Senin, 19 Oktober 2026
No menu items!
Beranda blog Halaman 37

Dr. Filep Wamafma Beri Pandangan Soal Penerapan Asas Diminus Litis di RKUHAP

0
Senator Papua Barat, Dr. Filep Wamafma, SH, MHum.

JAGAINDONESIA.COM – Penerapan asas diminus litis atau pengendali perkara dalam Rancangan Kitab Undang-Undang Acara Pidana (RKUHAP) dinilai perlu hati-hati karena bisa membuat tumpang tindih penanganan perkara.

Senator DPD RI Dapil Papua Barat sekaligus Rektor STIH Manokwari Filep Wamafma menyebut asas diminus litis tidak perlu digunakan.

“Hukum Acara Pidana kita selama ini sudah cukup baik dan mekanisme penyidikan oleh pihak kepolisian jauh lebih baik dan profesional, selanjutnya kejaksaan selaku penuntut umum selama ini juga sudah berjalan sesuai dengan ranahnya. Jadi tidak perlu adanya asas dominus litis dalam RKUHAP yang diajukan oleh kejaksaan,” kata Filep Wamafma di Manokwari, Minggu (9/2/2025).

Filep Wamafma menyebut, pembagian tugas masing-masing instansi ini sudah sesuai dengan tugas pokok dan fungsi atau Tupoksi. Sehingga penggunaan asas diminus litis itu, kata dia, maka Kejaksaan memiliki kewenangan penuh mengendalikan proses penegakan hukum. Hal ini akan menjadi persoalan.

“Maksud asas ini kan menegaskan bahwa Jaksa Penuntut Umum (JPU) memiliki kekuasaan penuh untuk mengendalikan proses penegakan hukum. Ini akan menjadi rancu, tumpang tindih masalah kewenangan dengan pihak kepolisian yang selama ini kedua Institusi/Lembaga sudah berjalan dengan baik. Jangan malah menjadikan ketegangan,” paparnya.

“Sepanjang ini proses penegakan hukum oleh pihak kepolisian dan masuk pada rana penyidikan selanjutnya pelimpahan berkas perkara ke Kejaksaan sudah dengan berjalan baik, jadi tidak perlu adanya asas diminus litis dalam RKUHAP itu,” ujarnya.

Sumber: SINDOnews nasional

Presiden Prabowo Targetkan Seluruh Wilayah Indonesia Terlistriki dalam Lima Tahun

0
Presiden Prabowo. [Foto: BPMI Setpres/ Muchlis Jr]

JAGAINDONESIA.COM – Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto menargetkan seluruh kecamatan di Indonesia akan mendapatkan akses listrik dalam kurun waktu lima tahun ke depan. Target tersebut dicanangkan setelah menerima laporan dari Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia tentang masih adanya ribuan dusun yang belum terlistriki.

Dalam laporannya, Bahlil menyebutkan bahwa terdapat 340 kecamatan di Indonesia yang belum mendapatkan akses listrik dari PT PLN (Persero). Di wilayah-wilayah tersebut, masyarakat masih menggunakan listrik secara swadaya dengan bahan bakar minyak (BBM) sebagai sumber energi.

“Bapak Presiden, kami juga laporkan bahwa dalam rangka menerjemahkan dan menjalankan apa yang Presiden perintahkan untuk kita berdaulat di energi, saat ini masyarakat masih banyak yang belum mendapatkan akses listrik dari PLN. Sebagian besar masih menggunakan listrik swadaya, itu pun sedikit, dan yang menggunakan BBM yang harganya mahal. Terdapat 340 kecamatan yang belum kita kasih listrik sekitar 6.700 dusun,” ujar Bahlil saat peresmian Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Jatigede, Sumedang, Jawa Barat, Senin (20/1).

Menurut Bahlil, sebanyak 6.700 dusun tersebut setara dengan sekitar 1,3 juta rumah tangga yang belum terlayani listrik PLN. Ia menambahkan bahwa untuk melistriki seluruh wilayah tersebut, diperlukan anggaran sebesar Rp48 triliun selama lima tahun.

“Kita membutuhkan anggaran kurang lebih sekitar Rp48 triliun selama 5 tahun untuk kita menerangi dusun-dusun, desa-desa, dan kecamatan yang belum terlistriki. Kami yakin, insya Allah, apa yang Bapak Presiden arahkan ini akan mampu kita lakukan, bisa kita wujudkan semuanya akan terlistriki,” tegasnya.

Menanggapi laporan tersebut, Presiden Prabowo menyatakan optimisme bahwa program elektrifikasi ini dapat selesai dalam lima tahun mendatang. Ia menegaskan bahwa pemerintah akan memastikan seluruh wilayah Indonesia mendapatkan akses listrik.

“Tadi saya mendapat laporan masih adanya beberapa ribuan dusun yang belum menikmati listrik dan memerlukan biaya Rp48 triliun untuk melistriki semuanya. Kalau 48 triliun dibagi lima, berapa itu Rp9 triliun. Rasa-rasanya lima tahun kita bisa selesaikan itu,” ujar Prabowo.

Prabowo menjelaskan, kebutuhan anggaran untuk program ini akan dipenuhi melalui penghematan yang dilakukan pemerintah di berbagai bidang. “Saya dapat laporan dari Menteri Keuangan, arahan saya untuk melakukan penghematan di semua bidang. Alhamdulillah menghasilkan penghematan yang cukup besar sehingga bangsa kita akan melakukan transformasi ke arah hilirisasi, ke arah industrialisasi secara besar-besaran dan akan mengagetkan dunia,” jelasnya.

Kementerian ESDM bersama PT PLN (Persero) terus berupaya mempercepat elektrifikasi di desa-desa dan dusun-dusun yang belum menikmati listrik, terutama di wilayah yang sulit dijangkau oleh infrastruktur PLN. Upaya ini dilakukan untuk mewujudkan nilai-nilai keadilan di sektor kelistrikan dan memastikan seluruh masyarakat Indonesia mendapatkan akses energi yang setara.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2024, Indonesia memiliki 7.281 kecamatan dan 340 di antaranya belum sepenuhnya teraliri listrik. Namun, ini tidak berarti seluruh wilayah di kecamatan tersebut gelap total. Biasanya dalam satu desa terdapat beberapa dusun, sehingga hanya dusun-dusun tertentu di kecamatan tersebut yang belum menikmati akses listrik, sementara wilayah lainnya sudah teraliri listrik.

Sumber: Kementerian ESDM

Tanggapi Usulan Perubahan UU Jaminan Sosial, Komite III DPD RI Soroti Kesenjangan Perlindungan di Indonesia Timur

0
Foto: narasimedia.id

MAKASSAR, JAGAINDONESIA.COM – Ketua Komite III Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI, Dr. Filep, memberikan tanggapan mendalam terkait inventarisasi materi rancangan undang-undang usul inisiatif DPD RI tentang perubahan Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2004 tentang Sistem Jaminan Sosial Nasional.

Tanggapan ini mengemuka dalam pembahasan terkait perbaikan sistem jaminan sosial di Indonesia, yang diharapkan dapat lebih inklusif dan tepat sasaran dalam melindungi seluruh lapisan masyarakat, terutama pekerja informal yang belum sepenuhnya terlindungi.

Dalam kesempatan tersebut, Dr. Filep memberikan apresiasi terhadap kemajuan yang telah dicapai dalam cakupan jaminan kesehatan di Indonesia, khususnya di Sulawesi Selatan (Sulsel). Berdasarkan data terbaru, 100 persen masyarakat di Sulsel telah terdaftar dalam program BPJS Kesehatan per Juli 2024. Ini merupakan langkah positif dalam upaya pemerintah untuk memastikan seluruh rakyat Indonesia mendapatkan akses kesehatan yang lebih baik.

Meskipun demikian, Dr. Fillep menekankan perlunya evaluasi dan koreksi terhadap beberapa aspek dalam penyelenggaraan jaminan sosial, terutama dalam hal koordinasi antar penyelenggara.

“Dalam pelaksanaannya, kita masih menemui adanya tumpang tindih antar penyelenggara jaminan sosial. Ini khususnya terjadi pada peserta mandiri, yang seringkali tidak terpantau dengan baik keaktifannya. Hal ini perlu menjadi perhatian serius agar program jaminan sosial dapat berjalan dengan efisien dan tidak menimbulkan kebingungan peserta,” ujar Dr. Filep.

Selain itu, Ketua Komite III ini juga mengungkapkan keprihatinannya mengenai rendahnya cakupan BPJS Ketenagakerjaan, terutama di wilayah Indonesia Timur. Menurut data yang ada, BPJS Ketenagakerjaan di wilayah tersebut masih tergolong rendah, dengan rata-rata partisipasi di bawah 50 persen.

Contohnya, di Sulawesi Selatan, dari total 2.871.182 pekerja yang terdata, baru 1.357.000 pekerja yang terdaftar dalam program BPJS Ketenagakerjaan. Hal ini menunjukkan adanya kesenjangan perlindungan sosial yang cukup signifikan, terutama bagi pekerja informal yang notabene belum terjangkau oleh program perlindungan sosial yang memadai.

“Fakta ini menunjukkan bahwa mayoritas pekerja Indonesia, terutama yang bekerja di sektor informal, masih belum mendapatkan perlindungan jaminan sosial sesuai dengan hak konstitusional yang mereka miliki. Padahal, Undang-Undang Dasar 1945 dengan jelas mengamanatkan bahwa setiap warga negara berhak mendapatkan jaminan sosial. Oleh karena itu, reformasi dan pengaturan yang lebih rinci dalam jaminan sosial ini sangat penting, agar hak-hak pekerja, terutama yang bekerja di sektor informal, dapat terlindungi dengan optimal,” tambahnya.

Lebih jauh, Dr. Filep juga menyoroti pentingnya peningkatan sistem perlindungan sosial melalui integrasi berbagai program jaminan sosial. Salah satu usulan yang disampaikannya adalah pembentukan badan penyelenggara jaminan sosial khusus untuk kecelakaan lalu lintas.

Saat ini, perlindungan untuk kecelakaan lalu lintas masih terpisah, dengan Jasa Raharja sebagai salah satu badan yang menangani. Menurutnya, integrasi Jasa Raharja dengan BPJS Kesehatan dan BPJS Ketenagakerjaan akan memperluas cakupan perlindungan sosial negara, khususnya bagi mereka yang mengalami kecelakaan lalu lintas.

“Integrasi antara Jasa Raharja dan BPJS akan sangat bermanfaat dalam meningkatkan perlindungan kepada masyarakat. Kecelakaan lalu lintas adalah salah satu penyebab utama kematian dan kecacatan di Indonesia, dan dengan adanya pengaturan yang lebih terintegrasi, perlindungan kepada korban dapat lebih maksimal,” terang Dr. Filep.

Dr. Filep juga menambahkan bahwa perlu adanya upaya konkret dari pemerintah dan lembaga terkait untuk memperluas cakupan perlindungan sosial, baik di sektor kesehatan maupun ketenagakerjaan. Hal ini sangat penting mengingat sebagian besar pekerja di Indonesia bekerja di sektor informal yang seringkali terabaikan dari sistem perlindungan sosial yang ada.

Dengan adanya usulan perubahan Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2004 ini, Dr. Filep berharap agar jaminan sosial di Indonesia dapat menjadi lebih inklusif, memberikan perlindungan yang lebih merata dan efektif bagi seluruh lapisan masyarakat. Dia menekankan pentingnya memastikan bahwa seluruh rakyat Indonesia, tanpa terkecuali, mendapatkan haknya atas perlindungan sosial, baik itu di sektor kesehatan, ketenagakerjaan, maupun kecelakaan lalu lintas.

DPD RI, melalui Komite III yang dipimpin oleh Dr. Filep, berkomitmen untuk terus berupaya melakukan perubahan yang konstruktif dalam sistem jaminan sosial di Indonesia, guna mewujudkan kesejahteraan sosial yang lebih baik bagi seluruh rakyat Indonesia. Pemerintah dan seluruh pihak terkait diharapkan dapat segera merespons dan mengimplementasikan usulan ini demi kesejahteraan bersama.

Sementara itu senator Dapil Sulsel H. Al Hidayat Samsu yang juga koordinator rombongan menambahkan. Penyusunan dan perbaikan kebijakan jaminan sosial ini menjadi tantangan penting bagi Indonesia dalam menciptakan sistem perlindungan sosial yang lebih adil dan menyeluruh. “Ke depannya, diharapkan seluruh lapisan masyarakat, terutama pekerja informal dan masyarakat di wilayah Indonesia Timur, dapat merasakan manfaat dari perlindungan sosial yang lebih baik”, ujarnya.

Sumber: narasimedia.id

Grand Opening Zalma Boutique, Zety Musthofa Padukan Trend Fashion Modern dengan Sentuhan Budaya Jawa

0
Pemilik Zalma Boutique, Zety Musthofa saat bersama Pj Wali Kota Kediri, Ir. Zanariah, M.Si., Minggu (9/2/2025).

KEDIRI, JAGAINDONESIA.COM – Zalma Boutique yang terletak di Jalan Doho, Kota Kediri, telah diresmikan pada Minggu (9/2/2025) pagi. Kehadiran butik ini tidak hanya menjadi simbol kebangkitan industri fashion lokal, tetapi juga semakin memperkaya sektor ekonomi kreatif di daerah tersebut.

Acara pembukaan gerai Zalma Boutique dihadiri oleh berbagai kalangan termasuk pejabat seperti Pj Wali Kota Kediri Ir. Zanariah, M.Si., Ketua DPRD Kota Kediri Dra. Firdaus, serta Wali Kota terpilih Vinanda Pramewasti.

Mereka turut meramaikan acara yang dimeriahkan dengan peragaan busana koleksi terbaru Zalma Boutique. Koleksi tersebut memadukan elegansi modern dengan sentuhan budaya Jawa, menciptakan gaya yang unik dan menarik perhatian. Pemilik Gerai Zalma Boutique, Zety Musthofa, menegaskan bahwa bisnisnya berakar pada filosofi budaya Jawa.

“Ajining rogo soko busono—penampilan mencerminkan kehormatan seseorang. Zalma Boutique hadir untuk menawarkan busana yang tak hanya indah, tetapi juga berkelas,” ungkapnya.

Tak hanya butik, Zety juga mengelola tiga lini bisnis lain di bidang fashion dan kecantikan, termasuk salon eksklusif serta merek busana premium.

Sementara itu, Pj Wali Kota Kediri, Ir. Zanariah, M.Si., yang hadir dalam kesempatan tersebut menyambut baik kehadiran Zalma Boutique dan menilai industri fashion sebagai salah satu penggerak utama ekonomi kreatif.

“Kehadiran butik ini tidak hanya menambah keberagaman dunia mode di Kediri, tetapi juga membuka peluang usaha serta lapangan kerja bagi masyarakat,” ujarnya.

Hal senada disampaikan Wali Kota terpilih, Vinanda Pramesti yang menegaskan komitmennya dalam mendukung industri kreatif lokal.

“Kediri memiliki potensi besar dalam industri fashion. Saya berharap lebih banyak pelaku usaha yang berani berinovasi dan membawa Kediri ke panggung nasional,” tegasnya.

Disisi lain, Ketua DPRD Kota Kediri, Dra. Firdaus, turut memberikan dukungan terhadap pengembangan fashion lokal. Ia menilai kolaborasi antara pemerintah dan pengusaha seperti Zalma Boutique dapat mempercepat pertumbuhan ekonomi kreatif.

Selain fashion show, acara pembukaan Zalma Boutique juga menghadirkan sesi diskusi tren fashion bersama desainer ternama serta promo khusus bagi pelanggan pertama.

Dengan berdirinya gerai baru Zalma Boutique di Kota Kediri, diharapkan dapat memberikan kontribusi positif dalam mengembangkan industri fashion lokal dan meramaikan sektor ekonomi kreatif di Kota Kediri dan sekitarnya.

Sumber: detikzone.id

Dr. Filep Wamafma Apresiasi P3BHPK Manokwari Lakukan Diversi Kasus Anak

0
P3BHPK saat melakukan pendampingan diversi klien anak di Polres Manokwari

MANOKWARI, JAGAINDONESIA.COM – Pusat Pengkajian Penelitian Bantuan Hukum dan Perlindungan Konsumen (P3BHPK) STIH Manokwari kembali dipercaya menangani sejumlah kasus anak yang berhadapan dengan hukum di Manokwari.

Sebagai lembaga bantuan hukum yang beranggotakan akademisi sekaligus praktisi, P3BHPK STIH Manokwari memiliki peran sentral dalam berbagai kasus hukum di Manokwari dan di Papua Barat umumnya.

“Jadi P3BHPK ini menjalankan fungsi sebagai penasihat hukum bagi klien anak yang berhadapan dengan hukum di Polres Manokwari. Kepercayaan yang diberikan kepada P3BHPK ini merupakan kebanggaan karena mampu aktif mengadvokasi hak-hak anak, menjaga masa depan anak, terutama anak-anak Papua yang berhadapan dengan hukum,” kata Achmad Junaidi, Ketua P3BHPK (7/2/2025).

“Pendampingan kali ini tentu saja membutuhkan strategi tersendiri yang ramah anak, tidak menimbulkan trauma bagi anak, memperhatikan kepentingan terbaik di sisi anak. Kami sangat menekankan hal-hal itu, apalagi kalau melakukan diversi seperti kasus yang kami tangani ini,” tambah Junaidi, yang juga Dosen pada STIH Manokwari.

Ditemui di tempat terpisah, Senator Papua Barat Filep Wamafma, mengapresiasi kesigapan tim penasihat hukum P3BHPK STIH Manokwari. Menurutnya, peran aktif P3BHPK hingga saat ini telah berdampak nyata bagi masyarakat.

“Sejak awal saya menginisiasi pusat bantuan hukum ini, saya ingin supaya masyarakat terutama di Papua Barat, dapat dibantu jika berhadapan dengan hukum. Saya mengapresiasi kerja P3BHPK yang terus dipercaya untuk menangani kasus, dalam hal ini kasus anak yang berhadapan ataupun yang berkonflik dengan hukum”, kata Filep.

“Kita tahu bahwa di tahun 2024 yang lalu, prevalensi kekerasan terhadap anak-anak yaitu anak laki-laki turun dari 61,7 persen pada 2018 menjadi 49,83 persen, dan untuk anak perempuan dari 62 persen menjadi 51,78 persen. Tren positif ini harus dilanjutkan dengan kerja pendampingan terhadap anak-anak yang berhadapan dengan hukum. P3BHPK telah menjalankan tugas itu dengan baik,” tambah Filep lagi.

Lebih lanjut, Senator Papua Barat yang dikenal sebagai Pace Jas Merah ini menekankan pentingnya mencegah kekerasan terhadap anak. Menurutnya, anak termasuk dalam kelompok rentan sehingga perlu memperkuat perlindungannya, agar dapat tumbuh dan berkembang dengan baik serta sehat.

“Bulan Januari kemarin ada data dari DP3APDKB (Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk, dan Keluarga Berencana) Fakfak yang mencatat total ada 69 kasus kekerasan, yakni 4 kasus pernikahan anak di bawah umur, 43 kasus kekerasan terhadap anak seperti pelecehan dan persetubuhan, serta 22 kasus KDRT yang melibatkan perempuan. Inilah kasus-kasus nyata yang harus kita perhatikan. Maka kehadiran P3BHPK yang dipercaya melakukan diversi dalam kasus anak, menjadi awal yang baik untuk melindungi anak-anak Papua. Semoga lembaga ini menjadi pionir bagi perlindungan terhadap anak,” pungkas Filep.

Soal Efisiensi Anggaran 2025, Senator Filep Wamafma Ingatkan Hal Ini

0
Ketua Komite III DPD RI, Filep Wamafma.

JAKARTA, JAGAINDONESIA.COM – Pemberitaan tentang pemangkasan anggaran di beberapa kementerian santer bergulir ke ruang publik, termasuk di media sosial. Merespons hal ini, Senator Filep Wamafma mengingatkan Pemerintah agar tidak gegabah.

“Pemotongan anggaran dalam rangka efisiensi ini terlihat bagus. Akan tetapi saya mengingatkan Pemerintah supaya tidak gegabah. Pos-pos yang krusial sudah seharusnya tidak dilakukan pemotongan,” kata Filep saat ditemui awak media (6/2/2025).

“Yang mengagetkan saya, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) ikut dipotong anggarannya. Kemendikdasmen memiliki tambahan anggaran dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) yang disepakati sebesar Rp 33,5 triliun, namun dipangkas 8 triliun. Menurut saya ini sangat besar. Padahal kalau dibandingkan dengan yang lain, aspek pendidikan dasar dan menengah ini harus dipertahankan,” tegas Filep.

Di kesempatan yang sama, Senator Papua Barat ini juga mengkritik transfer ke daerah. Seperti diketahui, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menerbitkan Keputusan Menteri Keuangan (KMK) Nomor 29 Tahun 2025 yang merinci pemangkasan anggaran dana transfer ke daerah (TKD) senilai Rp50,59 triliun.

“Dana TKD juga dipotong 50 triliun. Saya berharap ini tidak berpengaruh pada kinerja pembangunan di daerah, terutama untuk daerah-daerah otonomi khusus di Tanah Papua. Sekali lagi saya berharap kebijakan ini jangan sampai kontra produktif terhadap pembangunan yang sedang masif digalakkan di Tanah Papua”, tambah Filep.

“Dan lagi, ada pembatalan Penawaran Beasiswa Kementerian Keuangan (Ministerial Scholarship) Tahun 2025. Ini juga mengagetkan. Sebagai pimpinan Komite III DPD RI yang mengurus masalah pendidikan, saya prihatin dengan kondisi ini. Saya berharap efisiensi 306 triliun bisa tercapai. Sebenarnya solusi terkait ini bisa dimulai dengan mengevaluasi keberlanjutan beberapa Proyek Strategis Nasional, kemudian mengevaluasi juga program-program yang salah arah atau tumpang tindih kementerian,” pungkas Filep.

Bertemu Mendikdasmen, Senator Filep Dorong Pembentukan Relawan Pendidikan Hingga Kemitraan Swasta untuk Pendidikan di Papua

0
Raker Komite III DPD RI dengan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen), Senin (3/2/2025).

JAKARTA, JAGAINDONESIA.COM – Senator Papua Barat, Dr. Filep Wamafma, SH, MHum membahas sejumlah persoalan pendidikan di tanah Papua dengan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Prof. Dr. Abdul Mu’ti, M.Ed pada Senin, 3 Februari 2025.

Dalam pertemuan itu, Filep mengusulkan pembentukan Relawan Pendidikan, masifikasi kemitraan pemda dengan pihak swasta, pembangunan infrastruktur dasar sekolah hingga evaluasi program Beasiswa ADEM atau Beasiswa Afirmasi Pendidikan Menengah.

“Jadi dalam kesempatan bertemu dengan Mendikdasmen, kami mengusulkan sejumlah hal untuk pendidikan di Papua. Kami usulkan adanya pembentukan Relawan Pendidikan, berkaca dari masalah kekurangan guru, juga kondisi geografis dan akses ke sekolah yang susah. Di sisi lain, banyak sarjana di Papua belum mendapat pekerjaan, tentu ini akan solutif. Jadi relawan pendidikan ini tidak hanya untuk lulusan pendidikan, tapi untuk semua jurusan,” ujar Filep dalam keterangan yang diterima, Rabu (5/2/2025).

“Pak Menteri menerima penyampaian itu. Jadi kami harapkan hal ini dapat terwujud dan nantinya para relawan yang akan direkrut oleh kementerian dapat menjadi penggerak-penggerak pendidikan di daerah, di kampung-kampung, distrik hingga daerah pesisir, pedalaman Papua,” sambung Filep.

Di kesempatan yang sama, Pace Jas Merah itu juga mengemukakan pandangannya soal pentingnya pelibatan pihak swasta asing maupun lokal dalam memajukan pendidikan di Papua. Menurutnya, pihak swasta melalui CSR-nya dapat menjadi mitra strategis pemerintah yang secara kolaboratif bersama menjawab kebutuhan pendidikan generasi, terlebih cukup banyak proyek-proyek investasi skala besar di Papua.

“Meningkatkan kemitraan dengan swasta akan memperkuat semangat bersama untuk turut bertanggung jawab atas generasi Papua. Juga dapat menyeimbangkan keuntungan finansial perusahaan dengan tanggung jawab sosialnya, memelihara hubungan baik perusahaan dengan masyarakat. Hubungan ini menjadi mutual karena kontribusi swasta juga akan meningkatkan reputasi perusahaan, membina hubungan berkelanjutan dengan sekaligus berpartisipasi dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” jelas Filep yang kini menjabat sebagai Ketua Komite III DPD RI.

Lebih lanjut ia menambahkan, partisipasi swasta itu dapat berupa peningkatan mutu dan kualitas pendidikan juga pembangunan infrastruktur dasar di sekolah-sekolah.

“Masih banyak sekolah-sekolah di Papua perlu diperhatikan infrastrukturnya, seperti listrik, internet yang merupakan kebutuhan dasar operasional sekolah. Juga perlunya fasilitas penunjang seperti laboratorium, Unit Kesehatan Siswa (UKS) perpustakaan, utamanya sekolah di daerah pedalaman,” kata Filep.

Selain itu, lanjut Filep, pemerintah juga perlu mengevaluasi realisasi Beasiswa ADEM. Dalam beberapa kali reses, ia menjumpai pelaksanaan beasiswa ADEM masih menuai persoalan.

“Dalam reses, saya bertemu dengan banyak orangtua siswa penerima beasiswa ADEM mengeluhkan masih berhadapan dengan biaya hidup, biaya kuliah, dengan pencairan dana tiap 3 bulan. Maka perlu ada evaluasi, apakah terkait alokasi atau mekanisme yang didasarkan pada kendala-kendala yang didapati dalam implementasinya,” ujar Filep.

Raker dengan Mendikdasmen, Komite III DPD RI Dukung Upaya Peningkatan Kompetensi dan Anggaran Kesejahteraan Guru

0

JAKARTA, JAGAINDONESIA.COM – Komite III DPD RI melaksanakan Rapat Kerja (raker) dengan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) pada Senin, 3 Februari 2025. Dalam raker tersebut, Komite III DPD RI mendukung upaya peningkatan anggaran untuk meningkatkan kesejahteraan guru.

“Hal ini menjadi bagian dari perhatian kami di Komite III DPD RI, salah satunya melalui pengangkatan guru honorer menjadi guru PPPK, pembayaran gaji/tunjangan guru honorer secara transfer langsung,” kata Ketua Komite III DPD RI, Dr. Filep Wamafma, SH, MHum dalam raker tersebut.

“Kami juga mendukung Kemendikdasmen yang telah mengeluarkan Peraturan Mendikdasmen Nomor 1 Tahun 2025 tentang Redistribusi Guru ASN pada Satuan Pendidikan yang diselenggarakan oleh masyarakat,” ujar Filep lagi.

Selain itu, Komite III DPD RI juga mendukung berbagai strategi Kementerian untuk meningkatkan akses dan kualitas pendidikan seperti meningkatkan kompetensi  dan kesejahteraan guru, meningkatkan mutu pendidikan, Program Indonesia Pintar (PIP), Beasiswa Afirmasi Pendidikan Menengah (ADEM) hingga revitalisasi satuan pendidikan.

Raker tersebut juga mencatat sejumlah poin kesimpulan lainnya, antara lain:

1. Mendukung upaya Kemendikdasmen untuk berkontribusi dalam menyukseskan program Makan Bergizi Gratis dalam hal perencanaan, persiapan, implementasi dan evaluasi di lingkungan pendidikan dasar dan menengah.

2. Mendukung upaya Kemendikdasmen dalam meningkatkan pendidikan karakter siswa melalui pembangunan sarana ibadah, penguatan nilai-nilai keagamaan dan kebudayaan dengan penekanan pada materi muatan lokal

3. Mengapresiasi dan mendukung Kemendikdasmen dalam program kerjasama dengan mitra pembangunan dan swasta dalam mendukung program prioritas pendidikan di Indonesia.

4. Mendukung perubahan sistem Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menjadi Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) melalui perubahan persentase dan perbaikan dari masing-masing jalur secara lebih proporsional dan berkeadilan dengan memperhatikan kemampuan dan kondisi sekolah negeri dan sekolah swasta.

5. Terkait implementasi Program kerja Kemendikdasmen tahun 2025, Komite III DPD RI melalui Tim Kerja Bidang Pendidikan akan memastikan kesinambungan dan percepatan pelaksanaan program kerja tersebut di seluruh provinsi. Oleh karena itu, diharapkan dilakukan sinergi, kerjasama dan pelibatan Kemendikdasmen di daerah yang secara teknis akan dikomunikasikan lebih lanjut.

Melalui raker kali ini, Senator Filep Wamafma berharap hasil-hasil tersebut dapat terlaksana dengan baik. Ia juga menekankan pentingnya memelihara dan meningkatkan sinergitas serta kolaborasi antar lembaga sebagai mitra strategis dalam mengawal realisasi program pemerintahan.

Komite III DPD RI Beberkan Masalah Pendidikan di Hadapan Mendikdasmen

0

JAKARTA, JAGAINDONESIA.COM – Komite III DPD RI menilai permasalahan yang dihadapi dalam dunia pendidikan di Indonesia masih sangat kompleks, khususnya pada pendidikan dasar dan menengah.

“Permasalahan pendidikan di Indonesia masih sangat kompleks dan melibatkan berbagai aspek yang saling terkait,” ucap Ketua Komite III DPD RI Filep Wamafma saat Rapat Kerja dengan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah RI Abdul Mu’ti di Gedung DPD RI, Jakarta, Senin (3/2/25).

Filep menjelaskan ada beberapa permasalahan di dunia pendidikan Indonesia, seperti adanya kesenjangan akses pendidikan akibat kurangnya sekolah, tenaga pendidik, dan keterbatasan infrastruktur. Tidak hanya itu, masih terjadi kesenjangan kesejahteraan antara guru Aparatur Sipil Negara (ASN) dan non ASN atau honorer, baik di sekolah negeri dan swasta serta standar kompetensi mengajar yang belum memadai.

Permasalahan lain juga ada, seperti pengangkatan guru honorer menjadi Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (P3K). “Jumlah guru honorer di Indonesia yaitu 700 ribuan, dimana terdapat rekrutmen pada tahun 2024 sebanyak 300 ribuan formasi P3K, sehingga masih tersisa sekitar 400 ribuan guru honorer yang belum diangkat menjadi P3K,” papar senator asal Papua Barat itu.

Filep juga menyoroti Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang perlu diperhatikan dan dipersiapkan dengan matang. Pada tingkat teknis pelaksanaan maupun kebijakan, Program MBG masih ditemui beberapa permasalahan. “Pada tingkat teknis, terdapat temuan di beberapa daerah, sejumlah siswa mengeluhkan soal sayuran yang rasanya tidak sesuai dengan lidah anak-anak. Ada pula yang kecewa karena tak dapat susu seperti yang dijanjikan,” tuturnya.

Filep menambahkan baru-baru ini juga telah terjadi peristiwa keracunan sejumlah siswa di salah satu Sekolah Dasar (SD) di Sukoharjo pada menu makanan program MBG. Bahkan, beberapa sekolah terlambat sampai dua jam menerima makanan bergizi gratis

“Oleh karena itu kami mengharapkan kepada Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah RI melalui Dinas Pendidikan di setiap provinsi untuk berperan aktif, serta bersinergi dengan Pemda dalam mengatasi berbagai permasalahan di dunia pendidikan serta berkoordinasi dengan Badan Gizi Nasional RI,” paparnya.

Sementara itu, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu’ti mengaku bahwa pihaknya saat ini sangat konsen terhadap guru-guru honor yang diangkat P3K. Menurutnya, rekrutmen guru P3K dibutuhkan untuk memastikan layanan pendidikan terus berjalan dan memenuhi standar mutu di seluruh Indonesia. “Kita saat ini konsen terhadap guru-guru honor yang diangkat P3K untuk memenuhi standar mutu pendidikan di seluruh Indonesia,” tegasnya.

Abdul Mu’ti juga menjelaskan untuk program MBG koordinatornya yaitu Badan Gizi Nasional RI. Pihaknya mengakui bahwa sekolah hanya objek untuk program tersebut. “Anggaran ada di Badan Gizi Nasional, kami hanya pelengkap atau peserta saja dimana sekolah merupakan objek. Untuk permasalahan MBG kami belum memiliki data-datanya, dan sekolah mana saja yang menjadi sasaran MBG,” bebernya.

Di kesempatan yang sama, Anggota DPD RI Provinsi asal Papua Barat Daya Hartono menilai bahwa saat ini tenaga pendidik atau guru honorer yang diangkat P3K menimbulkan permasalahan baru yang mengakibatkan sekolah-sekolah swasta kekurangan guru pengajar setelah pengangkatan P3K. “Kita telah menerima aspirasi masyarakat bahwa kekurangan guru di sekolah-sekolah swasta, karena guru yang diangkat P3K sekarang pindah mengajar di sekolah negeri. Maka ini menjadi catatan penting bagi pemerintah untuk bisa mengatasinya,” imbuhnya.

Anggota DPD RI asal Provinsi Papua David Harol Waromi meminta Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah untuk memberikan kemudahan akses anak-anak di Papua menuju ke sekolah. Lantaran, mereka harus menempuh jarak yang cukup jauh untuk ke sekolah.

“Maka dalam kesempatan ini kami meminta Pak Menteri bisa memberikan bis sekolah untuk anak-anak Papua menuju ke sekolah. Kasian pak, anak-anak harus berjalan kaki dengan jarak yang jauh ke sekolah,” ujarnya.

Ketua Komite III DPD RI Dorong Percepatan Pembangunan BLK dan Evaluasi Perda Ketenagakerjaan PB

0

PAPUA BARAT, JAGAINDONESIA.COM – Ketua Komite III DPD RI, Dr. Filep Wamafma, SH., M.Hum., C.L.A, melakukan kunjungan kerja ke Dinas Ketenagakerjaan dan Transmigrasi (Disnakertrans) Provinsi Papua Barat pada Kamis (30/1/2025). Kunjungan tersebut bertujuan untuk mengadvokasi sejumlah isu terkait ketenagakerjaan di provinsi Papua Barat. 

Pantauan awak media di lokasi, rombongan DPD RI diterima oleh Pelaksana Tugas (Plt.) Kepala Disnakertrans Papua Barat, Jandri Salakory, dan jajaran Kepala Bidang. Pertemuan tersebut membahas sejumlah isu penting salah satunya terkait penyerapan tenaga kerja lokal, khususnya Orang Asli Papua (OAP), di perusahaan-perusahaan yang berinvestasi di Papua Barat. 

Di kesempatan itu, Jandri Salakory menjelaskan saat ini, perusahaan-perusahaan masih banyak mengacu pada aturan nasional dalam rekrutmen karyawan. Oleh karena itu, ia meminta Kementerian terkait melalui DPD RI Perwakilan Papua Barat untuk mendorong perusahaan-perusahaan agar memprioritaskan OAP dalam proses perekrutan.

Disnakertrans Provinsi Papua Barat, lanjut Jandri, memiliki pengawas ketenagakerjaan yang aktif melakukan pengawasan terkait hak-hak pekerja. Namun, masih terkendala dalam penerapan prioritas tenaga kerja lokal, seperti di daerah Kabupaten Teluk Bintuni. 

Menurutnya, pemerintah daerah seharusnya lebih tegas dalam memberikan ruang bagi OAP dalam rekrutmen perusahaan yang beroperasi di wilayahnya.

“Disnakertrans Provinsi hanya menerima surat penerbitan akad, kami tidak memiliki kewenangan menahan atau membatalkan. Seharusnya daerah asal yang memproteksi,” terang Jandri. 

Ia mengaku setiap perusahaan wajib melaporkan proses rekrutmen, termasuk kuota, jumlah, dan kualifikasi yang dibutuhkan, kepada pemerintah kabupaten setempat. Jandri juga mengungkapkan keprihatinannya atas praktik perekrutan pekerja kasar, seperti cleaning service dan pekerjaan semi skill dari luar Papua Barat.

Padahal tenaga kerja lokal tersedia. Meskipun hal ini telah dibahas dalam berbagai rapat dan lokakarya, perusahaan seringkali beralasan terkait disiplin kerja dan mentalitas oknum pekerja lokal yang dinilai kurang optimal.

“Ini membuat image yang kurang baik sehingga perusahaan mempertimbangkan itu, memang direkrut tapi belum maksimal dalam melaksanakan tugas, sudah diberikan ruang tetapi ada oknum yang kurang disiplin,” ungkap Jandri. 

Ia menambahkan, alasan perusahaan enggan sepenuhnya mengandalkan tenaga kerja lokal karena masih minim mentalitas kerja sejumlah oknum. Jandri menilai perlu adanya upaya bersama untuk meningkatkan kualitas dan daya saing tenaga kerja lokal Papua Barat. 

Sementara itu, Dr. Filep Wamafma menyampaikan akan menindaklanjuti persoalan tersebut. Ia juga menekankan bahwa salah satu fokus utama advokasi DPD RI adalah percepatan pembangunan Balai Latihan Kerja (BLK) di Papua Barat. 

Menurut Dr. Filep Wamafma, pembangunan BLK sangat penting untuk meningkatkan skill putra-putri Papua agar mampu bersaing di pasar kerja internasional dan tidak hanya bergantung pada sektor ASN. 

“Kelemahan kita dalam perekrutan tenaga kerja di Papua adalah di sisi skill, terutama untuk memenuhi standar perusahaan internasional. Adanya BLK diharapkan dapat menjadi solusi untuk mempercepat pembangunan dengan memberikan pelatihan vokasi yang relevan,” ujarnya.

Selain itu, DPD RI juga mendorong evaluasi Peraturan Daerah Khusus (Perdasus) ketenagakerjaan di Papua Barat. Dr. Filep menyoal implementasi aturan 80:20 (80% tenaga kerja lokal, 20% tenaga kerja non-lokal) yang masih menghadapi kendala. 

“Kita harus mengevaluasi Perdasus kita. Menetapkan mekanisme bagaimana jika perusahaan asing tidak memenuhi kriteria yang ditetapkan? Perdasus harus menjawab kebutuhan pasar, tidak hanya bicara kualitas dan kuantitas, tapi juga output-nya,” beber Filep.

Dr. Filep juga mengapresiasi kinerja Disnakertrans Papua Barat yang telah bekerja maksimal. Namun, ia juga menilai pentingnya peningkatan pengawasan dari pemerintah pusat melalui Kementerian terkait. 

Ia berjanji akan memanggil Menteri terkait dalam rapat kerja untuk membahas berbagai program ketenagakerjaan di Papua Barat, dengan harapan Papua Barat dapat menjadi lokomotif dalam pengembangan skill tenaga kerja melalui BLK. 

“Kita akan sampaikan semua program ini ke Menteri agar Papua Barat bisa menjadi contoh dan bagaimana kita mengasah skill melalui BLK,” tutup Dr. Filep. (WRP)

Berita Terbaru