Rabu, 21 Oktober 2026
No menu items!
Beranda blog Halaman 88

Jadi Pembicara Temu Raya, Filep Wamafma Ajak Anggota PAM GKI se-Papua Jadi Pribadi Tangguh dan Berdikari

0
Dr. Filep Wamafma bersama Mamberop Y Rumakiek menjadi pembicara dalam Temu Raya PAM ke IV GKI se-Papua di gedung GKI Sion Sibena, Klasis kabupaten Teluk Bintuni, Papua Barat, Selasa (18/7/2023).

BINTUNI, JAGAINDONESIA.COM – Anggota DPD RI Dr. Filep Wamafma menjadi pembicara dalam Temu Raya Persekutuan Anak Muda (PAM) ke IV GKI se-Papua yang berlangsung di gedung GKI Sion Sibena, Klasis kabupaten Teluk Bintuni, Papua Barat, Selasa (18/7/2023).

Dalam paparannya, Filep menekankan pentingnya generasi muda Papua menjadi generasi yang tangguh, berkarakter dan berdikari. Senator Papua Barat ini menyampaikan sangat banyak putra-putri Papua yang kini sukses meraih cita-cita sehingga menjadi mandiri dan berkontribusi bagi masyarakat Papua.

“Kita sebagai generasi Papua, terutama adik-adik kaum muda harus tangguh, berani melangkah untuk kemajuan diri, keluarga dan masyarakat. Kita tidak boleh mudah menyerah, karena jati diri anak muda Papua yang tumbuh dalam GKI adalah kuat dan berbudaya, maka harus siap berkompetisi di segala bidang agar memanfaatkan peluang untuk bisa memberikan kontribusi bagi tanah Papua,” ujar Filep.

Menurutnya, salah satu kunci untuk sukses meraih masa depan yang gemilang adalah melalui pendidikan. Filep pun menceritakan masa-masa perjuangannya saat menhadapi kesulitan hidup lantaran keterbatasan finansial terutama saat hendak melanjutkan pendidikan tinggi.

Saat itu, dirinya tetap bertahan, tidak putus asa dan terus berjuang hingga akhirnya mampu menyelesaikan studi Strata Satunya. Selanjutnya, perjuangan yang tidak mudah dan diperlukan keteguhan serta semangat yang tinggi mengantarkan dirinya menyelesaikan pendidikan hingga bergelar doktor dan saat ini menduduki jabatan pimpinan Komite I DPD RI.

“Pendidikan itu sangat penting, terutama untuk mencetak SDM unggul. Contoh kalau sudah tamat SMA/SMK, maka harus melanjutkan pendidikan ke jenjang sarjana. Sebab apabila sumber daya manusia (SDM) Papua tidak berkembang, maka berbagai peluang yang ada akan diambil orang lain,” pesan Filep.

Diskusi itu pun berlangsung interaktif dan salah seorang peserta Temu Raya bertanya kepada Filep Wamafma tentang bagaimana pemuda GKI akan maju tanpa mendapat modal. Termasuk dibenturkan dengan berbagai aturan ketika mengajukan bantuan kepada pemerintah.

Menanggapi hal itu, Filep mengatakan bahwa sebagai anak muda GKI harus berani membuka peluang sendiri, mengenali potensi diri, peka dengan situasi lingkungan sekitar, menangkap ide untuk berkreasi dengan memanfaatkan potensi diri yang dimiliki dan potensi SDA di Papua.

“Saya berharap pemuda GKI SE Tanah Papua lewat kegiatan ini harus lebih percaya diri, mengenali potensi diri dan terus berjuang untuk menjadi pemuda yang bertanggung jawab tidak hanya kepada gereja, tapi masa depan tanah Papua di berbagai sektor kehidupan,” tambah Filep.

Bersama Filep Wamafma, Mamberob Yosephus Rumakiek S.Si., M.Kesos juga menjadi pembicara dalam diskusi temu raya PAM GKI tersebut. Para pembicara juga memotivasi pemuda GKI di tanah Papua untuk tetap menjaga kebersamaan untuk gereja dan kepedulian terhadap tanah kelahirannya termasuk mendiskusikan persoalan tentang Otsus agar berdampak efektif bagi kesejahteraan masyarakat Papua. (WRP)

Warga di Bintuni Ini Kagumi Perhatian Filep Wamafma Saat Perbaiki Mahkota Ketua Sinode GKI Tanah Papua   

0

BINTUNI, JAGAINDONESIA.COM – Senator Filep Wamafma menghadiri acara pembukaan temu raya PAM GKI se-Tanah Papua yang ke-IV di kabupaten Teluk Bintuni, Provinsi Papua Barat, Selasa (18/7/2023). Senator Filep bertolak dari Steenkool Hotel Bintuni ke lokasi acara pembukaan di gedung Gereja Sion Sibena, Teluk Bintuni.

Pantauan media ini, saat berada di lobi hotel Steenkool, Filep nampak disambut oleh para tokoh agama dan berbincang hangat. Adapun lokasi Gereja Sion Sibena berjarak cukup dekat dari hotel ini.

Selain itu, nampak pula para tamu lainnya yakni Kepala Suku Besar Arfak Dominggus Mandacan, Ketua Sinode GKI tanah Papua Pdt. Andrikus Mofu, M.Th, Bupati Teluk Bintuni, Petrus Kasihiw dan Wakil Bupati Matret Kokop, Pj gubernur Papua Barat diwakili Kepala Biro Pemerintahan A. Rumbino beserta tokoh GKI, Klasis Teluk Bintuni.

Filep yang menumpangi kendaraan pribadinya bergerak menuju tempat kegiatan. Saat tiba di depan gereja, Filep bersama rombongan lantas disambut dengan prosesi adat lengkap dengan tarian adat dari 7 wilayah adat di tanah Papua.

Saat penyambutan, Filep Wamafma nampak memperhatikan prosesi adat ini. Dirinya bahkan nampak memperbaiki ikat kepala atau mahkota salah seorang tokoh di sampingnya saat pengalungan mahkota dan noken adat. Sikap Filep ini sontak terlihat menyita perhatian masyarakat di lokasi acara.

“Bapak Filep nampak perhatian sekali saat prosesi adat berlangsung. Bahkan beliau sempat memperbaiki mahkota salah seorang tokoh, ketua sinode GKI saat penyambutan adat. Hal itu membuat kami tertegun, berarti beliau memiliki perhatian yang tulus kepada sesama putra adat Papua,” ujar salah seorang warga di lokasi penyambutan.

“Sikap bapak Filep ini memberikan teladan dan budaya yang baik bagi masyarakat dan generasi muda khususnya, untuk memperhatikan adat dan budaya kita, peduli dengan sesama dan saling berkasih sayang, termasuk hal sederhana seperti memperbaiki perekat ikat kepala,” sambungnya. (MW)

Senator Filep Disambut Adat Papua Saat Hadiri Undangan Temu Raya PAM GKI se-Tanah Papua di Bintuni

0

BINTUNI, JAGAINDONESIA.COM – Senator Papua Barat Dr. Filep Wamafma menghadiri undangan pembukaan temu raya PAM GKI se-Tanah Papua yang ke-IV tahun 2023 hari ini, Selasa (18/7/2023). Acara ini bertempat di gedung Gereja Sion Sibena, Kabupaten Teluk Bintuni, Provinsi Papua Barat.

Senator Filep hadir bersama dengan Kepala Suku Besar Arfak Dominggus Mandacan, Ketua Sinode GKI tanah Papua Pdt. Andrikus Mofu, M.Th, Bupati Teluk Bintuni, Petrus Kasihiw dan Wakil Bupati Matret Kokop, Pj gubernur Papua Barat diwakili Kepala Biro Pemerintahan A. Rumbino beserta tokoh GKI, Klasis Teluk Bintuni, pemuda dan para peserta temu raya.

Dalam kesempatan itu, Filep Wamafma menyampaikan apresiasi atas proses penyambutan adat Papua oleh panitia dan tuan rumah Teluk Bintuni. Penyambutan yang berlangsung di halaman gedung GKI Sion Sibena, Klasis Teluk Bintuni itu berlangsung khidmat.

Tak hanya itu, Rombongan tamu undangan juga disambut dengan tarian adat Papua yang dikolaborasikan sesuai dengan tujuh wilayah adat yang ada di tanah Papua.

“Antara adat dan gereja tidak bisa dipisahkan dalam aktivitas kehidupan kita hari lepas hari. Sebab adat Papua harus dihargai, maka sebagai anak Tuhan turut menyampaikan selamat dan sukses atas pembukaan temu raya PAM GKI se-Tanah Papua saat ini,” ungkap Filep Wamafma.

Selain menghadiri pembukaan temu raya, Dr. Filep Wamafma juga akan memberikan materi pada agenda temu raya PAM GKI tersebut. Filep turut memberikan perpuluhan kepada panitia dalam bentuk sumbangan baju sebanyak 500 pcs sebagai bentuk kepedulian kepada PAM GKI di tanah Papua, yang saat ini berkumpul dan melaksanakan pertemuan akbar di Bintuni. (WRP)

Smelter Freeport Hingga Pabrik Pupuk Baru Berkapasitas 1,15 Juta Ton Per Tahun Bakal Dibangun di Fakfak

0
Ilustrasi, Pabrik pupuk PKT. [Foto: PT Pupuk Kaltim]

PAPUA BARAT, JAGAINDONESIA.COM – Kunjungan kerja Wakil Presiden Ma’ruf Amin ke Provinsi Papua Barat membawa kabar rencana pembangunan sektor perekonomian ke Kabupaten Fakfak. Diantaranya, Wapres menyebut PT Freeport Indonesia (PTFI) bakal membangun fasilitas pemurnian dan pengolahan (smelter) di Kabupaten Fakfak ini.

“Nanti juga direncanakan akan membangun smelter dari Freeport, itu dibangun smelter rencananya di Fakfak ini,” kata Ma’ruf saat kunjungan kerja ke Fakfak, Papua Barat, Jumat (14/7/2023).

Pernyataan orang nomor dua di negara ini lantas diamini oleh Menteri Investasi/Kepala BKPM Bahlil Lahadalia yang mendampinginya. Menurut Bahlill rencana pembangunan smelter itu sedang dalam tahap pengkajian, diantaranya perihal studi kelayakan terkait bakal lokasi smelter.

Bahlil menyebut, rencana pembangunan smelter ini merupakan langkah konkrit bagian dari komitmen perpajangan kontrak penambangan Freeport.

“Ke depan, insyaallah tolong doakan, Freeport akan membangun smelter di Papua sebagai bentuk dari komitmen perpanjangan (masa kontrak penambangan) dan rencananya akan dibangun di Fakfak. Lokasinya sedang menunggu studi kelayakan (feasibility study/FS),” kata Bahlil.

Sebelumnya, Bahlil menyampaikan pembangunan smelter di Papua merupakan bagian dari syarat yang diajukan kepada Freeport untuk memperpanjang kontraknya sekaligus sebagai bentuk keadilan. Tak hanya itu, terdapat syarat lain yang diajukan yakni penambahan saham negara di PTFI sebesar 10 persen sehingga akan menjadi 61 persen.

Dalam kunjungan ke Fakfak itu, Wapres didampingi Menteri Investasi/Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Bahlil Lahadalia, hadir langsung di kawasan industri Fakfak untuk meninjau area yang akan menjadi lokasi pembangunan pabrik baru PT Pupuk Kalimantan Timur (PKT).

Adapun PKT menyatakan akan segera memulai proyek pembangunan pabrik pupuk baru di kawasan industri Fakfak dengan nilai investasi tembus hingga US$ 1 miliar atau setara Rp 15 triliun (kurs Rp 15.000/US$).

Atas nilai investasi sebesar itu, PKT memastikan pembangunan proyek strategis nasional (PSN) yakni kawasan industri pupuk di Fakfak ini bakal memiliki kapasitas produksi pupuk urea sebesar 1,15 juta ton per tahun dan 825 ribu ton per tahun untuk amonia.

Melalui keberadaan pabrik pupuk baru ini, Direktur Utama PKT, Rahmad Pribadi berhadap akan mendorong pemberdayaan ekonomi dan meningkatkan kesejahteraan bagi masyarakat sekitar.

“Jika semuanya berjalan dengan lancar, maka pembangunan pabrik ini akan mengantarkan industri pupuk nasional kita menjadi yang terbesar di Asia Pasifik. Ini juga yang menjadi cita-cita PKT sebagai penyokong ketahanan pangan nasional sekaligus mengharumkan nama Indonesia di kancah global,” ujarnya, dalam keterangan tertulis, dikutip Minggu (16/7/2023).

Saat ini, proses pembangunan pabrik PKT memang masih dalam tahap yang sangat awal. Meski begitu, PKT sudah mengamankan beberapa infrastruktur pendukung, salah satunya untuk pasokan gas yang sudah dipastikan akan didapat dari Genting Oil Kasuri Pte.Ltd (GOKPL).

Sumber gas yang dipasok untuk proyek pembangunan ini akan diambil dari Lapangan Asap, Merah dan Kido (AMK) di Kasuri, Papua Barat.

“Dengan beroperasinya pabrik baru ini nanti, PKT siap mendukung ketahanan pangan bagi Indonesia dengan penyediaan 4,5 hingga 5 juta ton atau pemenuhan sekitar 70 hingga 80% kebutuhan nasional,” tambahnya.

Dibangunnya pabrik baru ini juga diproyeksikan akan memberi kontribusi positif pada pendapatan negara. Potensi pendapatan negara dari pajak penghasilan perorangan diperkirakan akan mencapai Rp 20 miliar per tahun.

Selain itu, ada juga potensi kontribusi pertumbuhan ekonomi domestik melalui porsi Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) di proyek ini mencapai Rp 10 triliun. Potensi pendapatan daerah pun diprediksikan akan menyumbang hingga Rp 15 miliar per tahun.

“Selama durasi pembangunan proyek, kami memperkirakan penyerapan tenaga kerja ribuan orang saat masa puncak konstruksi dan sebanyak 400 orang saat operasional. Proyek ini pun diharapkan bisa mendorong tumbuhnya bisnis pendukung kawasan. Sebagaimana praktik-praktik pemberdayaan masyarakat yang telah sukses dilakukan di Bontang, PKT berharap bisa melakukan hal serupa di Fakfak,” katanya. (UWR)

Suku Sebyar Sampaikan Aspirasi ke Wapres, 15 Tahun LNG Dieksplorasi Tetap Tak Ada Solusi untuk Kesejahteraan Rakyat

0

BINTUNI, JAGAINDONESIA.COM – Masyarakat adat Suku Besar Sebyar Distrik Weriagar menyampaikan aspirasi tertulis kepada Wakil Presiden (Wapres) Ma’ruf Amin bahwa sudah 15 tahun lamanya LNG dieksplorasi, namun tidak ada solusi bagi kesejahteraan masyarakat setempat.

Dalam dokumen tertulis yang diterima, masyarakat Suku Sebyar menyampaikan kesulitan yang dialami selama ini hidup di bawah garis kemiskinan. Berbagai persoalan disampaikan mulai dari kesulitan air bersih hingga masalah pendidikan.

“Dengan kerendahan hati, pada kesempatan ini kami ingin menyampaikan kondisi kami di sekitar daerah industri yang sangat memprihatinkan. Hampir 15 tahun Sumber Daya Alam kami (LNG) dijual, namun sampai saat hari ini kami tetap masih hidup di bawah garis kemiskinan,” bunyi penggalan pernyataan aspirasi tersebut, dikutip Sabtu (15/7/2023).

Masyarakat Sebyar yang hidup dekat dengan LNG Tangguh masih mengalami kesulitan air bersih, listrik, rumah yang tidak layak huni, SDM yang menganggur, dan kemiskinan ekstrem.

“Bapak Wakil Presiden yang kami hormati, saat ini kami sedang bersedih dan jika kami harus menangis, maka kami akan menangis di depan bapak Wakil Presiden untuk menyampaikan isi hati kami tentang kondisi hari ini dengan Tingkat Pengangguran yang Sangat Tinggi, Kesulitan Air Bersih, Listrik yang Sangat Sulit Kami dapatkan untuk kebutuhan anak-anak sekolah belajar, rumah yang tidak layak huni, rendahnya sumber daya manusia dan masih banyak lagi,” sebutnya.

“Kami sebagai indikator kesejahteraan di Provinsi Papua Barat, jika kami saja yang mempunyai sumber daya alam masih miskin, bagaimana dengan saudara-saudara kami yang lain?” sambungnya.

Suku Sebyar juga mempertanyakan keberadaan Dana Bagi Hasil (DBH) Migas yang dinilai belum berdampak pada kesejahteraan orang asli Papua, terutama masyarakat di daerah penghasil.

“Kami selalu bertanya-tanya tentang dana bagi hasil migas yang diberikan dari Pemerintah Pusat kepada Pemerintah Provinsi Papua Barat dan juga Pemerintah Kabupaten Teluk Bintuni, namun sampai hari ini yang sudah 15 tahun lamanya kami menunggu, tetapi tidak ada sebuah perencanaan yang baik dari Pemerintah Daerah Provinsi Papua Barat maupun Pemerintah Kabupaten Teluk Bintuni untuk memberikan sebuah solusi bagi kami. Sehingga kami mengambil sebuah kesimpulan bahwa Pemerintah Daerah Provinsi Papua Barat dan Pemerintah Kabupaten Teluk Bintuni tidak dapat menggunakan Dana Bagi Hasil (DBH) Migas untuk mensejahterakan Orang Asli Papua, khususnya kami yang ada di daerah penghasil,” katanya.

Lebih lanjut, masyarakat Sebyar menyampaikan ingin menawarkan sebuah solusi yang terbaik kepada Pemerintah Pusat tentang percepatan pembangunan untuk mencapai kesejahteraan dengan konsep maju dan makmur bersama antara pihak Investor dan Masyarakat Pemilik Hak Ulayat. Terlebih Wapres sebagai Ketua Dewan Pengarah Percepatan Pembangunan Kesejahteraan di Provinsi Papua dan Papua Barat.

Di akhir pernyataannya, masyarakat adat Suku Sebyar menyatakan akan melakukan aksi untuk menghentikan aktivitas LNG Tangguh apabila aspirasi ini tidak diperhatikan oleh Wapres.

“Jika aspirasi ini tidak diperhatikan dengan baik oleh Bapak Wakil Presiden, maka kami akan melakukan aksi lautan merah putih untuk menghentikan aktifitas LNG TANGGUH, sampai ada perhatian serius dari Pemerintah Pusat dan Daerah kepada kami Daerah Penghasil,” tutupnya.

Diketahui pernyataan aspirasi tertulis masyarakat adat Suku Sebyar ini ditandatangani oleh para perwakilan Tua-Tua Adat pada 13 Juli 2023, yakni Muhammad Patiran perwakilan Marga Patiran, Timar Gegetu perwakilan Marga Gegetu, Primus Kutanggas perwakilan Marga Kutanggas, Yustinus Hindom perwakilan Marga Hindom.

Nikodemus Bauw perwakilan Marga Bauw, Hendrikus Sorowat perwakilan Marga Sorowat, Barnabas Frabun perwakilan Marga Frabun, Piter Braweri perwakilan Marga Braweri, Hendrikus Sorowat  Ketua LMA Distrik Weriagar dan Waterus Hindom Kepala Suku Distrik Weriagar. (UWR)

Soal Klaim BP Tangguh ke Wapres, Senator Filep: Bapak Wapres Perlu Dengar Langsung dari Masyarakat Terdampak

0
Senator Papua Barat Dr. Filep Wamafma.

PAPUA BARAT, JAGAINDONESIA.COM – Dalam kunjungan Wapres Ma’ruf Amin ke Papua Barat, Jumat (14/7/2023), Kathy Wu, Regional President Asia Pacific, Gas & Low Carbon energy untuk BP Tangguh menyampaikan bahwa BP Tangguh akan terus berinvestasi di Indonesia. Dalam laporan kepada Wapres, BP Tangguh menegaskan komitmennya untuk melaksanakan program pemberdayaan masyarakat Papua melalui bisnis SUBITU, pemberdayaan koperasi lokal, pengembangan perusahaan lokal, pelatihan melalui program pemagangan teknisi Tangguh.

Menurut BP Tangguh, mereka telah menginvestasikan sekitar 600 M untuk program-program sosial termasuk dalam bidang pendidikan, kesehatan, kewirausahaan, dan berbagai program pemberdayaan masyarakat lokal. Perusahaan ini mengklaim telah memberikan beasiswa kepada lebih dari 1.350 pelajar Papua di tingkat SMA dan Universitas. Di bidang tenaga kerja, mereka mengklaim ada 72% pekerja BP Tangguh  berasal dari Papua.

Menanggapi klaim BP Tangguh ini, Senator Papua Barat, Filep Wamafma memberikan tanggapannya. Menurutnya, apa yang diklaim BP seharusnya dicek secara langsung ke lapangan.

“Menurut saya klaim BP Tangguh masih merupakan klaim sepihak, sehingga stakeholder, termasuk bapak Wapres perlu memeriksa secara langsung fakta dan kondisi di lapangan. Dalam advokasi saya di lapangan terhadap masyarakat adat terdampak, orang-orang yang saya temui mengeluhkan persoalan air bersih dimana masyarakat merasakan efeknya,” ungkap Filep, Sabtu (15/7/2023).

“Lalu, faskes yang tidak memadai, disertai akses transportasi dengan kapal kayu swadaya masyarakat, termasuk jembatan yang juga dari swadaya masyarakat, menyebabkan masyarakat kesulitan berobat. Kesaksian dari orang Sebyar, Weriagar, Taroy, juga kesaksian dari Ketua LMA 7 Suku Teluk Bintuni dan Kepala Pemerintahan Adat 7 Suku, membuktikan bahwa masyarakat sekitar dan terdampak oleh operasi BP Tangguh sama sekali tidak diperhatikan”, kata Filep lagi.

Filep pun menilai klaim BP soal jumlah tenaga kerja OAP yang disebut hingga 72 persen perlu diinvestigasi. Menurutnya, klaim itu perlu dipastikan atau divalidasi terkait kebenarannya.

“Benarkah demikian? Di posisi manajerial kah mereka, atau di posisi unskilled labour? Lalu soal klaim pendidikan, dimana mereka semua yang sudah dapat beasiswa itu yang katanya sampai ribuan? Fakta di lapangan, pada tahun 2007, ada Keputusan Masyarakat Kampung Tanah Merah, Kampung Saengga, Dusun Onar Baru, Dusun Onar Lama dengan Pemerintah Daerah terkait Pengelolaan SMP dan Asrama di Tanah Merah. Dalam keputusan tersebut, masyarakat di kampung dan dusun ini meminta Bupati agar mendesak BP Tangguh untuk bertanggungjawab atas biaya operasional dan pengelolaan SMP serta asrama selama Tangguh beroperasi di Bintuni,” katanya.

“Tapi realitanya, hingga kini, tidak ada realisasi yang jelas atas keputusan bersama ini. Temuan kami di lapangan menunjukkan kondisi sekolah yang tidak layak, misalnya lihat bangunan SD YPK Serito. Saya sangat berharap supaya tim Wapres tidak hanya mendengar klaim sepihak itu. Laporan advokasi kami sudah masuk dan bisa dijadikan pembanding untuk investigasi lebih lanjut,” tegas Filep.

Lebih lanjut, Senator Jas Merah ini membantah klaim BP dengan mengangkat aspirasi dari Masyarakat Hukum Adat (MHA) Mbaham Matta, juga pernyataan dari masyarakat adat Suku Sebyar.

“Pada 11 Juli 2023, MHA Mbaham Matta dengan tegas meminta perhatian Pemerintah Pusat untuk diadakannya Dana Abadi yang dikhususkan untuk pemberdayaan MHA. Mereka meminta dikembangkan komoditi unggulan Pala, meminta supaya ada evaluasi terhadap CSR BP Tangguh, sekaligus meminta supaya AMDAL dikaji ulang. Ini keresahan masyarakat. Itu berarti masyarakat belum merasakan dampak CSR BP Tangguh. Otoritas Kultur Mbaham Matta bahkan sudah memberikan permohonan evaluasi terhadap Dampak Proyek LNG Tangguh. Apakah ini artinya distribusi Dana Bagi Hasil yang diklaim sama sekali tidak berdampak pada mereka?” tambah Filep.

“Suku Sebyar bahkan secara tegas menyampaikan aspirasi tertulis kepada Wapres, bahwa sudah 15 tahun lamanya menunggu Dana Bagi Hasil Migas, namun tidak ada solusi. Mereka yang hidup dekat dengan LNG Tangguh masih mengalami kesulitan air bersih, listrik, rumah yang tidak layak huni, SDM yang menganggur, dan tentu saja kemiskinan ekstrem. Kondisi yang mereka alami ini apakah tidak dilihat oleh BP Tangguh yang sudah mengeksplorasi dan mengeksploitasi gas alam di tanah mereka? Maka saya katakan, klaim BP itu berbeda dengan fakta di lapangan,” tegas Filep menambahkan.

Mantan Ketua Pansus Papua DPD RI lantas ini mengkritik BP Tangguh yang tidak melihat kondisi riil ke lapangan.

“Sebagai penyalur aspirasi masyarakat, saya sangat kecewa mengapa BP Tangguh mengklaim tanpa melihat fakta sebenarnya? Ini kan sama saja dengan membohongi publik, asal bapak Wapres senang. Tranparansi mengenai CSR saja tidak terimplementasi. Apalagi kalau bicara tentang Subitu. Subitu Karya Busana mengalami kerugian, Subitu Trans Maritim kapal-kapalnya tidak berfungsi, tidak sesuai spesifikasi,” ujarnya.

“Belum program di bidang ekonomi yang diragukan keberlanjutannya yaitu Peternakan Sapi di SP5, Peternakan Ayam Petelur di SP5, Bengkel Sepeda di Babo, Bengkel mobil di SP4, Pabrik Sauce Tomat, Pabrik Kaleng ikan, Pertanian Padi di SP4, hanya satu kali panen saja yang dirayakan secara besar-besaran bersama Pemda Bintuni, Koperasi Ikan di Arguni, Koperasi Mairy di Tanah Merah, dan Koperasi Saengga. Berkaitan dengan itu, pada Juni 2022 diadakan survey pertanian, di lokasi SP4-Kabupaten Teluk Bintuni, dan ditemukan keluhan petani terkait program pertanian/sawah dari LNG Tangguh yaitu terkait jaminan akan adanya pangsa pasar yaitu LNG Tangguh sendiri. Ternyata berasnya tidak diambil oleh LNG Tangguh dengan alasan kualitas tak memenuhi standar. Puluhan ton beras yang sudah digiling akhirnya rusak di gudang. Apakah semua itu dilaporkan ke Wapres? Saya kira tidak, karena BP Tangguh akan laporkan yang baik-baik saja,” kata Pace Jas Merah ini.

Atas kontradiksi antara klaim BP Tangguh dan temuannya di lapangan, wakil daerah Papua Barat ini meminta dengan hormat kepada Wapres sebagai Ketua BP3OKP agar memeriksa dan mengevaluasi kembali semua klaim BP tersebut untuk disesuaikan dengan AMDAL.

“Selanjutnya, saya meminta jika ada pelanggaran hukum terhadap AMDAL, juga jika ada indikasi ketidaksesuaian penyaluran dan penggunaan Dana Bagi Hasil migas termasuk CSR, maka saya meminta BPK melakukan audit atas uang negara yang hilang. Jika ada kerugian negara di sini, maka KPK silakan masuk,” tegas Filep.

“Apa yang saya lakukan ini merupakan pembelajaran dan pembelaan bagi masyarakat adat yang saya advokasi. Tanah mereka dan kekayaan alam mereka, seharusnya menjadi milik mereka. Mereka sudah ada lebih dulu daripada eksistensi negara. Negara harus melindungi mereka sebagai pemilik tanah Papua,” pungkas Filep.

Masyarakat Adat Mbaham Matta Sampaikan 7 Aspirasi ke Wapres, Dorong Evaluasi CSR BP Tangguh Hingga Kajian AMDAL PSN

0

FAKFAK, JAGAINDONESIA.COM – Masyarakat adat Mbaham Matta di Kabupaten Fakfak wilayah adat Bomberay menyampaikan aspirasi khusus berkaitan dengan agenda kunjungan kerja Wakil Presiden Ma’ruf Amin ke Povinsi Papua Barat.

Dalam rilis dokumen resminya, masyarakat adat Mbaham Matta menyampaikan 7 poin aspirasi pada Selasa, 11 Juli 2023. Sejumlah poin pernyataan aspirasi ini diharapkan dapat didengar dan ditindaklanjuti oleh Wapres Ma’ruf Amin.

“Pada hari ini Selasa tanggal Sebelas bulan Juli tahun Dua Ribu Dua Puluh Tiga, Pukul 16.10 WIT bertempat di Ruang Rapat Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Fakfak, kami atas nama Masyarakat Adat Mbaham Matta di Kabupaten Fakfak Wilayah Adat Bomberay dalam rangka Kunjungan Kerja Yang Mulia Wakil Presiden Republik Indonesia Bapak Prof. Dr. (H.C) K.H. Ma’ruf Amin, dengan ini menyampaikan aspirasi,” demikian bunyi penggalan pernyataan aspirasi, dikutip Sabtu (15/7/2023).

Adapun ketujuh aspirasi Masyarakat adat Mbaham Matta di Kabupaten Fakfak wilayah adat Bomberay tersebut antara lain:

  1. Mendorong pembangunan Papua Culture Center (PCC) dan Penetapan Dilosofi Satu Tungku Tiga Batu sebagai simbol Peradaban di Semenanjung Onin;
  2. Meminta perhatian Pemerintah Pusat dalam bentuk Rekening Dana Abadi yang dikhususkan terhadap Pemberdayaan Masyarakat Adat;
  3. Mendorong penetapan Daerah Otonomi Baru (DOB) Provinsi Papua Barat Tengah sebagai Provinsi dengan status Daerah Istimewa;
  4. Mendorong pengembagan komoditi unggulan Henggi Thomandin (Pala Negeri) dalam bentuk pembangunan pabrik pengolahan pala dengan segala jenis produk turunannya, akses permodalan dan pemasaran;
  5. Mendorong pemanfaatan Sumber Daya Alam (SDA) Migas dan Minerba secara maksimal berpihak pada kesejahteraan masyarakat;
  6. Mendorong evaluasi kebijakan Corporate Social Responsibility (CSR) British Petroleum (BP Tangguh) berkenaan TRAIN 3 – Sumur Gas Ubadari;
  7. Mendorong pengkajian AMDAL Proyek Strategis Nasional (PSN) berdasarkan Permenko Perekonomian Nomor 21 Tahun  2022 di Kabupaten Fakfak yang berpihak pada kepentingan masyarakat adat.

Dokumen pernyataan aspirasi ini ditandatangani oleh 8 orang perwakilan atas nama Masyarakat Adat Mbaham Matta di Kabupaten Fakfak Wilayah Adat Bomberay, yaitu (1) Demianus Tuturop Ketua Dewan Adat; (2) Willy Hegemur Sekretaris LMA.

(3) Atarai Iba Raja Patipi; (4) Hanafi Paus-Paus Raja Arguni; (5) Arif H. Rumagesan Raja Peg Peg Sekar; (6) Taufiq Heru Uswanas Raja Fatagar; (7) Agustinus Kabes dari tokoh masyarakat dan (8) Umar Rifai Heremba Raja Muda Wertuar. (UWR)

Filep: Pendidikan OAP Dijamin Hingga Perguruan Tinggi, Hak PT Pasca Otsus Sudah Direalisasikan Secara Optimal?

0

JAKARTA, JAGAINDONESIA.COM – Senator Papua Barat Dr. Filep Wamafma menekankan pentingnya hak Perguruan Tinggi di Papua dipenuhi pasca lahirnya UU Otsus Perubahan yakni UU Nomor 2 Tahun 2021 tentang Otonomi Khusus (Otsus).

Pasalnya, merujuk pada ketentuan dalam Lampiran PP Nomor 106 Tahun 2021 tentang Kewenangan dan Kelembagaan Pelaksanaan Kebijakan Otonomi Khusus Provinsi Papua disebutkan bahwa dalam hal Manajemen Pendidikan, Pemerintah Provinsi menyediakan pembiayaan pendidikan untuk menjamin setiap OAP memperoleh pendidikan mulai dari PAUD sampai Perguruan Tinggi.

“Terkait mekanisme pendidikan gratis ini seharusnya menjadi domain dari Perguruan Tinggi di tanah Papua. Perguruan Tinggi memiliki hak untuk mengetahui dana alokasi pendidikan gratis, pembiayaan pendidikan dan beasiswa bagi OAP yang diperoleh dari Dana Otsus dan Tambahan Dana Bagi Hasil Migas dalam rangka Otsus. Apakah hak atas informasi ini sudah dipenuhi oleh Pemerintah Daerah?” ujar Filep kepada awak media, Jumat (14/7/2023).

Lebih lanjut, anggota Komite I DPD RI ini menambahkan ketentuan dalam Pasal 12 PP Nomor 106 Tahun 2021. Ketentuan itu antara lain (1) Pemerintah Daerah Provinsi Papua dan Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota dalam penyelenggaraan pendidikan sesuai dengan kewenangannya mengalokasikan anggaran pendidikan sampai dengan jenjang pendidikan tinggi; (2) Pendanaan penyelenggaraan pendidikan yang menjadi kewenangan Pemerintah Daerah Provinsi Papua dan Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota paling sedikit didanai melalui Dana Otsus dan Tambahan DBH Migas Otsus.

“Soal mekanisme pendanaannya, jika mengikuti pasal ini, maka Pemerintah Daerah Provinsi dan Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota seharusnya berkoordinasi dengan Perguruan Tinggi di tanah Papua, untuk merealisasikan pendanaan ini. Ini berarti Perguruan Tinggi berhak mengetahui besaran dana yang dialokasikan melalui Dana Otsus dan Tambahan DBH Migas Otsus untuk penyelenggaraan pendidikan di Perguruan Tinggi di tanah Papua,” jelasnya.

Filep mengatakan, dalam hal tenaga pendidik dan kependidikan, Pemerintah Provinsi berwenang mengajukan formasi pendidik, mengembangkan karir mereka, meningkatkan mutunya dan menjamin kesejahteraannya.

“Semua itu bisa dilakukan jika Pemerintah Provinsi bekerja sama dengan Perguruan Tinggi, untuk mengalokasikan dana sedemikian rupa bagi pelaksanaan semua kewenangan tersebut. Perguruan Tinggi memiliki hak untuk mengusulkan hal-hal terkait pendidik dan tenaga kependidikan kepada Pemerintah Provinsi agar dianggarkan dalam pembiayaan melalui Dana Otsus dan Tambahan Dana Bagi Hasil Migas dalam rangka Otsus. Apakah semua ini sudah dilaksanakan oleh Pemerintah Provinsi?” tanya Filep lagi.

“Apakah ini berarti pasca Otsus, hak-hak Perguruan Tinggi belum dapat dielaborasi dan diimplementasikan secara optimal? Maka, sudah selayaknya persoalan ini disampaikan kepada Wakil Presiden yang ditugaskan sebagai Ketua Badan Pengarah Percepatan Pembangunan Otonomi Khusus Papua untuk membahas secara menyeluruh persoalan pendidikan di tanah Papua. Masalah ini sangat urgen untuk dilakukan mengingat masa depan generasi OAP sangat bergantung pada kemajuan dan kualitas pendidikan, mulai dari pendidikan dasar sampai pendidikan tinggi,” sambungnya.

Di sisi lain, ia menyampaikan, pertumbuhan jumlah Perguruan Tinggi di tanah Papua terbilang cukup pesat dan disertai dengan jumlah mahasiswa yang terus bertambah. Hal ini diprediksi akan semakin masif bertumbuh karena pemekaran yang menghasilkan 4 provinsi baru.

Hal itu juga didukung data dari Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDIKTI) Wilayah XIV yang menunjukkan terdapat kurang lebih 79 Perguruan Tinggi yang tersebar di seluruh Papua, mulai dari yang belum terakreditasi sampai yang terakreditasi Baik Sekali. Per tahun 2021, jumlah mahasiswa di Papua sebanyak 72.167 di kampus negeri dan 43.703 di kampus swasta, sementara di Papua Barat ada 12.572 di kampus negeri dan 25.735 di kampus swasta.

Dalam kesempatan yang sama, Filep menyebut, BP3OKP juga diharapkan dapat memperhatikan secara detail persoalan pendidikan terutama yang dihadapi berbagai Perguruan Tinggi di tanah Papua. Menurutnya, Badan Koordinasi Otsus sudah semestinya dapat memanfaatkan kunjungan Wapres untuk melihat lebih dekat potret pendidikan di tanah Papua.

“Badan ini ditugaskan untuk menyerap aspirasi masyarakat Papua. Apakah aspirasi di bidang pendidikan sudah mereka terima? Karena fakta membuktikan bahwa masyarakat Papua dan Papua Barat memiliki IPM terendah,” kata Filep.

Suarakan Pendidikan Gratis ke Wapres, Aksi Aliansi BEM se-Manokwari Dibubarkan Aparat

0

MANOKWARI, JAGAINDONESIA.COM – Aliansi Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) di kabupaten Manokwari yang terdiri dari perwakilan mahasiswa STIH Manokwari, BEM Unipa dan BEM STIH Caritas Papua melakukan aksi demo damai di trotoar Taman Ria tepat di lampu merah kali dingin Wosi.

Demonstrasi ini bertujuan untuk menyuarakan aspirasi pendidikan gratis bagi masyarakat Papua Barat yang ditujukan kepada Wakil Presiden Ma’ruf Amin dalam kunjungannya di kabupaten Manokwari, Jumat (14/7/2023).

Aksi demo damai yang dikoordinasikan oleh Ketua BEM STIH Manokwari, Herzon A. Korwa, ketua BEM STIH Caritas Papua Galang, Rusman, dan Presma Unipa Yuliance Fanataf digelar bersama para mahasiswa turun ke jalan mengenakan jas almamater dan memegang pamflet berisi tuntutan diberlakukannya pendidikan gratis sekaligus dukungan untuk kunjungan Wapres kali ini di Manokwari.

Salah seorang orator aksi Herzon A. Korwa menyampaikan bahwa aksi tersebut tidak bermaksud untuk menghalangi kunjungan Wapres ke Manokwari. Sebaliknya, para mahasiswa ini menyambut kedatangan Wapres Ma’ruf Amin dengan aspirasi sebagaimana wapres akan membahas perihal kebijakan Otsus bersama dengan BP3OKP Papua di kabupaten Manokwari sore ini.

Hal yang sama juga diungkapkan Galang Pahala yang menegaskan bahwa agenda mereka saat ini hanya ingin menuntut diberlakukannya pendidikan gratis di Papua Barat sesuai peruntukan Otsus untuk sektor pendidikan.

“Kita turun ini sama sekali tidak menghalangi kunjungan wapres RI, namun kami mendukung penuh kunjungan ini, sekaligus kami minta ruang bebas berdemokrasi menyampaikan aspirasi tentang pendidikan gratis sesuai peruntukan Otsus untuk pendidikan. Aksi ini juga diadakan di pinggir jalan tanpa menghambat agenda kunjungan wapres,” jelas Galang maupun Herzon secara bergantian dalam orasinya.

Herzon menegaskan bahwa aspirasi ini sudah kerap kali disuarakan kepada pemerintah provinsi dan DPR Papua Barat. Namun menurutnya, hingga kini aspirasi yang juga disampaikan di gedung DPR Papua Barat itu sama sekali tidak digubris.

Dirinya berharap, kedatangan Wapres ke Manokwari juga untuk mendengar langsung aspirasi rakyat dan tidak hanya mendengar dari para pejabat di Papua Barat.

“Kami sudah lakukan aksi berulang kali ke DPR tetapi mereka menutup mata terhadap aksi kami. Padahal kami punya aksi ini mewakili masyarakat Papua tentang pendidikan gratis di Papua Barat, maka kami yakini bahwa lewat aksi ini ke hadapan Wapres Republik Indonesia di jalan sangat wajar dan semoga bisa ditindaklanjuti menjawab masalah pendidikan gratis Papua,” teriak Herzon.

Meskipun begitu, aksi yang berlangsung dari pagi hingga sore tadi itu justru dianggap mengganggu kunjungan kerja wapres. Gabungan aparat Kepolisian dan TNI nampak terus melakukan mediasi agar aksi demo itu dihentikan.

Pantauan media, nampak dari mediasi yang dilakukan sebanyak tiga kali tersebut tidak memberikan ruang kepada mahasiswa menyampaikan aspirasi di jalan, sehingga akhirnya aksi sejumlah mahasiswa ini dibubarkan. (WRP)

Termasuk Proyek LNG di Bintuni, Bank Pendonor Diminta Hentikan Pembiayaan Proyek Gas yang Perburuk Iklim

0
Aksi protes Walhi. [Foto: Dok. Walhi]

JAGAINDONESIA.COM – Para pendonor atau pemodal bahan bakar fosil terbesar di Jepang-Mizuho, Mitsubishi UFJ Financial Group (MUFG), Sumitomo Mitsui Banking Corp (SMBC) dan perusahaan energi JERA diminta segera menghentikan pembiayaan maupun investasi atas proyek gas berkaitan dengan isu perubahan iklim.

Melansir dari siaran pers Walhi Papua (30/6/2023), sejak penandatanganan Perjanjian Paris tentang iklim tahun 2015, ketiga megabank tersebut telah memberikan dukungan finansial kepada industri bahan bakar fosil sebesar US$545,2 miliar di seluruh dunia. Dari jumlah ini, US$ 100,5 miliar digunakan untuk proyek dan perusahaan bahan bakar fosil seperti proyek lapangan gas (LNG) tangguh di Teluk Bintuni.

Desakan ini datang dari Komunitas Mahasiswa Papua Pecinta Alam Papua (KOMPAP) dan Walhi Papua yang menyampaikan protesnya terhadap para pemodal tersebut lantaran pembiayaan yang dimaksud memperbesar dampak buruk terhadap krisis iklim saat ini.

“Saat ini bank-bank besar ini tengah mengadakan pertemuan pemegang saham mereka, kami hendak merespon pertemuan mereka melalui aksi protes menuntut diakhirinya pembiayaan proyek gas mereka yang mendorong semakin banyaknya solusi palsu untuk krisis iklim seperti proyek LNG di Teluk Bintuni,” ujar, Ketua KOMPAP, Pilipus Cambu, dikutip Jumat (14/7/2023),

Adapun Walhi Papua memprotes ekspansi gas fosil seperti di Teluk Bintuni karena dinilai menjadi bagian dari hambatan yang akan menunda transisi energi bersih karena berisiko mengunci negara-negara dalam emisi gas rumah kaca yang berkepanjangan karena infrastruktur gas dapat bertahan hingga 30 tahun. Operasi gas fosil juga menghasilkan metana, yang memiliki potensi pemanasan global 84-87 kali lebih banyak dibandingkan dengan karbondioksida.

“Profil perusahaan-perusahaan ini dipenuhi dengan investasi kotor dan mematikan dalam proyek bahan bakar fosil yang menyebabkan kerusakan besar pada kesehatan, mata pencaharian, dan ekosistem lokal serta mengeluarkan berton-ton karbondioksida ke atmosfer. Meskipun mereka menyampaikan adanya urgensi mencapai nol emisi global dengan cepat untuk mengatasi krisis iklim dan meskipun mereka menyatakan komitmen untuk menyelaraskan dengan tujuan iklim, tidak ada perubahan mendasar dalam kebijakan dan operasi mereka,” kata Direktur Eksekutif Daerah Walhi Papua, Peuki.

Hal yang sama juga diungkapkan oleh Staf Riset dan Kampanye Walhi Papua Elias Mahuze, bersama mahasiswa/i orang muda Papua asal Bintuni di Kota Jayapura saat menyampaikan aksi protes tersebut pada 30 Juni 2023 lalu.

“Kami menuntut agar mereka berhenti berinvestasi dan memberikan pinjaman untuk proyek gas dan LNG di semua aliran, segera menghentikan segala bentuk pembiayaan untuk proyek batubara, dan berhenti dari investasi dan menyetujui pinjaman dan jaminan untuk proyek yang akan berdampak pada perpanjangan umur energi berbasis bahan bakar fosil seperti penangkapan dan penyimpanan karbon, co-firing amonia, hidrogen, dan teknologi serupa,” kata Elias.

Walhi Papua menyebutkan, Megabank Jepang Mizuho, Mitsubishi UFJ Financial Group (MUFG), dan Sumitomo Mitsui Banking Corp (SMBC) telah mengadakan rapat pemegang saham tahunan mereka dari 23-29 Juni 2023. Mizuho, MUFG, dan SMBC semuanya menghadapi petisi pemegang saham tentang perubahan iklim.

“Mereka telah mendeklarasikan dekarbonisasi dalam portofolio pembiayaan mereka pada tahun 2050 melalui rencana transisi masing-masing. Namun, laporan mereka justru menunjukkan terus adanya dukungan berkelanjutan untuk proyek bahan bakar fosil, seperti ekspansi gas dan LNG dan apa yang disebut bahan bakar alternatif amonia dan hidrogen,” demikian dikutip dari siaran pers Walhi Papua.

Selain itu, JERA, perusahaan pembangkit listrik terbesar di Jepang, disebut juga membangun lebih banyak infrastruktur gas dan LNG serta berencana untuk mengurangi intensitas emisi karbon dari pembangkit listrik termal dengan melakukan retrofit pembangkit listrik batubara untuk co-firing hidrogen dan amonia.

Di sisi lain, Walhi menyampaikan bahwa saat ini para juru kampanye iklim di seluruh Asia juga mengecam hidrogen dan amonia sebagai solusi palsu yang menimbulkan risiko terhadap tujuan dekarbonisasi global. Penembakan bersama amonia dinilai memiliki potensi pengurangan emisi yang terbatas, tidak mungkin diterapkan pada skala, kecepatan, biaya yang memadai, dan intensitas karbon yang cukup rendah untuk berkontribusi pada dekarbonisasi cepat di sektor ketenagalistrikan.

“Penelitian menunjukkan penggunaan hidrogen yang dibuat dari gas dengan atau tanpa penangkapan dan penyimpanan karbon di pembangkit listrik sebenarnya menghasilkan lebih banyak emisi daripada hanya membakar gas di pembangkit listrik itu,” sebutnya. (UWR)

Berita Terbaru