Minggu, 18 Oktober 2026
No menu items!
Beranda blog Halaman 223

Rencana KBM Tatap Muka, Nono Sampono: Perlu Kajian dan Analisa Cermat

0
Wakil Ketua DPD RI, Dr. Nono Sampono, S.Pi., M.Si.

Rencana pembukaan sekolah dan kegiatan belajar mengajar (KBM) tatap muka pada Juli 2021 mendatang masih menimbulkan kekhawatiran banyak pihak, pasalnya hingga saat ini kasus paparan virus Covid-19 di beberapa wilayah masih tinggi. Wakil Ketua DPD RI Nono Sampono mengusulkan agar Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan serta pemerintah daerah untuk tidak tergesa-gesa dalam menerapkan KBM tatap muka di sekolah pada Juli 2021.

“Perlu dilakukan kajian dan analisa cermat sebelum memutuskan pelaksanaan kegiatan belajar mengajar secara tatap muka, pemerintah serta pihak terkait harus terus memantau kondisi Covid-19 di seluruh wilayah,” ungkap Nono Sampono.
 
Untuk itu, imbuh Nono, kebijakan yang dikeluarkan oleh Kemendikbud tidak bisa disamaratakan di seluruh daerah. Pasalnya, kondisi serta kesiapan di masing-masing daerah berbeda.
 
“Keputusan harus mempertimbangkan pendapat dari semua pihak yang terlibat (kepala sekolah, komite hingga orang tua). Walaupun proses vaksinasi guru sudah berjalan, perlu dipertimbangkan pula vaksinasi untuk anak-anak atau siswa sekolah,” pungkas Mantan Kabasarnas tersebut.
 
Menurut Nono Sampono, keselamatan dan kesehatan anak-anak harus menjadi prioritas utama. Tak lupa pula monitoring dan evaluasi guna menjaga keamanan masyarakat.
 
Sebelumnya, Pemerintah tengah mempersiapkan sekolah tatap muka bisa kembali dibuka pada Juli 2021, mendatang. Keputusan ini dilakukan setelah 5,5 juta guru dan dosen selesai divaksinasi virus corona (COVID-19) pada akhir Juni 2021, nanti.

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Anwar Makarim mengatakan, pemerintah berharap usai vaksinasi tenaga pengajar, sekolah bisa kembali dibuka dengan menerapkan protokol kesehatan secara ketat. Sebab, sudah lama siswa tidak belajar tatap muka di sekolah.
 
“Kami ingin memastikan kalau kita bisa menyelesaikan vaksinasi sampai akhir Juni, sehingga Juli sudah bisa melakukan proses tatap muka di sekolah,” ujar Nadiem usai mendampingi Presiden Joko Widodo (Jokowi) meninjau proses vaksinasi massal COVID-19 di SMA 70 Bulungan, Jakarta, Rabu (24/2/2021). (rls)

Bentuk Konsorsium Diaspora Lintas Disiplin Ilmu, RI-UK Sepakat Rekatkan Kerja Sama Riset dan Inovasi

0
kerja sama riset dan inovasi RI-UK yang ditandatangani pada 25 Februari 2021

Indonesia dan Inggris rekatkan kerja sama riset dan inovasi melalui penandatanganan kesepakatan pembentukan UK-Indonesia Consortium for Interdisciplinary Sciences (UKICIS) atau Konsorsium RI-Inggris untuk Lintas Disiplin Ilmu Pengetahuan. Menristek RI Bambang Brodjonegoro dan Menteri urusan Asia Kemlu Inggris Nigel Adams MP menyaksikan penandatanganan kesepakatan yang dilaksanakan secara virtual hari ini (25/02).

Pimpinan dari 6 universitas pendiri UKICIS dari Inggris dan Indonesia yang melakukan penandatangan secara virtual adalah Prof. Christine Ennew (Rektor University of Warwick, Inggris), Prof. Reini Wirahadikusumah (Rektor ITB), Prof. Richard Dashwood (Wakil Rektor Coventry University, Inggris), Prof. Arif Satria (Rektor, Universitas IPB), Prof. Dame Jessica Corner, Wakil Rektor, University of Nottingham, Inggris) dan Prof. Panut Mulyono (Rektor UGM).

Menteri Bambang menyampaikan UKICIS merupakan terobosan baru kerja sama riset dan inovasi RI-UK yang didorong oleh para diaspora Indonesia. Kerja sama ini diharapkan terus mendorong MoU Riset dan Inovasi RI-Inggris dan upaya memajukan program Prioritas Riset Nasional Indonesia. Ditegaskan bahwa pada Januari 2021 yang lalu, melalui Forum Discussion Group, UKICIS, Kemenristek dan KBRI London telah merancang dukungan para diaspora Indonesia di Inggris bagi Prioritas Riset Nasional di bidang kendaraan listrik, energi terbarukan, kecerdasan artifisial dan science diplomacy.

Duta Besar RI London Desra Percaya menyampaikan pendirian UKICIS merupakan wujud dukungan para diaspora Indonesia di Inggris dalam diplomasi dan turut berkontribusi bagi bangsa, khususnya di bidang riset. Kerja sama yang tertuang dalam kesepakatan meliputi sumbangsih pengetahuan dari para ilmuwan bagi tantangan yang dihadapi masyarakat kedua negara, penguatan engagement dengan masyarakat melalui pendidikan, ekonomi dan sosial budaya, saling tukar kemajuan dalam ilmu pengetahuan antar kedua negara, dan meningkatkan impak riset bagi masyarakat.

Menteri Nigel Adams MP dan UK Chief International Envoy Prof. Carole Mundell pada kesempatan tersebut sepakat menggunakan momentum pembentukan UKICIS untuk lebih mempererat kerja sama riset dan inovasi demi kemajuan bersama dan mengatasi berbagai tantangan ke depan, termasuk pandemi Covid-19. Duta Besar Inggris di Jakarta Owen Jenkins juga hadir dalam pertemuan tersebut menyampaikan sambutan mengenai berbagai perkembangan kemajuan kerja sama riset dan inovasi RI-UK.

Koordinator UKICIS, Dr. Bagus Muljadi menyampaikan laporan kemajuan bahwa UKICIS dibentuk melalui upaya bersama oleh universitas terkemuka di Indonesia dan Inggris yang dimotori oleh diaspora ilmuwan Indonesia di Inggris. Diaspora Indonesia memiliki peran penting dalam memperkuat kerja sama bilateral RI-Inggris khususnya melalui science diplomacy. UKICIS merupakan wujud softpower diaspora dan diharapkan mendorong pertukaran pengetahuan antara kedua negara, potensinya perlu ditumbuhkan untuk turut berkontribusi terhadap tantangan di tanah air, termasuk dalam mencapai ketahanan Kesehatan.

Untuk itulah, acara penandatanganan kesekapatan pembentukan UKICIS dilanjutkan dengan dengan diskusi para pakar mengenai upaya penguatan ketahanan kesehatan global. Diskusi membahas pentingnya kesadaran public mengenai mutasi dan varian baru Covid-19, penguatan kebijakan track and trace untuk mencegah penyebaran varian baru dan efikasi vaccine booster melawan varian baru.

Para pakar yang hadir adalah Prof. Ali Ghufron Mukti (Presdir BPJS / Ketua Konsorsium Riset dan Inovasi Covid-19), Prof. Dame Jessica Corner (Wakil Rektor bidang riset dan pertukaran ilmu, University of Nottingham), Prof. Dr. Eng. Kuwat Triyana, M.Si (Ketua Tim Pengembangan GeNose, UGM), Prof. Lawrence Young (pakar Molecular Oncology , University of Warwick) dan dimoderatori Ines I Atmosukarto, Ph.D (Australian National University). (**)

Kapolri Minta Babinsa Terus Jaga Kondusifitas Papua

0
Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo saat melakukan kunjungan kerja (kunker) ke Papua pada Jum'at (26/2/2021)

Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto dan Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo melakukan kunjungan kerja (kunker) ke Papua. Dalam kesempatan itu keduanya memberikan pengarahan kepada personel Babinsa dan Bhabinkamtibmas.

Dalam arahannya, Kapolri memberikan apresiasi atas kerja keras dari Babinsa dan Bhabinkamtibmas yang telah maksimal dalam menjaga Kondusifitas di Tanah Cenderawasih.

Oleh sebab itu, Sigit berharap seluruh personel Babinsa dan Bhabinkamtibmas untuk terus menjaga situasi keamanan dan ketertiban masyarakat (kamtibmas) di Papua. Tak hanya itu, Kapolri juga meminta agar mengawal keberlangsungan program vaksinasi Covid-19 dapat berjalan dengan tertib dan aman.

“Berharap selalu kuat dan sehat mengingat situasi yang dihadapi pandemi Covid-19 melanda di seluruh wilayah dan program yang lain seperti vaksinasi dan perbatasan,” kata Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo dalam pengarahannya di Papua, Jumat (26/2/2021).

Sejauh ini, kata Kapolri, Papua sudah dalam keadaan kondusif. Menurutnya, hal itu tak lepas dari soliditas dan sinergitas TNI-Polri.

“Sinergitas dan soliditas menjadi prioritas, faktanya di Papua sudah luar biasa,” ujar eks Kabareskrim Polri itu.

Disisi lain, Kapolri menyebut, peran Babinsa dan Bhabinkamtibmas juga diperlukan untuk melakukan pemahanan serta edukasi soal adanya wacana soal Revisi Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2001 tentang Otonomi Khusus (Otsus) bagi Provinsi Papua.

“Dinamika kedepan seperti UU Otsus yang akan direvisi untuk mensejahterakan rakyat Papua, dana Otsus dinaikkan. Teman-teman agar membantu dalam mensosialisasikan dan mengawasi dana Otsus tersebut, untuk percepatan peningkatan kesejahteraan,” papar Kapolri.

Terakhir, Kapolri juga memberikan pengarahan soal melakukan pengamanan tentang pelaksanaan Pekan Olahraga Nasional (PON) yang rencananya di gelar di Papua.

“Rencana ada PON dan kebijakan pemekaran yang semuanya untuk kesejahteraan masyarakat,” tutup Kapolri. (rls)

Senator Filep Desak Presiden Cabut Izin Investasi Miras di Papua

0
gambar ilustrasi miras

Senator Papua Barat, Filep Wamafma mendesak Presiden Joko Widodo untuk mencabut perizinan investasi untuk industri minuman keras (miras) di Provinsi Papua. Anggota Komite I DPD RI asal Papua Barat tersebut meminta Presiden untuk dapat mempertimbangkan kembali pengaturan perizinan investasi miras terutama di Papua yang telah ditekennya pada awal februari lalu.

“Kami minta presiden mencabut kebijakan investasi minuman keras di Papua,” tegas Filep Wamafma kepada JAGA INDONESIA pada Jumat (26/2).

Diketahui Presiden Joko Widodo telah mengatur perizinan investasi bagi industri miras di Papua, Bali, Nusa Tenggara Timur dan Sulawesi Utara. Hal tersebut tertuang dalam Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 10 Tahun 2021 tentang Bidang Usaha Penanaman Modal yang diteken kepala negara pada 2 Februari 2021.

Perpres tersebut merupakan aturan turunan dari Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2020 tentang Cipta Kerja. Berdasar pada Perpres itu industri miras dapat memperoleh investasi dari berbagai sumber baik investor asing maupun investor domestik. Selain itu, dengan izin tersebut koperasi hingga UMKM juga dapat menyuntikkan investasi kepada industri miras.

Senator Papua Barat, Dr. Filep Wamafma, SH.,M.Hum

Lebih lanjut, Filep Wamafma menyampaikan bahwa dengan ditekennya Perpres tersebut menunjukkan bahwa pemerintahan Presiden Jokowi tidak konsisten untuk menyelesaikan persoalan yang ada di Papua. Menurutnya, tingginya tindak kejahatan di Papua juga disebabkan adanya konsumsi minuman keras.

“Soal perizinan miras yang dilakukan oleh pemerintahan Jokowi menunjukkan bahwa pemerintah tidak konsisten dalam menyelesaikan persoalan di Papua. Persoalan hari ini di Papua juga tidak hanya persoalan politik tetapi pelanggaran-pelanggaran hukum dan kriminal juga diakibatkan oleh minuman beralkohol,” terang Filep.

Keluarnya Perpres tersebut mengundang pertanyaan besar Filep Wamafma terkait komitmen pemerintah khususnya Presiden Joko Widodo dalam membangun Papua. Ia menambahkan keputusan Presiden Jokowi juga bertentangan dengan kebijakan pemerintah daerah dan para tokoh agama di Tanah Papua.

“Sebagai Senator kita mempertanyakan sejauh mana komitmen Pemerintah dalam menyelesaikan persoalan di Papua apabila pemerintah kemudian mengizinkan minuman beralkohol itu dipasok ke Papua, apa artinya pemerintah daerah dan tokoh agama, tokoh gereja selalu menginginkan bahwa miras itu menjadi haram di Papua atau setidaknya tidak diizinkan di Papua,” jelas Filep.

Sebaliknya, Filep menyampaikan bahwa pemerintah seyogyanya mengeluarkan kebijakan yang sejalan dan mendukung kebijakan pemerintah daerah dalam komitmen bersama untuk Papua yang lebih baik. Kebijakan terkait perizinan miras di Papua justru mengindikasikan tidak konsistennya niat baik pemerintah.

“Beberapa daerah yang sudah mengeluarkan peraturan daerah tentang larangan minuman beralkohol, sementara pemerintah pusat gencar memasok miras ke Papua. Saya melihat bahwa presiden Jokowi dan pemerintahannya tidak memiliki niat baik dalam rangka membangun Papua yang lebih baik, Papua yang damai dan Papua yang sejahtera tetapi justru sebaliknya mengeluarkan kebijakan pendistribusian minuman beralkohol,” terangnya.

Lebih dalam, Filep mempertanyakan dampak investasi yang diputuskan oleh pemerintah. Investasi tersebut diharapkan dapat berdampak positif terhadap perekonomian masyarakat. Akan tetapi di sisi lain dengan adanya investasi pada industri miras justru akan berdampak pada meningkatnya kriminalitas di Papua.

Filep berharap Presiden Jokowi mengingat tanggung jawab politiknya kepada rakyat Papua. Ia menuturkan bahwa hampir 95 persen rakyat Papua telah memberikan hak suaranya kepada Joko Widodo pada Pilpres tahun 2019 lalu.

“Presiden Jokowi setidaknya memiliki tanggung jawab politik  kepada rakyat Papua dengan pemilihan presiden lalu bahwa hampir 95 persen rakyat Papua memberikan hak suaranya kepada beliau. Oleh karena itu, beliau harusnya berpikir tidak hanya sesaat tapi terhadap hal-hal yang akan datang. Sekali lagi saya meminta Presiden Jokowi untuk mencabut izin investasi minuman beralkohol di Tanah Papua,” pungkasnya. (UWR)

Berita Terbaru