen year on year pada tahun 2020.

Peluang yang sangat besar dalam industri syariah bagi kedua negara mencakup industri keuangan, pariwisata, makanan dan minuman. Untuk itu kedua negara perlu membicarakan hal ini lebih lanjut untuk menggali potensi dan menetapkan standar bersama.

Terakhir dalam bidang pendidikan, Arab Saudi terbuka bukan hanya dalam pendidikan keagamaan tetapi juga dalam pendidikan secara umum seperti kedokteran, arsitektur dan sebagainya. Peluang beasiswa juga terbuka di Arab Saudi. Para Senator DPD RI melihat kesempatan ini untuk memberdayakan putra daerah agar bisa belajar di Arab Saudi.

Kasus Covid-19 Melonjak, Ketua DPD RI Minta Tunda Agenda Pertemuan Besar

0
Ketua DPD RI, AA LaNyalla Mahmud Mattalitti.

JAKARTA, JAGAINDONESIA.COM – Lonjakan kasus Covid-19 yang diduga varian baru yang lebih cepat menular dan mewabah membuat Ketua DPD RI, AA LaNyalla Mahmud Mattalitti, meminta semua pihak agar menunda agenda pertemuan skala besar. Karena potensi berkumpulnya ratusan orang tidak bisa dihindari. Apalagi dengan peserta yang datang dari seluruh Indonesia.

“Saya berharap agenda organisasi maupun partai yang akan menggelar pertemuan dengan menghadirkan stakeholder dari seluruh provinsi ditunda dulu. Kita sudah lihat tren penyebaran dan kasus Covid-19 meningkat di banyak wilayah. Bahkan beberapa daerah zona merah dan siaga 1. Ini penting untuk menjadi pertimbangan semua pihak,” tandasnya, Rabu (16/6/2021) malam.

Dikatakan LaNyalla, tak terkecuali agenda Munas Kadin Indonesia, yang sedianya akan diselenggarakan di Kendari, Sulawesi Tenggara pada 30 Juni mendatang. Menurutnya, organisasi para pengusaha itu harus memberi contoh kepada masyarakat untuk menunda demi kemaslahatan umum, khususnya terkait pandemi Covid-19 yang meningkat kembali.

“Saya juga pengurus Kadin, saya hafal betul kalau Munas Kadin pasti akan dihadiri ratusan orang. Peserta resmi dan peninjau saja sudah 5 orang per provinsi. Belum pengurus Kadin Indonesia dan panitia, SC dan OC. Lalu event organizer yang terlibat. Masih ditambah pengurus yang bukan peserta yang hadir inisiatif sendiri untuk melihat atau sekadar ingin ikut meramaikan acara. Ini tidak bisa dicegah, karena mereka berangkat sendiri atas biaya sendiri,” tukasnya.

Apalagi, sambung Ketua Dewan Penasehat Kadin Jatim itu, Kendari lebih minim fasilitas untuk acara pertemuan skala nasional ketimbang Bali. Hotel dan Ballroom untuk acara pasti lebih besar dan lebih memadai yang ada di Bali.

“Jadi menurut saya, tunda saja. Dari pada menjadi klaster baru setelah acara, yang kemudian peserta kembali ke daerah masing-masing menjadi carrier virus,” ungkap Ketua Kadin Jatim periode 2009-2019 itu.

Desakkan penundaan Munas Kadin Indonesia ke-VIII sebelumnya sudah pernah dilontarkan beberapa Ketua Kadin Provinsi menyusul meningkatnya kasus Covid-19 setelah libur lebaran kemarin. Apalagi dengan terdeteksinya varian baru Covid-19 yang berasal dari India dan Afrika.

Usulan penundaan itu juga datang dari Ketua Kadin Provinsi Jawa Tengah, Kukrit Suryo Wicaksono, Jawa Timur, Adik Dwi Putranto, Sumatera Utara Ivan Batubara dan Wawan Harmawan, Wakil Ketua Kadin Daerah Istimewa Yogyakarta.

Mereka rata-rata menyoroti tempat dan waktu Munas, dimana semula di Bali, pada 2-4 Juni 2021, pindah dan mundur ke Kendari, 30 Juni 2021. Perpindahan itu dinilai janggal, sebab Kendari minim fasilitas. Tempat munas mesti di daerah yang rendah kasus Covid-nya, dan memadai dalam infrastrukur, mulai dari hotel, gedung tempat acara, transportasi, juga sarana wisata. (*)

Kasus Covid-19 Melonjak, Said Abdullah: Perlu Pelibatan TNI-Polri

0
Ketua Badan Anggaran (Banggar) DPR RI Said Abdullah. (Foto: Geraldi/Man)

JAGAINDONESIA.COM – Ketua Badan Anggaran (Banggar) DPR RI Said Abdullah menyoroti lonjakan kasus baru Covid-19 di sejumlah daerah. Ia menilai tingginya angka kasus Covid-19  menunjukan kebijakan pemerintah dalam memutus mata rantai penyebaran Covid-19 belum efektif. Karena itu, Said meminta pemerintah menurunkan Aparat Penegak Hukum (APH), baik dari TNI maupun Polri untuk memastikan masyarakat taat akan protokol kesehatan (prokes).

Menurutnya, hal ini sesuai dengan rekomendasi Banggar DPR RI yang sedari awal mengusulkan agar penangangan Covid-19 ini tidak cukup mengandalkan kesadaran masyarakat saja, tetapi juga melibatkan APH.

“Yang dibutuhkan saat ini adalah, bagaimana penanganan Covid-19 ini agar tuntas. Maka sepenuhnya harus melibatkan aparat penegak hukum,” ujar Said di Gedung DPR RI, Senayan, Jakarta, Rabu (16/6/2021).

Data terakhir yang dilansir dari laman covid-19.go.id menyatakan, total kumulatif kasus terkonfirmasi positif corona telah mencapai angka 1.927.708 pasien, per Selasa (15/6/2021). Jumlah ini mengalami penambahan sebanyak 8.161 kasus, bila dibanding data terakhir pada hari sebelumnya. Said mengaku miris dengan angka penyebaran Covid-19 yang kecenderungannya bertambah.

Pertambahan angka Covid tertinggi terjadi di daerah DKI Jakarta, Jawa Tengah dan Jawa Barat. Jika ketiga daerah ini tidak serius memerangi Covid-19 ini maka dampaknya sangat signifikan terhadap pemulihan ekonomi nasional. Hal ini beralasan mengingat ketiga daerah itu berkontribusi besar sebagai penyumbang 39 persen Produk Domestik Bruto (PDB).

“Masalah Covid-19 ini sangat serius. Dan kondisi kita saat ini, darurat,” imbuhnya.

Said menjelaskan, upaya penuntasan Covid-19 ini tidak mudah. Karenanya, dia meminta pemerintah menurunkan personel TNI dan Polri diseluruh wilayah. Para personel TNI-Polri ini perlu disiagakan di jalan-jalan, mulai tingkat kecamatan, kabupaten, provinsi hingga ibu kota untuk memastikan prokes berjalan sebagaimana mestinya. Namun kehadiran TNI-Polri di wilayah tersebut tidak boleh mengganggu aktifitas warga.

“Selama warga menaati prokes, maka tidak boleh diganggu. Biarkan mereka menjalani rutinitas secara normal,” urainya.

Said menambahkan, kehadiran TNI-Polri di tengah masyarakat ini bukan untuk menakuti rakyat. Tetapi upaya ini dalam rangka membantu masyarakat agar disiplin menerapkan prokes. Biasanya lanjut Said, kepatuhan masyarakat akan terbentuk dengan sendirinya jika melihat aparat penegak hukum lengkap dengan seragamnya. Bahkan masyarakat akan berpikir dua kali melanggar prokes jika berhadapan dengan aparat.

Menurutnya, pola seperti ini secara perlahan akan membantu membentuk tingkat kesadaran masyarakat secara natural.

“Hal ini menunjukan keseriusan pemerintah. Jadi saya usulkan, turunkan semua APH di semua wilayah. Nah, baru akan terlihat efektifitas penanganan Covid-19 ini,” jelas politisi F-PDI Perjuangan ini.

Said melanjutkan, konsistensi aparat penegak hukum dalam mendisplinkan masyarakat sangat diperlukan di lapangan. Supaya masyarakat tunduk pada prokes yang disyaratkan pemerintah.

“Tanpa pelibatan APH, maka jangan pernah bermimpi kasus Covid-19 ini bisa melandai. Mau PPKM atau apapun namanya tanpa melibatkan APH maka tidak akan pernah efektif kebijakan pemerintah ini,” terangnya.

Anggota Komisi XI DPR RI itu melanjutkan pelibatan APH ini sangat urgent, lantaran bangsa ini berada dalam posisi darurat Covid-19. Dengan demikian, pola penangangan Covid-19 ini tidak bisa setengah hati. Untuk itu, kebijakan penangangannya pun harus extraordinary.

“Kalau kita melihat tren penyebaran Covid terus tinggi. Ini sudah fakta, dari 3000, lalu naik ke 4000 dan sekarang sudah mencapai 10.000 per hari. Saya kira ada yang kurang beres dari policy pemerintah. Saya usul tegakkan prokes secara ketat. Ini kata kuncinya,” tandas legislator dapil Jawa Timur XI itu. (ann/sf)

Tak Hanya Strategis, Rencana Kerja Pemerintah Juga Harus Implementatif

0
Anggota Komisi VI DPR Edhie Baskoro Yudhoyono. (Foto: Andri/Man)

JAGAINDONESIA.COM – Wakil Ketua Badan Anggaran (Banggar) DPR RI Edhie Baskoro Yudhoyono mengungkap bahwa penyusunan Rencana Kerja Pemerintah (RKP) dan prioritas anggaran dalam RAPBN 2022 memiliki nilai strategis bagi pembangunan nasional yang berkelanjutan. Hal ini dikarenakan keduanya akan menjadi transisi untuk kembali rebound dan membawa angka defisit kembali pada ambang batas 3 persen pada tahun 2023.

“Namun perlu diingat bahwa pondasi paling awal dari pemulihan ekonomi adalah pengendalian Covid-19 itu sendiri. Percepatan belanja pemerintah, terutama dalam bentuk bantuan sosial, program padat karya prioritas, dan mendorong belanja masyarakat diperlukan untuk kembali meningkatkan demand side,” kata Ibas, sapaan akrab Edhie Yudhoyono, saat membuka Rapat Panja Banggar DPR RI dengan pemerintah di Gedung DPR RI, Senayan, Jakarta, Rabu (16/6/2021).

Untuk itu, RKP yang disusun tidak hanya sekedar baik secara konseptual tetapi secara implementatif harus mampu menjadi acuan pembangunan nasional di tahun 2022. RKP juga hendaknya mampu menyaksikan program kerja antar Kementerian/Lembaga, sekaligus menghubungkan pembangunan yang dilakukan baik di tingkat pusat maupun daerah.

Lebih lanjut, politisi Partai Demokrat itu menekankan bahwa penyusunan RKP dan prioritas anggaran RAPBN Tahun 2022 juga harus mengutamakan prinsip inklusivitas. Pemulihan ekonomi yang digagas juga harus senantiasa mengedepankan keterpaduan dan keberlanjutan (sustainability). Sehingga output dan outcome yang ingin dicapai dapat terukur, tepat sasaran dan menyentuh seluruh lapisan masyarakat.

Kebijakan yang tertuang di dalam RKP 2022 merupakan sebuah keberlanjutan dari proses pembangunan yang sudah disusun dalam rencana pembangunan jangka menengah atau RPJMN tahun 2020-2024. Oleh karena itu, penyusunan RKP dan prioritas anggaran RAPBN 2022 tidak bisa berjalan sendiri, tetapi harus selaras dengan kondisi ekonomi makro dan kebijakan fiskal di tahun 2022.

“Kondisi pada pandemi Covid-19 jangan sampai menyurutkan upaya kita untuk mewujudkan visi Indonesia 2045, menjadi negara maju berpendapatan tinggi dan tidak terjebak sebagai negara berpendapatan menengah atau middle income trap country,” tegas Anggota Komisi VI DPR RI itu.

‘Pemulihan Ekonomi dan Reformasi Struktural’, menjadi tema yang diusung pada RKP 2022. Menurut Ibas, tema tersebut harus mampu menjawab tantangan yang sedang dihadapi dalam proses pemulihan akibat pandemi Covid-19. Harapannya, tahun 2022 menjadi tahun pertama Indonesia bisa terlepas dari tekanan pandemi, sekaligus menjadi transisi bagi penetapan ekonomi nasional dan kondisi fiskal tahun 2023.

RKP 2022 hendaknya juga harus mencerminkan kuatnya upaya pemerintah untuk melanjutkan program pemantapan pemulihan ekonomi nasional, menjaga keberlanjutan program perlindungan sosial yang bersifat inklusif. Serta, penyaluran subsidi yang tepat sasaran dan tepat guna berbasis data terpadu kesejahteraan sosial (DTKS). 

“Selain memberikan penekanan kepada pemantapan pemulihan kondisi ekonomi masyarakat, kita harus tetap konsisten untuk melaksanakan reformasi struktural secara lebih optimal mengingat kita masih memiliki masalah struktural yang harus diatasi segera,” jelasnya.

Permasalahan struktural yang masih menjadi pekerjaan rumah pemerintah tersebut, antara lain kualitas sumber daya manusia yang masih rendah, infrastruktur yang belum memadai, kurangnya produktivitas dan daya saing, serta birokrasi institusi dan regulasi yang tidak efisien rumit dan belum bebas dari praktik korupsi.

Untuk itu, reformasi struktural harus mampu menciptakan ekosistem yang kondusif dalam rangka mendukung proses pemulihan ekonomi, perbaikan iklim investasi birokrasi dan kelembagaan serta meningkatkan kualitas SDM dan perlindungan sosial.

“Perbaikan iklim investasi juga perlu dilakukan melalui perbaikan infrastruktur ekonomi untuk menjawab keterbatasan infrastruktur yang seringkali menjadi akar masalah dan rendahnya investasi,” pungkas legislator dapil Jawa Timur VII tersebut. (alw/sf)

Kapolri Ungkap 5 Klaster COVID-19 di DKI Jakarta

0
Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo. (Foto: Doc. Divisi Humas Polri)

JAKARTA, JAGAINDONESIA.COM – Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo mengungkap 5 klaster COVID-19 di DKI Jakarta dalam rapat dengar pendapat bersama Komisi III DPR RI. Kelima klaster COVID-19 itu tersebar di DKI Jakarta.

“Di DKI Jakarta terdapat 5 klaster COVID DKI, yaitu di Cipayung, di Cilincing, di Kelapa Dua, di Kayu Putih, dan di Ciracas,” kata Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo saat rapat dengar pendapat bersama Komisi III DPR RI, di Kompleks DPR/MPR, Senayan, Jakarta, Rabu (16/6/2021).

Jenderal Sigit menyebut kelima daerah itu ditetapkan sebagai klaster COVID setelah penemuan 103 kasus aktif. Ratusan kasus aktif itu ditemukan setelah melakukan tracing terhadap ribuan orang di wilayah tersebut.

“Dari 1.568 orang yang kami tracing, di 5 klaster tersebut, terdapat 103 orang kasus aktif di 5 klaster dan saat ini terus terjadi peningkatan,” ucapnya.

Jenderal Sigit pun memastikan pihak Kepolisian kini telah melakukan penebalan terkait penerapan PPKM mikro di 5 klaster COVID-19 tersebut. Dia memastikan pencegahan 5M dan 3T juga terus dioptimalkan.

“Kami melakukan pola, yaitu dengan melakukan penguatan dan penebalan PPKM mikro untuk mencegah penyebaran COVID dengan optimalkan 5M, mulai dari edukasi, pembagian masker, operasi yustisi, penyemprotan disinfektan, dan meniadakan kegiatan masyarakat untuk menghindari kerumunan dan memaksimalkan kegiatan 3T, mulai dari sistem pendataan dan pelaporan tamu dengan one gate system, peningkatan rasio lacak kita terhadap 10 rumah dan 10 yang laksanakan kontak erat, memberikan imbauan dengan melibatkan tokoh-tokoh agama, meningkatkan kegiatan testing, dan juga termasuk mempersiapkan dan menambah tenaga kesehatan,” jelasnya.

Tak hanya itu, Jenderal Sigit mengungkap beberapa zona merah di DKI Jakarta juga kini menjadi perhatian Polri lantaran maraknya interaksi antara pasien OTG dengan masyarakat yang sehat. Dia memastikan Polri mengambil sikap terkait itu dengan melakukan micro-lockdown di sejumlah wilayah.

“Beberapa daerah di zona merah yang jadi epicentrum tentu jadi perhatian kami karena memang masih banyak masyarakat OTG yang berinteraksi dengan masyarakat yang sehat, sehingga tentunya ini mengakibatkan proses penyebaran COVID-19 menjadi lebih cepat karena ditemukan ada beberapa varian baru dari India yang memiliki ciri penularan lebih cepat. Karena itu di zona-zona merah itu kami melakukan micro-lockdown” ujarnya. (rls)

Kapolri: 217 Tersangka Teroris Ditangkap Dalam 5 Bulan

0
(Foto: Doc. Divisi Humas Polri)

JAKARTA, JAGAINDONESIA.COM – Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo mengungkap keberhasilan Polri menancap ratus terduga teroris dalam kurun waktu lima bulan. Total 217 tersangka teroris diamankan.

“Kemudian terkait tindak pidana teroris, beberapa waktu yang lalu, telah terjadi pengeboman bunuh diri di Gereja Katedral (Makassar), dari peristiwa tersebut bergerak cepat melakukan penegakan hukum terhadap 108 tersangka yang kami amankan di 8 provinsi yang kemudian terafiliasi dengan kelompok tersebut,” kata Jenderal Sigit dalam rapat Komisi III, di kompleks gedung MPR/DPR, Senayan, Jakarta, Rabu (16/6/2021).

“Sehingga selama Januari sampai dengan Mei, kita telah amankan 217 tersangka, 209 dalam proses penyidikan, dan 8 tersangka dilakukan tindakan tegas terukur,” imbuhnya.

Selain tindakan hukum, Kapolri Jenderal Sigit menyebut Polri melakukan pendekatan lembut. Jajaran Polri melakukan kerja sama dengan ormas keagamaan, dari tingkat pusat hingga daerah.

“Dalam menanggulangi tindakan pidana, tentunya selain tindakan hukum secara keras, kami juga mengendapkan langkah-langkah soft approach untuk menangkap pemahaman tentang bahaya intoleransi dan radikalisme yang telah masuk ke semua lini, termasuk juga ke dunia pendidikan. Pengarusutamaan moderasi beragama harus dikedepankan dengan membangun kerja sama dengan seluruh ormas-ormas di seluruh Indonesia khususnya ormas-ormas keagamaan dan bekerja sama dengan seluruh pemangku kepentingan untuk melakukan penguatan,” ujar Kapolri.

“Oleh karena itu, beberapa waktu yang lalu, kami melaksanakan kunjungan ke beberapa organisasi keagamaan yang pada saat kami melaksanakan kunjungan, itu pun kami laksanakan juga kegiatan virtual meeting yang diikuti oleh para Kapolda, sehingga pada saat bertemu dengan para pengurus pusat, maka para Kapolda bertemu dengan pengurus di tingkat daerah, dan para Kapolres bertemu dengan para pengurus di tingkat cabang,” sambung dia.

Terhadap para napi teroris atau napiter, dilakukan edukasi kembali soal melalui sejumlah program. Diharapkan, kata Kapolri, cara pandangan para napiter ini berubah.

“Kita juga melakukan kegiatan re-edukasi membuka ruang dengan napiter untuk ikut aktif di dalam program-program dan merubah cara berpikir atau mindset untuk bisa kembali mendukung NKRI,” imbuhnya. (rls)

Polri Tangkap 3.283 Preman-Pelaku Pungli Selama 4 Hari

0
Kabag Penum Divisi Humas Polri Kombes Ahmad Ramadhan. (Foto: Doc. Divisi Humas Polri)

JAKARTA, JAGAINDONESIA.COM – Polri langsung melakukan penangkapan massal terhadap para pelaku premanisme sebagaimana arahan dari Presiden Joko Widodo (Jokowi). Dalam rentang waktu 11-14 Juni 2021, Polri menangkap 3.283 preman dan pelaku pungli di 1.368 titik.

“Berdasarkan data yang dihimpun dari hasil operasi premanisme dan pungli dari tanggal 11 sampai dengan 14 Juni 2021 yang dilakukan di 1.368 titik lokasi, terdapat 6 Polda dengan jumlah pelaku yang ditangkap terbanyak,” ujar Kabag Penum Divisi Humas Polri Kombes Ahmad Ramadhan di Mabes Polri, Rabu (16/6/2021).

Kombes Ramadhan menyebut pelaku premanisme paling banyak ditindak di Polda Jawa Tengah (Jateng). Polda Jateng menangkap 922 orang, dengan empat di antaranya dilakukan penyidikan.

“Polda Jateng sebanyak 922 orang. Premanisme 449 orang (4 sidik dan 439 pembinaan). Pungli 473 orang seluruhnya dilakukan pembinaan,” katanya.

Kemudian, penangkapan pelaku premanisme terbanyak disusul oleh Polda Jawa Barat (Jabar) yang menangkap 894 orang. Setelahnya, ada Polda Sumatera Utara (Sumut) dengan total 696 orang ditangkap.

“Polda Jabar sebanyak 894 orang. Premanisme 348 orang (168 sidik dan 180 pembinaan). Pungli 546 orang (92 sidik dan 454 pembinaan),” tutur Kombes Ramadhan.

“Polda Sumut sebanyak 696 orang. Premanisme 20 orang (8 sidik dan 12 pembinaan). Pungli 676 orang (20 sidik dan 656 pembinaan),” sambungnya.

Lebih lanjut, kata Kombes Ramadhan, Polda Banten menindak 643 pelaku premanisme. Namun semua pelaku itu hanya dilakukan pembinaan, tidak ada yang masuk ke proses penyidikan.

Selain itu, Polda Jawa Timur (Jatim) menangkap 386 orang. Sementara Polda Metro Jaya menangkap 282 orang.

“Polda Jatim sebanyak 386 orang. Premanisme 210 orang (73 sidik dan 137 pembinaan). Pungli 176 orang (28 sidik dan 148 pembinaan),” terang Kombes Ramadhan.

“PMJ sebanyak 282 orang. Premanisme 137 orang (13 sidik dan 124 pembinaan) Pungli 145 orang (16 sidik dan 129 pembinaan),” lanjutnya. (rls)

Berita Terbaru