Kamis, 22 Oktober 2026
No menu items!
Beranda blog Halaman 130

KKB Lakukan Teror di Pegunungan Bintang, Tim Evakuasi Diterjunkan

0
Ilustrasi Prajurit TNI. (Foto/Merdeka.com)

PAPUA, JAGAINDONESIA.COM – Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) kembali melancarkan aksi terornya di Kabupaten Pegunungan Bintang, Provinsi Papua. KKB dilaporkan membakar 6 alat berat dan melepaskan tembakan senjata.

Alat berat itu terdiri dari 5 ekskavator dan 1 buldoser milik PT DHR yang sedang mengerjakan proyek pembangunan jalan Distrik Oksebang-Distrik Kiwirok. Aksi KKB ini baru diketahui pada Selasa (13/9/2022) sekitar pukul 23.00 WIT saat belasan pekerja proyek melaporkan kejadian itu ke Polres setempat.

“Pembakaran alat berat itu baru diketahui pukul 23.00 WIT saat belasan orang karyawan DHR tiba di Oksibil dan melaporkan kasus tersebut ke Polres Pegunungan Bintang,” ungkap Kabid Humas Polda Papua Kombes Ahmad Musthofa Kamal di Jayapura dilansir dari Antara, Selasa (13/9/2022).

Meskipun begitu, Kamal mengatakan pihaknya belum memastikan terkait adanya korban jiwa dalam aksi teror ini. Sementara saat kejadian diketahui terdapat 24 karyawan PT DHR sedang berada di camp milik perusahaan.

Puluhan karyawan ini seketika melarikan diri saat mendengar bunyi tembakan dan berhasil selamat tiba di Oksibil. Akan tetapi, masih terdapat 10 karyawan lainnya yang masih terjebak di sekitar lokasi pengerjaan proyek.

Sementara itu, Kapolres Pegunungan Bintang AKBP Cahyo Sukarnito mengatakan pihaknya telah membentuk tim evakuasi gabungan dari Polres Pegunungan Bintang dan Ops Damai Cartenz 2022 untuk mengevakuasi 10 karyawan tersebut.

“Kami bentuk tim untuk melakukan pengecekan TKP kejadian sekaligus evakuasi terhadap 10 orang pekerja jalan yang masih terjebak di sana,” kata Kapolres Pegunungan Bintang AKBP Cahyo Sukarnito dalam keterangannya, Rabu (14/9/2022).

Terkait dengan pelaku, Polda Papua menyampaikan aksi teror ini diduga dilakukan oleh KKB Ngalum Kupel pimpinan Lamek Taplo dan kelompok Meme Salju Nason B Mimin. Selain mengevakuasi pekerja yang masih berada di Kampung Mangaib, tim yang diterjunkan akan memeriksa lokasi pembakaran. (UWR)

Senator Filep Minta Kejaksaan Agung Investigasi Kasus Illegal Mining, Otsus Hingga Pelanggaran HAM Berat Papua

0
Senator Papua Barat Filep Wamafma saat menyampaikan aspirasi kepada Jaksa Agung ST Burhanuddin.

JAKARTA, JAGAINDONESIA.COM – Senator Papua Barat Dr. Filep Wamafma SH., MHum., menyampaikan sejumlah persoalan krusial di tanah Papua saat audiensi dengan Kejaksaan Agung (Kejagung) RI di Jakarta, Selasa (13/9/2022).

Pertama, Senator Filep menyoroti penanganan kasus penambangan ilegal (illegal mining) di Papua Barat yang belum berjalan maksimal. Menurutnya, penegakan hukum atas kasus ini masih berada di permukaan dan belum menyentuh para pemodal di balik praktik-praktik penambangan ilegal tersebut.

“Soal illegal mining, saya melihat aparat penegak hukum di daerah, khususnya kejaksaan disana diam dan belum bertindak selaku penegak hukum, untuk melakukan advokasi apalagi menyelesaikan masalah ini,” ungkap Filep, Selasa (13/9/2022).

“Ini harta, emas, sesuatu yang sangat berharga apabila dikelola dengan baik melalui investasi di daerah. Tetapi, ini mafia besar ada di depan mata semua para penegak hukum di daerah tapi semuanya diam, yang ditangkap pihak Kepolisian hanya pekerja, sementara pemodalnya tidak disentuh. Oleh sebab itu, saya harap kejaksaan agung juga tergerak untuk menyelesaikan kasus illegal mining di Papua Barat,” ujar Filep.

Kedua, Filep Wamafma memandang perlunya Kejagung RI membentuk tim pengawasan terhadap penggunaan Dana Otsus di tanah Papua. Ia berharap, tim ini akan turut mengawal dan memastikan dana Otsus digunakan sesuai peruntukannya berdasarkan amanat UU Otonomi Khusus bagi Papua dan Papua Barat.

“Akhir-akhir ini sejumlah kepala daerah di Papua tertangkap, bupati Mamberamo Tengah, Bupati Mimika dan kini Gubernur Papua jadi tersangka oleh KPK. Sebagai senator kami apresiasi itu. Namun, sejalan dengan peningkatan kesejahteraan masyarakat Papua, maka saya meminta Kejaksaan Agung juga membentuk tim pengawas terhadap Dana Otonomi Khusus karena dana Otsus sampai saat ini belum menyentuh substansi dan kebutuhan dasar OAP,” katanya.

Lebih lanjut, Filep menekankan, tim pengawas Otsus ini juga diharapkan akan mengawal dan menjamin alokasi 10 persen Dana Bagi Hasil (DBH) Migas agar dilaksanakan sesuai penggunaannya untuk pemberdayaan masyarakat adat Papua.

“Saya berjuang melalui UU Otsus ini sehingga saat ini sebesar 10 persen Dana Bagi Hasil Migas itu dialokasikan untuk pemberdayaan masyarakat adat. Sampai saat ini saya sudah mengadvokasi, sudah meminta kepada gubernur, bupati/walikota, salurkan 10 persen itu kepada masyarakat adat, karena itu hak mereka,” ujar doktor alumnus Unhas Makassar ini.

“Sampai saat ini sudah ada transfer dana ke daerah tapi belum menyentuh masyarakat adat. Oleh sebab itu, saya juga minta Kejaksaan Agung bentuk tim untuk mengusut hal ini. Saya merasa berdosa sekali, kalau saya tahu prosesnya tapi saya tidak memperjuangkannya,” kata Filep.

Selanjutnya yang ketiga, terkait penanganan kasus-kasus pelanggaran HAM berat di Papua, Filep berharap, Komnas HAM jangan hanya dominan dalam menangani kasus-kasus yang viral tetapi juga serius menangani kasus-kasus pelanggaran HAM berat di Papua yang hingga kini belum juga terselesaikan.

“Pelanggaran-pelanggaran HAM berat di Papua harus segera diselesaikan, siapapun pelakunya adili di pengadilan HAM dan dipublikasikan secara terbuka kepada rakyat, sehingga rakyat di Papua yakin dan percaya bahwa negara memberikan jaminan untuk menyelesaikan kasus-kasus pelanggaran HAM berat itu,” tegasnya.

Selain itu, Filep yang juga merupakan Ketua STIH Manokwari ini menyampaikan apresiasi atas terobosan Kejagung yang mengedepankan Restorative Justice atau keadilan restoratif. Filep berharap dalam pelaksanaannya Kejagung juga menggandeng lembaga-lembaga hukum adat di Papua.

“Saya setuju dengan Restorative Justice ini, saya harap ada kerja sama Kejagung dengan lembaga-lembaga adat dan ada petunjuk teknis tentang konsep ini, apalagi di Papua sangat lekat dengan hukum adat. Sehingga harapannya, Restorative Justice ini dapat dilaksanakan dengan baik di tanah Papua,” katanya.

Filep Wamafma turut mengutarakan pandangannya tentang peran jaksa-jaksa agung dalam dunia pendidikan tinggi. Ia menekankan bahwa Jaksa harus mengajar sebagai dosen praktisi di perguruan tinggi, sehingga jaksa juga terlibat langsung dalam pembangunan SDM unggul di Papua.

“Saya ada kampus STIH Manokwari, semoga bisa dibangun pusat kajian kejaksaan di STIH Manokwari ini, sebagaimana yang sudah ada di Universitas Hasanuddin Makassar,” katanya.

Tak hanya itu, Pimpinan Komite I DPD RI ini pun berharap penerimaan khusus melalui jalur afirmasi bagi putra-putri asli Papua di Kejaksaan dapat terus berlanjut.

“Saya berharap program ini terus berjalan. Kedepan harapannya, orang asli Papua diprioritaskan menjadi jaksa di tanah Papua, sehingga putra putri asli Papua turut bertanggungjawab atas penegakan hukum di tanah Papua dan di negara Indonesia ini,” pungkasnya.

Ishak Mansawan: Lewat Suara Filep Wamafma, STIH Manokwari Turut Andil Wujudkan DOB di Papua

0
Senator Filep Wamafma saat pengesahan RUU Papua Barat Daya.

MANOKWARI, JAGAINDONESIA.COM – Dosen muda tetap STIH Manokwari Ishak Mansawan, SH., MH menyampaikan apresiasi atas kerja-kerja nyata Senator DPD Republik Indonesia asal daerah Papua Barat, Dr. Filep Wamafma, SH., M.Hum., C.L.A yang juga adalah pimpinan di Komite I DPD RI.

Menurut Ishak, Dr. Filep Wamafma telah banyak berjuang dan memiliki andil besar dalam berbagai kebijakan di tanah Papua. Teranyar, Filep terlibat aktif sebagai ketua tim dari DPD RI dalam pembahasan Rancangan Undang-Undang (RUU) Daerah Otonom Baru (DOB) Provinsi Papua Barat Daya (PBD), seperti halnya dalam pembentukan 3 DOB lainnya di Papua.

“Meskipun jabatan negara yang diemban di parlemen di Jakarta, namun harus diapresiasi juga karena ada jabatan yang melekat pada seorang Dr. Filep Wamafma yaitu Ketua Sekolah Tinggi Ilmu Hukum (STIH) Manokwari,” ujarnya, Selasa (13/9/2022).

Dosen muda tetap STIH Manokwari Ishak Mansawan, SH.,MH saat diskusi bersama Dr. Filep Wamafma.

“Dengan demikian, salah satu perguruan tinggi swasta di Papua Barat (STIH) turut andil dalam menentukan DOB PBD. Bahkan secara akademisi sejumlah masukan dalam bentuk naskah secara lisan maupun tertulis merupakan kajian di bidang hukum STIH Manokwari untuk DOB PBD,” sambungnya.

Ishak menuturkan, jejak dan kiprah Filep Wamafma menjadikan STIH Manokwari memiliki catatan sejarah yang tertoreh hingga saat ini dan akan mengawal hingga pengesahan UU DOB PBD oleh DPR RI.

Selain PBD, kata Mansawan, STIH Manokwari juga memberikan kontribusi akademik untuk pemekaran DOB Provinsi Papua Tengah, Papua Pegunungan dan Provinsi Papua Selatan.

“Meskipun pro-kontra soal DOB di tanah Papua terus terdengar, namun sejujurnya apa yang menjadi kontribusi STIH Manokwari sebagai bentuk pengabdian di bidang hukum dan sebagai bentuk catatan sejarah untuk dapat diabadikan lewat visual sebagai dokumentasi di STIH Manokwari,” katanya. (WRP)

Lewat Perpuluhan, Filep Wamafma Bantu 100 Sak Semen Bagi Jemaat GPKAI Silo Pasirido

0
Bantuan 100 sak semen dari Dr. Filep Wamafma kepada panitia pembangunan gedung baru GPKAI Silo, Pasirido, Distrik Manokwari Timur, kabupaten Manokwari. bantuan itu diserahkan oleh Frangky Wambrauw selaku koordinator Pace Jas Merah Papua Barat, Senin (12/9/2022)

MANOKWARI, JAGAINDONESIA.COM – Senator DPD Republik Indonesia Dr. Filep Wamafma berbagi kasih lewat perpuluhan dengan memberikan 100 sak semen untuk pembangunan rumah Tuhan milik Jemaat GPKAI Silo Pasirido, distrik Manokwari Timur, kabupaten Manokwari, Papua Barat.

Bantuan semen tersebut diserahkan Koordinator tim Jasmerah Frangky Wambrauw, SH., MH, Senin (12/9/2022) dan diterima langsung oleh Pdt. Philipus Manggaprouw di halaman gereja.

Dalam kesempatan itu, Frangky Wambrauw mengatakan, bantuan ini diserahkan oleh senator Filep Wamafma untuk membantu kelancaran pembangunan gedung baru jemaat Silo GPKAI Pasirido.

Menurut Frangky, bantuan ini merupakan bagian dari perpuluhan sebagai bentuk syukur atas berkat yang Tuhan sudah berikan dalam kehidupan ini. Oleh sebab itu, diharapkan bantuan ini dapat mendukung keberlanjutan pembangunan dan mengurangi beban panitia pembangunan.

“Lewat bantuan ini diharapkan dapat membantu meringankan panitia dan untuk melanjutkan pembangunan gedung sehingga jemaat bisa menggunakannya untuk beribadah kepada Tuhan,” ungkap Wambrauw.

Sementara itu, Pdt. Philipus Manggaprouw menyampaikan banyak terima kasih kepada Dr. Filep Wamafma yang sudah membantu kekurangan dari panitia pembangunan.

“Puji Tuhan karena kami bisa terbantu oleh bapak senator Filep Wamafma, semoga apa yang sudah diberikan saat ini menjadi berkat dan semoga Tuhan terus memberkati bapak dalam tugas dan tanggung jawab melayani masyarakat Papua Barat,” ungkap Pdt Philipus. (WRP)

Filep Harap Pemerintah Perhatikan Apirasi Pembangunan Smelter Freeport di Papua

0
Senator Papua Barat Filep Wamafma.

JAKARTA, JAGAINDONESIA.COM – Senator Papua Barat Filep Wamafma berharap aspirasi pembangunan smelter Freeport di Papua menjadi perhatian utama pemerintah. Menurutnya, adanya smelter ini akan memberikan efek berganda (muliplier effect) bagi pertumbuhan ekonomi dan peningkatan kesejahteraan yang layak dirasakan oleh masyarakat Papua.

“Freeport ini kan sudah puluhan tahun di Papua. Masyarakat ingin bisa dapatkan dampak kehadirannya secara langsung. Bayangkan saja jika smelter dibangun di Papua, pasti ada banyak orang Papua yang dipekerjakan, penghasilan bertambah, pendapatan daerah juga demikian, indeks kemiskinan menurun, efeknya akan sangat terasa,” kata Filep, Senin (12/9/2022).

Berkaitan dengan hal itu, Filep juga mencermati pernyataan Presiden Jokowi dalam kunjungan ke Freeport saat peluncuran Teknologi 5G Mining pada 1 September 2022 lalu. Dalam kesempatan itu, Presiden Jokowi menegaskan bahwa sektor pertambangan Indonesia harus mampu bersaing melalui implementasi teknologi di era digital saat ini.

Selain itu, dalam acara Sarasehan 100 Ekonom yang diselenggarakan INDEF dan CNBC (7/9), Jokowi menyampaikan bahwa apabila smelter Freeport yang dibangun di Gresik sudah beroperasi di tahun 2024, maka nilai tambah tembaga yang selama 50 tahun diekspor dalam mentahan itu akan mencapai US$ 30 miliar atau Rp 448 triliun (dalam kurs Rp 14.935 per dollar AS).

“Apa yang disampaikan Presiden, membuat saya berpikir, seandainya smelter dibangun di Papua juga akan berdampak positif bagi kesejahteraan orang Papua, kesejahteraan itu juga kan yang selama ini menjadi tujuan percepatan pembangunan di Papua,” katanya.

“Harapan orang Papua justru disitu. Hal ini menjadi lucu, saat hasil tambang dari bumi Papua dibawa ke daerah lain untuk dikelola, lalu banyak keuntungan mengalir bagi daerah lain. Ya, semoga Presiden tidak menutup mata terkait harapan ini,” sambung Filep.

Sejak dulu, senator Papua Barat ini memang sudah mendorong agar smelter Freeport dibangun di Papua. Layaknya megaproyek smelter PT Freeport Indonesia di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Gresik yang saat ini terus berjalan.

Hingga akhir April 2022, progres pembangunan disebut sudah 30 persen. Selain itu, pembangunan smelter ini juga menyerap 1800 tenaga kerja, dengan kisaran 98% tenaga lokal dan sisanya tenaga asing.

“Dulu Pemerintah bilang, kalau bangun smelter di Papua, pasti lebih mahal. Bagi saya, mahal dan tidak itu tergantung pilihan pemerintah. Jadi bukan menjadi alasan apalagi keuntungan smelter di masa depan sudah bisa diprediksi. Pemerintah juga bilang, kalau bangun di Papua, belum ada industri pengelolaan limbahnya. Ya kalau begitu dibangun dulu infrastruktur untuk itu. Pemda pasti akan sangat men-support”, jelas Filep.

Akomodasi Provinsi Baru di Papua, Perppu Pemilu Ditargetkan Rampung Sebelum Oktober

0
Ilustrasi naskah. [Foto: hukumonline]

JAKARTA, JAGAINDONESIA.COM – Pemerintah bersama Komisi II DPR RI dan penyelenggara pemilu telah menyepakati diterbitkannya Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang (Perppu) terhadap beberapa ketentuan dalam UU nomor 7 tahun 2017 tentang Pemilu untuk mengakomodasi pembentukan provinsi baru di wilayah Papua.

Perppu ini diterbitkan sebagai konsekuensi terbentuknya 3 provinsi baru di Papua dan mengantisipasi 1 provinsi baru di Papua Barat. Adapun pelaksanaan tugas dan wewenang penyelenggaraan pemilu di provinsi baru tersebut akan dilaksanakan oleh KPU dan Bawaslu hingga terbentuknya KPU Provinsi dan Bawaslu provinsi di Provinsi baru wilayah Papua.

Terkait hal itu, Direktur Jenderal Politik dan Pemerintahan Umum Kemendagri Bahtiar menyampaikan, Perppu ditargetkan terbit sebelum Oktober. Perppu ini akan mengakomodasi daerah pemilihan (dapil) dan jumlah kursi legislatif untuk empat daerah otonomi baru (DOB) Papua.

“Paling penting itu memastikan bahwa perintah Pasal 20 (UU Pemilu) itu kan, daerah baru itu kan, pemekaran Papua Tengah, Papua Selatan, dan Papua Pengunungan, dan nanti juga Papua Barat Daya kalau menjadi undang-undang, perintahnya kan diikutsertakan dalam Pemilu dan Pilkada serentak 2024,” ujar Bahtiar di Gedung Nusantara, Kompleks Parlemen, Jakarta, Kamis (1/9/2022).

Menurut Bahtiar, dengan Perppu yang diterbitkan, keempat provinsi baru itu dapat mengikuti Pemilu 2024. Selanjutnya pemerintah, dalam hal ini Kemendagri akan mengadakan rapat bersama DPR RI dan penyelenggara pemilu untuk membahas Perppu tersebut.

“Memang rancangan ini harus kami rumuskan dulu, setelah dirumuskan kami dengarkan kembali masukan teman-teman KPU, Bawaslu, DKPP, rumusannya pas atau ndak. Karena mereka kan yang akan menjalani,” ujar Bahtiar.

Di kesempatan lain Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Tito Karnavian menyampaikan bahwa 3 provinsi baru di Papua dipastikan mengikuti Pemilu 2024. Tito menegaskan penerbitan Perppu dilakukan sebatas menyikapi pembentukan procinsi baru di Papua. Ia menekankan, tidak ada perubahan lain di luar kepentingan tersebut.

“Kita fokus, saran kami dari pemerintah, Perppu spesifik mengakomodasi dampak dari adanya DOB ini,” ujar Tito. (UWR)

Masuk Hutan Papua, Begini Cerita Komnas HAM Temui Panglima OPM

0
Ketua Komnas HAM Ahmad Taufan Damanik. [Foto: ist]

JAKARTA, JAGAINDONESIA.COM – Ketua Komnas HAM Ahmad Taufan Damanik mengaku telah bertemu dengan panglima Organisasi Papua Merdeka (OPM) di hutan Papua beberapa waktu lalu. Taufan mengatakan, panglima OPM juga mengharapkan adanya dialog damai dengan pemerintah dan meminta Komnas HAM memfasilitasi dialog tersebut.

Taufan juga menepis adanya anggapan jika OPM enggan berdamai dengan pemerintah. Meskipun begitu, Taufan tidak menyebutkan siapa panglima OPM yang dimaksud.

“Mereka (OPM) berharap Komnas HAM membantu memfasilitasi dialog damai ini. Jadi, kalau ada orang yang bilang bahwa mereka tidak setuju, mereka tidak benar. Saya bertemu langsung,” ujarnya dikutip Jumat (9/9/2022).

Ia juga menyampaikan perjuangan Komnas HAM penuh resiko untuk terjun langsung ke daerah rawan konflik bersenjata demi mewujudkan kedamaian di tanah Papua. Menurut Taufan, penyelesaian konflik di Papua merupakan tanggung jawab banyak pihak agar konflik tak berkepanjangan dan semakin banyak memakan korban.

“Saya bersama teman-teman saya bertemu di sana itu juga dengan risiko. Kan banyak orang bilang kan, ‘mana Komnas HAM tidak turun ke lapangan?’ Dia tidak tahu saya sudah ke hutan di sana dengan penuh risiko. Bagaimana kalau saya ditembak? Bagaimana kalau saya disandera? Saya alami itu semua,” ungkapnya.

“Apa mau kita setiap hari mencatat orang mati, orang menjadi korban kekerasan?” sambung dia.

Oleh sebab itu, ia mengaku optimis jalan damai antara pemerintah dan OPM dapat diwujudkan. Keyakinan itu juga dilandasi pengalaman pemerintah Indonesia saat melakukan perdamian di Aceh dengan Gerakan Aceh Merdeka (GAM).

“(Dialog damai) pernah dilakukan di Aceh dan kita menjadi contoh dunia dengan satu cerita kesuksesan melakukan dialog damai di Aceh itu. Siapa bilang kita enggak bisa? Bangsa ini bangsa besar karena itu pasti dia berjiwa besar menyelesaikan masalah ini,” pungkas Taufan.

Lebih lanjut, Taufan mengatakan bahwa Komnas HAM bahkan juga menemui tokoh-tokoh dari kelompok minoritas di Papua. Komnas HAM bertemu dengan NU dan Muhammadiyah, tokoh Katolik, Protestan dan kelompok-kelompok gereja lainnya yang turut dalam upaya dialog damai tersebut. (UWR)

Filep Apresiasi Marcleurita Kawab yang Sumbang 1 Unit Laptop dan Printer ke STIH Manokwari

0
Alumni STIH Manokwari, Marcleurita Kawab, SH., MH secara simbolis menyerahkan bantuan satu unit laptop dan printer kepada bagian umum STIH Manokwari.

MANOKWARI, JAGAINDONESIA.COM – Ketua Sekolah Tinggi Ilmu Hukum (STIH) Manokwari, Dr. Filep Wamafma, SH., M.Hum., C.L.A menyampaikan terima kasih kepada alumnus STIH Manokwari, Marcleurita B. M. Kawab, SH., MH atas bantuan berupa satu unit laptop dan printer untuk STIH Manokwari.

Menurut Dr. Filep, bantuan tersebut sangat membantu pihak kampus dalam memudahkan pelayanan administrasi kepada mahasiswa. Bantuan ini juga diharapkan dapat menunjang efektivitas dan efisiensi persuratan, dokumentasi, publikasi dan kebutuhan kampus lainnya.

“Sebagai ketua STIH saya apreasiasi dan tentu saja menyampaikan terima kasih kepada ibu Marcleurita Kawab yang sudah memberikan kami bantuan berupa laptop dan printer. Semoga bantuan ini dapat dimanfaatkan sebaik-baiknya,” kata Dr. Filep setelah menerima laporan adanya penyerahan bantuan tersebut, Rabu (7/9/2022).

Sementara itu, Marcleurita B. M. Kawab, SH., MH menyampaikan bahwa bantuan ini sebagai bentuk kepedulian secara pribadi dalam mendukung kerja-kerja administrasi di STIH Manokwari.

“Sebagai alumni tentu saja memiliki tanggung jawab terhadap almamater. Semoga bantuan ini memberikan kemudahan bagi STIH Manokwari dalam memajukan pelayanan pendidikan di STIH kedepannya,” ungkap Marcleurita Kawab yang saat ini menjabat sebagai wakil ketua Majelis Rakyat Papua Barat (MRP-PB). (WRP/Humas STIH)

Koalisi Masyarakat Sipil Minta Pemerintah Segera Hentikan Pendekatan Keamanan di Tanah Papua

0
Masyarakat Adat Papua. [Foto: greeners.co]

PAPUA, JAGAINDONESIA.COM – Koalisi Masyarakat Sipil Untuk Reformasi Sektor Keamanan menyampaikan penggunaan pendekatan keamanan dalam penanganan persoalan di Papua kembali memperlihatkan implikasi buruknya terhadap upaya penyelesaian konflik dan penghormatan terhadap Hak Asasi Manusia (HAM). Penggunaan pendekatan tersebut berimplikasi terhadap eskalasi konflik yang terus meningkat melalui pelbagai kasus-kasus yang berujung tindakan kekerasan dan/atau penganiayaan terhadap warga lokal, bahkan hingga berakibat hilangnya nyawa.

Koalisi yang terdiri atas KontraS, Imparsial, PBHI Nasional, YLBHI, LBH Jakarta, LBH Pos Malang, LBH Masyarakat, SETARA Institute, Amnesty International Indonesia, Public Virtue Institute, ICW, Elsam, HRWG, ICJR, LBH Pers, WALHI, Centra Initiative menyebutkan, peristiwa pembunuhan keji disertai mutilasi pada 22 Agustus 2022 terhadap 4 (empat) warga sipil yang dilakukan oleh 6 (enam) prajurit TNI-AD dari kesatuan Brigade Infanteri 20/Ima Jaya Keramo Kostrad menjadi tragedi paling memilukan.

Seminggu berselang, pada 30 Agustus 2022 tragedi kemanusiaan kembali terulang di Mappi, Papua dengan memakan 4 korban warga sipil yang satu diantaranya meninggal dunia. Pelakunya diduga kuat merupakan prajurit TNI dari kesatuan Satgas Yonif Raider 600/Modang.

Kasus-kasus tersebut semakin mencerminkan penghormatan (to respect), perlindungan (to protect), dan pemenuhan (to fulfil) terhadap HAM menjadi persoalan serius yang perlu dialamatkan terhadap pendekatan keamanan dalam penanganan konflik di Papua. Koalisi Masyarakat Sipil untuk Reformasi Sektor Keamanan mengecam keras segala bentuk tindakan kekerasan terhadap orang asli papua (OAP) yang dilakukan oleh aparat keamanan. Rentetan tragedi kemanusiaan yang terus terjadi dan berulang terhadap warga sipil di Papua, menunjukan watak negara yang tidak bertanggung jawab dalam upaya memberikan perlindungan hak atas rasa aman bagi setiap orang Papua.

2 (dua) peristiwa di atas menjadi fenomena dari puncak gunung es akibat dari kebijakan dan pendekatan pemerintah yang keliru. Selama ini pemerintah gemar mengedepankan pendekatan keamanan. Kondisi tersebut tergambar dari banyaknya pengerahan pasukan keamanan ke wilayah-wilayah konflik. Alih-alih menciptakan perdamaian dan ketertiban, yang terjadi justru semakin banyak peristiwa kekerasan dan menimbulkan korban jiwa. Tidak jarang yang menjadi korban ialah masyarakat sipil.

Selain itu, perlu diperhatikan juga bahwa masifnya peristiwa kekerasan di tubuh TNI tidak dapat dilepaskan dari persoalan peradilan militer yang hingga kini tak kunjung diperbaiki. Sejak awal, koalisi menilai peradilan militer banyak menuai masalah mulai dari prosesnya yang tidak akuntabel hingga menjadi ruang impunitas. Jika mengacu pada agenda reformasi sektor keamanan, prajurit TNI yang melakukan tindak pidana harus dibawa dan diadili melalui mekanisme peradilan umum. Sayangnya, carut marutnya peradilan militer juga tidak dibarengi dengan upaya untuk segera dilakukan reformasi.

Berkaitan dengan peristiwa kekerasan yang terus terjadi di tanah Papua, KontraS sebelumnya telah melakukan pemantauan, dalam rentang waktu Januari – Agustus 2022 terdapat 8 tindak kekerasan yang dilakukan oleh anggota TNI. Adapun locus nya tersebar di wilayah Papua mulai dari Jayapura, Mappi, Sinak, Intan Jaya, Maybrat, Manokwari hingga Mimika. Sedangkan jika digambarkan jenis tindak kekerasannya meliputi kekerasan seksual, penganiayaan, penyiksaan, intimidasi serta penembakan. Setidaknya terdapat 18 warga sipil yang menjadi korban, 7 diantaranya meregang nyawa.

Selain itu, KontraS juga mencatat tindak kekerasan yang dilakukan anggota Polri, setidaknya terdapat 27 peristiwa. Dari Januari-Juli, terdapat 118 korban sipil yang tersebar dari wilayah Yahukimo, Mimika, Jayapura, Nabire, Timika, Wamena, Sorong dan Paniai. Dari ratusan korban, 3 diantaranya meninggal dunia. Adapun jenis tindakan kekerasannya meliputi pembubaran paksa, penangkapan sewenang-wenang, penganiayaan, intimidasi dan penembakan.

Bahwa berbagai peristiwa kekerasan yang terjadi di Papua, membuktikan pendekatan keamanan yang dilakukan pemerintah tidak menjawab akar persoalan. Negara sudah sepatutnya membaca situasi di Papua dengan melihat pokok masalah. Merujuk riset yang dilakukan oleh Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) mencatat setidaknya terdapat empat akar persoalan yakni kegagalan pembangunan, marjinalisasi dan diskriminasi orang asli Papua, pelanggaran HAM, serta sejarah dan status politik wilayah Papua. Sayangnya, identifikasi empat akar masalah tersebut tidak ditindaklanjuti dengan mengupayakan cara- cara damai berupa pendekatan dialog Atas dasar hal tersebut, Koalisi Masyarakat Sipil untuk Reformasi Sektor Keamanan mendesak:

Pertama, Presiden menghentikan pendekatan militeristik dalam menyelesaikan konflik yang terjadi di Papua. Sebab pendekatan keamanan terbukti tidak berhasil dalam menyelesaikan masalah dan justru berakibat pada masifnya berbagai peristiwa pelanggaran HAM;

Kedua, Panglima TNI segera memberhentikan secara tidak hormat kepada seluruh prajurit TNI yang diduga terlibat dalam peristiwa kekerasan dan Pelanggaran HAM;

Ketiga, Kapolri segera melakukan proses penyelidikan dan penyidikan dalam peristiwa kekerasan yang terjadi secara tuntas, tidak terkecuali kepada para prajurit TNI yang terlibat. Serta memberikan akses hukum dan informasi seluas-luasnya kepada para keluarga korban terkait proses hukum yang sedang berjalan. (rls)

Komisioner Komnas HAM Turun ke Papua, Filep Harap Proses Hukum Kasus Mutilasi Berjalan Transparan

0
Senator Papua Barat Filep Wamafma.

JAKARTA, JAGAINDONESIA.COM – Setelah desakan dari berbagai pihak termasuk Komite I DPD RI, kasus pembunuhan disertai mutilasi terhadap 4 Orang Asli Papua (OAP) di Timika, mulai diperhatikan Komnas HAM RI. Komnas HAM mengirim komisionernya Choirul Anam, ke Papua pada Rabu (7/9) kemarin. Terkait hal ini, Senator Papua Barat Filep Wamafma, menyampaikan pandangannya.

“Saya mengapresiasi Komnas HAM yang datang ke Papua untuk kasus ini. Akan tetapi yang terpenting ialah langkah konkret selanjutnya setelah kunjungan ke Papua,” ujar Filep, Kamis (8/9/2022).

Anggota Komisi I DPD RI ini berharap agar kasus pembunuhan disertai mutilasi terhadap OAP ini dibuka ke publik. Filep memberi contoh adanya transparansi dalam kasus Ferdy Sambo.

“Sebagai anggota Komite I DPD RI, saya meminta agar Komnas HAM mengedepankan transparansi dalam penyelidikan kasus ini,” katanya.

“Kalau kita lihat, kasus Sambo sangat transparan oleh Komnas HAM. Bahkan motifnya juga diungkapkan. Sekarang, beranikah hal serupa dilakukan terhadap kasus pembunuhan dan mutilasi OAP ini? Apakah Komnas HAM mau melakukan konferensi pers setiap waktu sebagaimana penanganan kasus Sambo?” tanya Filep.

Lebih lanjut, senator Papua Barat ini sangat mendorong adanya keterbukaan informasi dalam kasus mutilasi dan pembunuhan ini. Dengan begitu, diharapkan masyarakat dapat mengikuti dan mengetahui perkembangan penanganan kasus ini.

“Kasus ini kan melibatkan oknum aparat TNI. Sangat sensitif dan bisa saja membuka rangkaian kejahatan yang terencana terhadap OAP. Inilah kejahatan kemanusiaan yang sebenarnya, dimana Komnas HAM harus terlibat. Jika termasuk perkara koneksitas, maka peran sipil juga harus ikut dibuka dan di-clearkan, jangan sampai menjadi bola liar dan tuduhan dilemparkan kemana-mana”, kata Filep menjelaskan.

“Sampai sekarang juga belum ada rilis resmi dari Komnas HAM dan perwakilannya di Papua. Oleh sebab itu, saya akan tetap mendorong transparansi ini, agar tidak ada kesan Komnas HAM pilih-pilih kasus, atau lebih mementingkan kasus lain seperti kasus Sambo,” kata Filep di ruang kerjanya.

Filep mengingatkan bahwa kunci keberhasilan dari penegakan hukum terhadap persoalan HAM yang melibatkan oknum aparat ialah adanya transparansi. Hal ini tentu juga akan meningkatkan kepercayaan publik terhadap penegakan hukum di Indonesia.

“Penegakan hukum harus adil dan transparan, termasuk di dalamnya perlu adanya kerjasama dengan instansi-instansi terkait secara terus-menerus dan tanpa mempertimbangkan jabatan atau faktor lain. Hukum harus berpihak pada kebenaran dan memberikan keadilan kepada pihak yang benar, tanpa pandang bulu,” kata Filep mengakhiri wawancara dengan awak media.

Berita Terbaru