Senin, 19 Oktober 2026
No menu items!
Beranda blog Halaman 33

Sekolah Rakyat Berasrama Siap Dibangun, Wujud Komitmen Pemerintah untuk Pemerataan Akses Pendidikan

0
Foto: BPMI Setpres

JAGAINDONESIA.COM – Dalam Sidang Kabinet Paripurna di Istana Kepresidenan Jakarta, pada Senin, 5 Mei 2025, Presiden Prabowo Subianto menyampaikan rencana peluncuran program nasional sekolah rakyat dengan sistem asrama.

Menurut Kepala Negara, program ini menyasar anak-anak dari kelompok ekonomi rendah di Indonesia dan akan dimulai dengan pendirian sedikitnya 100 sekolah di berbagai wilayah.

“Saya dapat laporan dari Menteri Sosial, baru datang dari Jawa Tengah. Beliau cerita, karena kita juga dalam waktu dekat akan buka minimal 100 sekolah berasrama yang dialamatkan untuk saudara-saudara kita, rakyat kita yang berada dalam kelompok ekonomi yang paling rendah, desil satu dan desil dua,” ujarnya.

Presiden turut menegaskan bahwa program sekolah rakyat merupakan bagian dari komitmen pemerintah dalam pemerataan akses pendidikan bagi anak-anak Indonesia. Ia pun mengapresiasi kerja cepat para menteri terkait, terutama Menteri Sosial serta Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah yang telah merancang implementasi awal program tersebut pada bulan Juli mendatang.

“Bolak-balik saya katakan jangan dipaksa, berbuat, tapi kita tidak usah ngejar tanggal yang penting kita berbuat. Tapi mereka yakin mereka ingin mendapat hasil terbaik cepat, silahkan. Tapi ujungnya nanti saya kira ini akan sangat dirasakan oleh orang yang paling bawah,” kata Presiden.

Selain itu, Presiden menilai dukungan dari pemerintah daerah terhadap sekolah rakyat ini juga luar biasa. Kepala Negara mengungkapkan bahwa lebih dari 200 bupati dan wali kota telah menyiapkan lahan guna mendukung pembangunan sekolah.

“Saya katakan, kalau Pemda siapkan lahan, kita bangun. Dan kita sudah siapkan anggaran APBN. Ternyata sambutannya lebih dari 200, ya Mensos, sudah siapkan lahan. Antara sekitar 5 hektare sampai 8 hektare, Lumayan. Sekolah, SD, SMP, SMA, 5 hektare saya kira jarang tuh di Indonesia,” lanjutnya.

Presiden juga menekankan bahwa perencanaan titik pembangunan dilakukan secara detail yang menyasar pada daerah dengan tingkat kemiskinan tinggi. Dalam dua hingga tiga minggu ke depan, Presiden berharap finalisasi desain hingga anggaran untuk pembangunan sekolah ini dapat segera terselesaikan.

“Persiapannya sudah cukup matang. Ini saya kira akan dimatangkan 2-3 minggu lagi. Dan akan dilaksanakan dengan baik. Kita sudah merancang biaya pembangunan kampus tersebut. Yang cukup menurut saya hemat tapi bagus,” pungkas Presiden.

Program sekolah rakyat dengan penerapan sistem asrama ini diharapkan menjadi tonggak penting dalam pemerataan pendidikan. Di samping itu, sekolah ini juga diharapkan memperkuat mobilitas sosial dan menjawab tantangan pendidikan nasional. (Rls)

Kejar Target Lifting Migas, Menteri Bahlil Dorong Perusahaan Italia Gunakan Pendekatan Non-Konvensional

0
Sumber: ESDM

JAGAINDONESIA.COM – Pemerintah terus mempercepat pengembangan proyek-proyek migas strategis nasional sebagai bagian dari upaya mendorong ketahanan energi dan kejar pemenuhan target lifting minyak dan gas bumi (migas).

Berbagai langkah strategis untuk peningkatan lifting ditempuh termasuk pendekatan non-konvensional. Hal ini disampaikan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia saat melakukan peninjauan infrastruktur energi di Kalimantan Timur, Rabu (30/4).

“Salah satu contohnya adalah ENI. Kalau jadi 2029 rencana proyeknya selesai, tapi kita minta dimajukan menjadi tahun 2028, itu akan menghasilkan kurang lebih sekitar 1.500 mm gas dan 90 ribu barel konsentrat,” jelasnya.

Onshore Receiving Facility (ORF) milik ENI, perusahaan migas multinasional asal Italia, berperan sebagai penghubung utama antara produksi gas lepas pantai FPU Jangkrik dengan titik serah di Senipah dan kilang LNG Bontang, sehingga pasokan migas bisa segera diproses untuk kebutuhan domestik maupun ekspor.

Lebih jauh, ENI juga menyiapkan dua Proyek Strategis Nasional, yaitu Indonesia Deepwater Development (IDD) dengan cadangan 2,67 TCF gas dan 66 juta barel minyak, serta Geng North dengan cadangan 5,3 TCF gas. Investasinya pun signifikan–USD 3,7 miliar untuk Southern Hub (IDD) dan USD 11,4 miliar untuk Northern Hub–sebagai bukti keseriusan memaksimalkan potensi migas Indonesia.

Selain mempercepat proyek baru, optimalisasi sumur-sumur tua (idle well) juga menjadi perhatian. Dalam kunjungan ke Pertamina Hulu Mahakam, Bahlil melihat langsung operasi produksi bahkan proses peningkatan lifting dari sumur-sumur yang telah lama berproduksi.

“Kita tadi ke Pertamina Hulu Mahakam dan kita ngecek sekalipun ini memang sumur-sumur tua, tapi mereka masih mampu mempertahankan lifting (gas) dan bisa mendongkrak dari asumsi awal yang turunnya kurang lebih sekitar 200-300 mmscfd, sekarang sudah naik menjadi 400 sampai dengan 500 mmscfd,” tambahnya.

Penyederhanaan perizinan juga menjadi salah satu fokus penting Pemerintah dalam mendukung peningkatan produksi migas. Bahlil menilai, regulasi yang sederhana dan tidak berbelit-belit akan memudahkan para Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) dalam menjalankan aktivitas operasionalnya di lapangan.

Bahlil menjelaskan bahwa selama ini para kontraktor kerap mengeluhkan rumitnya proses perizinan yang justru menghambat kinerja dan memperlambat proses produksi. Untuk itu, Kementerian ESDM bekerja sama dan meminta Pemerintah Daerah, termasuk kepada Gubernur, untuk dapat mendukung percepatan proses perizinan di tingkat lokal.

Sumber: ESDM

Peringatan Hardiknas, Senator Filep Soroti Potret Pendidikan di Indonesia

0
Ketua Komite III DPD RI, Dr. Filep Wamafma, SH, MHum.

JAKARTA, JAGAINDONESIA.COM – Peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) setiap tanggal 2 Mei, merupakan bagian dari refleksi sekaligus upaya mempromosikan pendidikan yang bermartabat di Indonesia. Ketua Komite III, Filep Wamafma, yang juga membidangi pendidikan, menekankan sejumlah refleksi terhadap perjalanan pendidikan di Indonesia.

“2 Mei harus menjadi momentum refleksi mendasar atas penyelenggaraan pendidikan kita. Saya mulai dari HLS (red, Harapan Lama Sekolah). Memang ada perbaikan, HLS kita berada di kisaran 13,21 tahun di 2024, meningkat dari 13,15 tahun di tahun 2023. Tetapi kalau dicek per daerah, kita akan temukan kontrasnya. Bekasi dan Bandung angka HLS-nya 14 tahun, atau Sleman di angka 16. Tetapi di Papua Tengah misalnya di Kabupaten Puncak, HLS-nya 5 tahun, atau di Papua Pegunungan misalnya di Pegunungan Bintang HLS-nya 6 tahun. Ini artinya secara rata-rata anak yang mulai sekolah di usia 7 tahun, bersekolah sampai 5 tahun atau hanya sampai kelas 5 SD. Kondisi ini sangat memprihatinkan, sementara di sisi lain kekayaan SDA Papua melimpah ruah yang harapannya sejalan dengan pemerataan akses Pendidikan,” kata Filep saat ditemui awak media, Jumat (2/5/2025).

“Lalu kita bicara tentang tingkat pendidikan. Terbaru hanya 10,2 persen penduduk Indonesia yang pendidikannya selesai di perguruan tinggi. Lulusan paling banyak didominasi pendidikan SD (24,72 persen) dan SMP (22,79 persen). Kalau diperiksa detail, misalnya di Provinsi Papua Pegunungan bahkan masih ada yang tidak selesai SD, tidak ada ijazah sama sekali. Padahal Otsus sudah mewajibkan adanya pendidikan gratis bagi Orang Asli Papua (OAP) mulai PAUD sampai perguruan tinggi. Ini gambaran kondisi pendidikan kita,” tambah Filep.

Lebih lanjut, senator Papua Barat itu juga menyinggung masalah jumlah tenaga pengajar, Filep mengungkapkan bahwa defisit guru dan dosen masih terjadi. Ia menyebutkan, di tahun 2024 terdapat sekitar 330.000 dosen, namun jumlah profesor hanya 11.000 orang, yang sebagian besar berasal dari perguruan tinggu negeri. Belum lagi soal kualitas, Filep meyakini terdapat disparitas dan kesenjangan akses ilmu antara wilayah Jawa dan Indonesia bagian tengah dan timur.

“Sementara itu data guru lebih dinamis. Pada tahun 2025, diperkirakan terdapat sekitar 3,39 juta guru di Indonesia. Jumlah ini sedikit lebih tinggi dari tahun ajaran 2023/2024 yang mencapai 3,03 juta guru. Saya yakin semua berharap bahwa kenaikan kuantitas ini diikuti juga dengan perbaikan kesejahteraan”, imbuhnya.

“Lalu bagaimana dengan infrastruktur? Kalau kita baca Peta Jalan Pendidikan Indonesia Tahun 2025-2045 yang diluncurkan oleh Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas), disana disebutkan mengenai belum meratanya akses pendidikan yang berkualitas. Persoalannya juga mencakup kemiskinan, ketimpangan mutu sekolah dan kualitas guru, sampai kesenjangan infrastruktur antar daerah.  Infrastruktur pendidikan kita memang nampak timpang antara daerah metropolitan dan daerah terpencil. Infrastrukur itu setidaknya ada 3 hal mendasar yaitu akses jalan atau transportasi ke sekolah, infrastruktur sekolah atau kampus, dan infrastruktur media pembelajaran termasuk akses internet dan hal-hal terkait digitalisasi pendidikan. Rasanya sulit sekali mencapai ini jika tidak ada keseriusan pemerintah”, tegas Filep.

Terkait kondisi ini, Ketua Komite III DPD RI ini kemudian memberikan beberapa pandangan dan rekomendasi dalam rangka perbaikan pendidikan.

“Dengan masalah yang kompleks itu, ada beberapa hal yang harus dilakukan pemerintah. Pertama, meletakkan pendidikan sebagai investasi sehingga mau tidak mau seluruh infrastruktur pendidikan harus dibenahi, terutama di wilayah terpencil, terluar, termiskin, yang dimulai dari peningkatan akses transportasi dan konektivitas internet ke daerah-daerah yang sulit dijangkau. Kedua, peningkatan kualitas guru, bisa lewat program pelatihan dan pengembangan kompetensi yang dijalankan bersamaan dengan peningkatan kesejahteraan guru secara signifikan,” urainya.

“Ketiga, pengembangan kurikulum yang relevan dengan kebutuhan daerah dan perkembangan teknologi. Ini harus menjadi dasar penyelenggaraan pendidikan. Kurikulum harus benar-benar mengeksplorasi kebutuhan daerah. Terakhir,  kita juga perlu mendorong peningkatan partisipasi masyarakat dan pemda juga pihak swasta dalam mendukung pendidikan. Disinilah sejatinya saya selalu menekankan bahwa dana pendidikan tidak boleh diganggu gugat untuk keperluan lainnya,” tutup Filep.

Harap Perhatian Pemerintah, Akses Jalan Distrik Sumuri Rusak Hambat Aktivitas Pelajar dan Masyarakat

0

SUMURI, JAGAINDONESIA.COM – Kondisi jalan dan jembatan di Distrik Sumuri, kabupaten Teluk Bintuni, Provinsi Papua Barat sangat memprihatinkan. Hal ini menjadi keluhan dari pelajar dan masyarakat di daerah tersebut.

Pantauan awak media, akses jalan nampak berlumpur, sedangkan jembatan darurat yang dibuat oleh masyarakat secara swadaya telah tergenang banjir. Kondisi jalan itu menghambat aktivitas pelajar dan masyarakat yang sulit dan harus berhati-hati ketika melintas.

Video yang diunggah oleh warga setempat ke sejumlah media sosial menarik simpati publik. Warga berharap masyarakat dan utamanya pelajar dapat menikmati sarana jalan yang layak sehingga mempermudah dan mendukung aktivitas sehari-hari.

Warga Tanah Merah, distrik Sumuri, Dani Ruba yang dikonfirmasi awak media pada Rabu (30/4/2025) atas unggahan video itu mengutarakan bahwa jalan rusak parah yang diunggah ke media sosial itu tepat berada di kampung Tanah Merah menuju ke Saengga, Distrik Sumuri.

“Terdapat 8 kampung di Sumuri, kabupaten Teluk Bintuni dan kondisi ini sudah dirasakan masyarakat semenjak kabupaten Teluk Bintuni terbentuk dan sampai sekarang belum ada perubahan apapun. Padahal suku Sumuri bagian dari Teluk Bintuni dan provinsi Papua Barat,” ungkap Dani. 

Melihat kondisi ini, Dani berharap adanya perhatian dan bantuan dari pemda Teluk Bintuni dan provinsi Papua Barat. Menurutnya, dana desa tidak cukup untuk membangun akses jalan dari Sumuri yang menghubungkan 8 kampung di daerah tersebut. (WRP)

DPD RI Dukung RUU Ketenagakerjaan Pro Buruh: Komite III Serukan Perlindungan dan Keadilan Sosial

0

JAKARTA, JAGAINDONESIA.COM – Ketua Komite III DPD RI, Fillep, menyatakan dukungan penuh terhadap Rancangan Undang-Undang (RUU) Ketenagakerjaan yang berpihak pada buruh. Dalam Forum Urun Rembug bertajuk “RUU Ketenagakerjaan Pro Buruh”, Fillep menegaskan bahwa DPD RI akan memastikan suara buruh terwakili dalam setiap pembahasan legislasi nasional.

“Kami di Komite III DPD RI memandang perlindungan tenaga kerja sebagai pilar utama dalam pembangunan nasional yang adil dan berkelanjutan. RUU ini harus menjamin hak-hak dasar buruh, memberikan kepastian kerja, serta memperkuat posisi tawar mereka di tengah arus liberalisasi ekonomi,” tegas Fillep.

Fillep juga menyoroti pentingnya reformasi struktural dalam hubungan industrial di Indonesia, termasuk penghapusan sistem kerja kontrak yang eksploitatif, serta penguatan peran serikat pekerja. Ia mengingatkan bahwa kesejahteraan buruh bukan hanya urusan ketenagakerjaan, tapi juga menyangkut kualitas demokrasi dan keadilan sosial.

“Kita tidak boleh membiarkan hukum hanya menguntungkan pemilik modal. Negara wajib hadir untuk melindungi rakyatnya, khususnya kaum buruh yang menjadi tulang punggung perekonomian,” tambahnya.

Forum ini dihadiri oleh perwakilan serikat pekerja, akademisi, dan penggiat hak-hak buruh. Dalam diskusi tersebut, para peserta menyampaikan harapan besar agar DPD RI menjadi jembatan antara aspirasi rakyat dengan kebijakan negara.

Senator Papua Barat itu kembali menegaskan bahwa Komite III DPD RI berkomitmen untuk mengawal RUU ini agar mencerminkan semangat keadilan sosial, dan bukan sekadar kepentingan pasar.

Senator Filep Ajak Pemuda Mansinam Jaga Nilai Kebangsaan

0
Kegiatan sosialisasi 4 Pilar MPR RI oleh Dr. Filep Wamafma (29/04)

MANOKWARI — Anggota DPD RI Dapil Papua Barat, Dr. Filep Wamafma, S.H., M.Hum., melaksanakan kegiatan sosialisasi Empat Pilar MPR RI di Kampung Mansinam, Manokwari, Selasa (29/4). Kegiatan ini diikuti oleh para pemuda, pemudi, dan mahasiswa asal Kampung Mansinam yang juga merupakan pengurus Pam Lahai Roi Mansinam.

Dengan mengusung tema “Peran Strategis Mahasiswa Papua Barat sebagai Agen Perubahan dan Penjaga Nilai-Nilai Kebangsaan,” sosialisasi ini menekankan pentingnya peran generasi muda dalam menjaga dan meneruskan nilai-nilai kebangsaan di tengah tantangan zaman.

Dalam sosialisasinya, Senator Filep menekankan bahwa pemuda Papua Barat, khususnya mahasiswa, memiliki posisi strategis sebagai penjaga moral dan penggerak perubahan positif dalam masyarakat. Ia mengajak peserta untuk tidak hanya memahami empat pilar—Pancasila, UUD 1945, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika—tetapi juga berharap agar 4 pilar tersebut dijadikan pedoman dalam kehidupan sehari-hari, termasuk dalam kehidupan berjemaat dan bermasyarakat.

Sebagai bentuk dukungan terhadap peran aktif pemuda di lingkungan gereja, Filep Wamafma juga menyerahkan bantuan berupa baju seragam untuk kegiatan wisata rohani Gereja Lahai Roi Mansinam. Bantuan ini dimaksudkan untuk memperkuat semangat pelayanan generasi muda dalam mendukung aktivitas keagamaan dan membangun semangat kebersamaan.

“Gereja di Papua Barat selama ini telah menjadi penjaga nilai-nilai persatuan dan nilai kasih. Kita ingin agar pemuda, melalui gereja, juga menjadi penggerak harmoni dan kerukunan dalam kehidupan berbangsa,” ujar Filep.

Kampung Mansinam, yang dikenal sebagai titik awal masuknya Injil di Tanah Papua, menjadi simbol penting kerukunan umat dan semangat toleransi. Dalam konteks ini, kegiatan sosialisasi Empat Pilar tidak hanya menjadi sarana edukasi, tetapi juga penguatan nilai-nilai spiritual dan nasionalisme yang tumbuh dari akar budaya dan iman masyarakat Papua Barat.

Papua Barat selama ini menjadi contoh nyata kerukunan dan keberagaman yang harmonis. Melalui keterlibatan aktif pemuda dan gereja, nilai-nilai kebangsaan dapat terus dijaga dan diwariskan untuk generasi mendatang.

Temui PAM GKI Laha Roi di Pulau Mansinam, Senator Filep Beri Motivasi dan Edukasi

0
Kegiatan sosialisasi 4 Pilar MPR RI oleh Dr. Filep Wamafma (29/04)

MANOKWARI, JAGAINDONESIA.COM – Ketua Komite III DPD RI, Dr. Filep Wamafma, S.H., M.Hum mwlakukan kunjungan kasih di Pulau Mansinam, kabupaten Manokwari, Provinsi Papua Barat, Minggu (27/5/2025). Dalam agenda itu Senator asal Papua Barat ini bertemu dan berdiskusi bersama pemuda/i GKI Laha Roi Pulau Mansinam

Diantaranya, Filep menekankan agar para pemuda/i senantiasa mendekatkan diri pada Tuhan dan menjaga Pulau Mansinam sebagai aset Religius di tanah Papua. Dalam kesempatan itu, Filep berharap pemuda/i terus bersemangat dalam melaksanakan tugas pelayanan.

Ia juga mengajak pemuda/i untuk mengeyam Pendidikan tinggi, terutama bagi tamatan SMA/SMK sederajat tahun 2023, 2024 dan 2025.

“Silakan kuliah ke kampus STIH agar dibantu beasiswa kuliah hingga wisuda. Para pemuda yang tamat 3 tahun ke belakang bisa datang daftar kuliah agar kelak banyak anak Pulau Mansinam yang menjadi Sarjana Hukum untuk memberikan pelayanan bantuan hukum di tengah masyarakat sekitar,” pesan Filep Wamafma.

Lebih lanjut, Filep mengutarakan bahwa kehadirannya di Pulau Mansinam karena merasa menjadi bagian dari keluarga besar Pulau Mansinam. Mengakhiri diskusi tersebut, ia sekaligus memberikan sosialisasi terkait program bantuan beasiswa bagi pelajar SD, SMP dan SMA tahun 2025.

“Secara khusus di pulau Mansinam ada SD dan SMP, maka tugas bagi pemuda/i untuk membantu mendata ke sekolah agar pihak sekolah bisa menyiapkan data siswa yang dibutuhkan, sehingga dapat diusulkan memperoleh beasiswa,” ungkap Filep. (WRP)

Ketua Komite III DPD RI Kunjungi Universitas Cenderawasih Terkait Permasalahan Calon Dokter Muda

0
Ketua Komite III DPD RI, Dr. Filep Wamafma saat melakukan kunjungan ke Universitas Cenderawasih. (Foto: Dok DPD)

JAYAPURA, JAGAINDONESIA.COM – Ketua Komite III DPD RI, Dr. Filep Wamafma melakukan kunjungan kerja ke Universitas Cenderawasih untuk menindaklanjuti permasalahan ratusan calon dokter muda Fakultas Kedokteran Universitas Cenderawasih yang terancam dikeluarkan (Drop Out) akibat kendala administratif dan pembiayaan.

Dalam kunjungan tersebut, Dr. Filep Wamafma yang didampingi Senator Pdt David Waromi dari Provinsi Papua dan senator Arianto Kogoya SE dari Provinsi Papua pegunungan diterima langsung oleh Rektor Universitas Cenderawasih beserta jajaran, dalam sebuah pertemuan yang berlangsung konstruktif dan terbuka.

Komite III DPD RI menyampaikan apresiasi terhadap langkah-langkah konkret yang telah dilakukan oleh pihak Universitas Cenderawasih dalam merespons permasalahan ini secara bertahap dan berkelanjutan.

“Kami melihat keseriusan Rektor dan seluruh jajaran dalam mencari solusi bagi para mahasiswa. Ini merupakan komitmen nyata dalam menjaga kualitas pendidikan dan masa depan generasi Papua,” ujar Dr. Filep

Namun, Komite III juga menyayangkan keberadaan pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab yang justru menghambat perkembangan sektor pendidikan dan kesehatan di Papua, yang sejatinya merupakan bagian dari visi besar pembangunan Papua: Papua Sehat, Papua Cerdas, dan Papua Produktif.

Dalam pertemuan itu, Dr. Filep juga menyampaikan masukan penting terkait mekanisme pemberian beasiswa kepada mahasiswa, khususnya di bidang kedokteran. Ia menekankan perlunya penyaluran dana pendidikan dari pemerintah daerah langsung ke rekening kampus.

“Dalam hal pemberian beasiswa oleh pemerintah daerah, sebaiknya dana pendidikan, terutama biaya kuliah dan akademik, ditransfer langsung ke pihak kampus. Kampus dapat ikut mengelola dan memastikan dana itu tepat sasaran. Untuk biaya hidup dan kebutuhan pribadi, itu bisa tetap ditransfer ke mahasiswa,” jelas Dr. Filep.

Menurutnya, dari hasil advokasi dan informasi yang diterima, pemerintah daerah sebenarnya telah mengalokasikan beasiswa bagi mahasiswa, namun karena mekanisme transfer dilakukan langsung ke mahasiswa, tidak jarang dana pendidikan digunakan tidak sesuai peruntukannya, sehingga menimbulkan permasalahan lanjutan.

“Kami mendorong agar ke depan sistem ini dievaluasi, dan pemerintah daerah dapat menyalurkan dana pendidikan langsung ke rekening perguruan tinggi. Ini penting agar tidak terjadi lagi kasus mahasiswa terhambat studinya karena kendala biaya, padahal sebenarnya pemerintah sudah membantu,” lanjutnya.

Sebagai langkah lanjut, Komite III DPD RI akan memanggil dan mengkoordinasikan penyelesaian masalah ini dengan mitra kerja seperti Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (DIKTI SAINTEK), Kementerian Kesehatan, dan pemerintah daerah terkait.

Selain itu, Komite III juga menegaskan akan terus mendorong penataan sistem seleksi dan penerimaan mahasiswa Fakultas Kedokteran di Papua, agar lebih transparan, terukur, dan sesuai dengan kebutuhan daerah, guna mendukung kualitas SDM Papua yang unggul di sektor kesehatan.

MPR For Papua Terbentuk, Filep Wamafma Singgung Sejumlah Fokus Persoalan di Papua

0

JAKARTA, JAGAINDONESIA.COM – Forum MPR RI For Papua resmi terbentuk melalui Surat Keputusan (SK) Kepengurusan dari Ketua MPR RI, Ahmad Muzani kepada Yorrys Raweyai selaku Ketua dan Filep Wamafma selaku Sekretaris bersama jajaran pengurus masa bakti 2025-2030.

Adapun keanggotaan MPR FOR PAPUA diisi oleh seluruh Anggota DPD dan DPR Daerah Pemilihan Tanah Papua yang seluruhnya berjumlah 42 orang. Sekretaris MPR For Papua, Filep Wamafma menyampaikan bahwa hadirnya forum ini sebagai wadah bagi wakil daerah dan wakil rakyat se-tanah Papua untuk berkolaborasi dan berkontribusi dalam penyelesaian persoalan-persoalan di Papua.

“Kehadiran forum MPR RI For Papua ini penting untuk membantu penyelesaian-penyelesaian masalah di tanah Papua. Kita apresiasi banyak kebijakan khusus pemerintah untuk Papua seperti Otonomi Khusus, pembentukan DOB dan lain sebagainya, akan tetapi kita tentu tahu bahwa berbagai masalah di Papua di sektor sosial, ekonomi, politik juga belum tuntas terselesaikan,” kata Filep kepada awak media, Kamis (24/4/2025).

“Misalnya masalah investasi saja, SDA Papua melimpah, puluhan tahun investasi besar berjalan, namun nampak tak sejalan dengan peningkatan kesejahteraan masyarakat Papua. Ada Freeport dan BP Tangguh, keuntungan dari investasi jelas sangat besar, namun masyarakat Papua yang populasinya juga tidak cukup besar masih menjadi yang tertinggi jumlah penduduk miskin di Indonesia. Tentu masalah kesejahteraan ini menjadi salah satu fokus MPR For Papua ke depan,” katanya lagi.

Lebih lanjut, Filep mengakui bahwa kebijakan investasi pada umumnya juga berdampak positif seperti peningkatan pendapatan daerah melalui pajak dan retribusi, membuka lapangan kerja serta pada gilirannya juga dapat mendorong kenaikan PDB.

Akan tetapi, kata Filep, selain kemiskinan tinggi, angka pengangguran di Papua juga tinggi, stunting, gizi buruk, sanitasi, masalah kekurangan guru, nakes serta infrastruktur penunjangnya juga masih menjadi persoalan hingga saat ini.

“Bagi saya ada anomali, banyak proyek strategis juga mendapat perlawanan dari masyarakat adat, banyak sarjana di Papua ‘nganggur’, lebih bergantung pada peluang dari pemerintah daerah, sedangkan perusahaan juga memerlukan banyak tenaga kerja. Maka bagaimana dampak CSR dalam hal ini juga menjadi atensi kami. Harapannya jelas CSR memberikan dampak yang signifikan bagi masyarakat asli Papua. Lalu, dampak lingkungan harus dikelola dengan baik, agar tidak memicu bencana di kemudian hari,” jelasnya.

“Di sektor politik, soal implementasi Otsus tentu kita kawal bersama, apalagi kini ada efisiensi anggaran yang dikhawatirkan akan menghambat realisasi program pembangunan. Selain itu, kasus-kasus pelanggaran HAM berat di Papua juga belum tuntas, Tragedi Wamena, Wasior, dan putusan kasus Paniai menuai beragam reaksi masyarakat. Kita berharap agar penyelesaian secara yudisial diutamakan, selain penyelesaian non-yudisial. Karena pasti kami tidak ingin peristiwa kekerasan terus berulang di tanah Papua. Juga situasi keamanan di Papua yang akhir-akhir ini kembali bergejolak, kami berharap konflik tidak terus berkepanjangan,” katanya.

“Maka adanya MPR For Papua menjadi jembatan dengan stakeholder-stakeholder terkait, termasuk di jajaran eksekutif pusat untuk menyelesaikan persoalan-persoalan di tanah Papua ini. Saya berharap, forum ini akan berjalan lebih produktif dan progresif, sehingga dampak kehadirannya juga terasa bagi masyarakat kita,” ujar Filep.

Sejalan dengan itu, Ketua MPR RI Ahmad Muzani mengatakan bahwa wadah ini dibentuk sebagai perpanjangan tangan MPR, untuk membantu pemerintah menyelesaikan persoalan-persoalan di Papua secara menyeluruh dan berkelanjutan.

“MPR FOR PAPUA menjadi perpanjangan bagi MPR guna membantu pemerintah menyelesaikan berbagai persoalan Papua secara komprehensif, terutama dari sisi politik,” ujarnya.

Ia menegaskan, dalam pelaksanaan tugasnya ke depan, MPR FOR PAPUA akan aktif berdialog dengan berbagai pihak, khususnya pemerintah pusat. Sebagai upaya untuk memperoleh berbagai pandangan dan rumusan langkah-langkah strategis demi mendorong pembangunan dan kesejahteraan masyarakat Papua.

Terkait tindak lanjut ke depan, Ahmad Muzani menyampaikan bahwa dalam waktu dekat pihaknya akan meminta Ketua MPR FOR PAPUA untuk segera berkoordinasi dengan para menteri dan lembaga terkait.

 

Dorong Eksplorasi Sumber Daya Mineral, Indonesia dan Arab Saudi Sepakati Kerja Sama Strategis

0

JAGAINDONESIA.COM – Pemerintah Indonesia dan Arab Saudi sepakat menjalin kerja sama strategis di bidang sumber daya mineral untuk melanjutkan kemitraan yang telah terjalin baik selama ini. Kesepakatan ini dituangkan dalam penandatanganan Memorandum Saling Pengertian (MSP) oleh Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Republik Indonesia, Bahlil Lahadalia, dan Menteri Industri dan Sumber Daya Mineral Arab Saudi, Bandar bin Ibrahim Al-Khorayef, yang berlangsung di Kantor Kementerian ESDM pada Kamis (17/4).

Selain penandatanganan MSP, kedua Menteri juga menggelar pertemuan bilateral guna membahas arah kolaborasi jangka panjang di sektor pertambangan. Menteri Bahlil menegaskan pentingnya kerja sama lintas negara dalam pengelolaan mineral, terlebih di tengah dinamika geopolitik global saat ini. “Mineral menjadi salah satu kunci masa depan energi. Karena itu, kolaborasi semacam ini sangat krusial,” ujar Bahlil.

Ia juga mengungkapkan sejumlah komoditas utama yang menjadi prioritas kerja sama, termasuk nikel–yang cadangannya di Indonesia termasuk terbesar di dunia–serta bauksit, timah, tembaga, emas-perak, dan besi. Kerja sama ini diharapkan dapat membuka jalan bagi peningkatan nilai tambah dan hilirisasi mineral nasional.

Pihak Arab Saudi menyambut antusias peluang kolaborasi ini. Dengan melihat pengalaman panjang Indonesia dalam pengembangan sumber daya mineral, Saudi berharap kerja sama ini juga mencakup pengembangan kapasitas sumber daya manusia, melalui berbagi pengalaman dan praktik terbaik di sektor pertambangan.

Menteri Bandar menyebutkan tiga prioritas utama Saudi dalam kerja sama ini, pertama, peningkatan impor produk pertambangan untuk mendukung perdagangan dua arah. Kedua, memperkuat rantai pasok industri mineral dan ketiga, menjalin kemitraan dalam perdagangan dan investasi, termasuk potensi kolaborasi antar BUMN kedua negara.

Ia juga menyoroti pentingnya Forum Mineral Masa Depan (Future Minerals Forum) yang diselenggarakan rutin oleh Pemerintah Arab Saudi. Forum ini menjadi wadah berkumpulnya pemangku kepentingan global dari sektor mineral untuk menggali peluang kerja sama strategis. Selain itu, kerja sama ini sejalan dengan Visi 2030 Arab Saudi, yang menempatkan sektor pertambangan sebagai salah satu pilar utama diversifikasi ekonomi pasca-minyak.

Melalui Visi 2030, Arab Saudi berkomitmen mengembangkan industri pertambangan yang berkelanjutan dan berdaya saing global, dengan fokus pada pemanfaatan potensi mineral seperti emas, fosfat, bauksit, dan logam tanah jarang. Strategi ini diharapkan dapat menciptakan lapangan kerja, menarik investasi asing, serta membangun rantai nilai domestik yang kuat.

Sementara itu, Pemerintah Indonesia terus mendorong penguatan industri dalam negeri melalui kebijakan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN). Namun, untuk menjaga daya saing dan mendorong minat investasi asing, Pemerintah mulai menerapkan pendekatan yang lebih fleksibel terhadap persyaratan TKDN. Langkah ini bertujuan untuk memperlancar investasi, sembari tetap memastikan adanya transfer teknologi dan pengembangan rantai pasok lokal secara bertahap.

MSP yang ditandatangani mencakup ruang lingkup kerja sama yang luas, mulai dari eksplorasi dan pemanfaatan mineral, pengembangan industri, hingga penerapan teknologi modern dalam kegiatan pertambangan. Kesepakatan ini merupakan kelanjutan dari komitmen kedua negara untuk mempererat sinergi di sektor energi dan sumber daya mineral. Sebelumnya, Indonesia dan Arab Saudi telah menandatangani MSP di bidang energi pada 16 November 2022 di Bali, yang mulai berlaku sejak 16 Juni 2023.

Kedua negara menegaskan komitmennya untuk mendukung penuh pelaksanaan kerja sama ini melalui koordinasi lintas kementerian, dengan tetap memperhatikan kepentingan bisnis di masing-masing negara. Inisiatif ini juga sejalan dengan kebijakan hilirisasi nasional yang menekankan pentingnya peningkatan nilai tambah sumber daya mineral, sesuai dengan arahan Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto.

Berita Terbaru