PAPUA, JAGAINDONESIA.COM – Ketua PDI Perjuangan Papua, Benhur Tomi Mano menanggapi pelantikan Dewan Eksekutif Tim Percepatan Pembangunan Papua Cerah (TP3C) pada Rabu, 14 Januari 2026 di Jayapura. Pelantikan ini dilakukan secara langsung oleh Gubernur Papua, Mathius D. Fakhiri terhadap tim yang beranggotakan 13 orang tersebut.
“Kami menghormati pelantikan Dewan Eksekutif Percepatan Pembangunan Papua Cerah yang dilakukan sore tadi pukul 16.00 WIT. Tapi kami juga harus bicara jujur kepada rakyat, bahwa di tengah APBD yang turun dan kondisi ekonomi masyarakat yang berat, keputusan menambah struktur baru ini patut dipertanyakan,” ujar Benhur Tomi Mano alias BTM dalam keterangan yang diterima Kamis (15/1/2026).
“Hari ini rakyat di kampung-kampung masih bergumul dengan masalah yang sama, berobat susah, sekolah banyak kekurangan, akses jalan dan transportasi belum beres, harga barang mahal. Dalam keadaan begini, yang rakyat tunggu dari pemerintah itu kerja nyata dan hasil cepat, bukan penambahan lembaga baru yang ujung-ujungnya bisa menambah beban,” katanya lagi.
Lebih lanjut, BTM mengingatkan agar penambahan struktur baru tidak hanya menjadi beban anggaran, melainkan dapat bekerja nyata memastikan realisasi program tepat sasaran kepada masyarakat.
“Papua ini sebenarnya bukan kurang tim dan bukan kurang rapat. Yang selama ini kurang adalah ketegasan eksekusi. Banyak program bagus, tapi sering lambat jalan, tidak tepat sasaran, dan tidak terasa sampai ke distrik. Kami tidak mau dewan ini hanya jadi tambahan struktur yang ramai di atas, tapi tidak membawa perubahan di bawah,” sebutnya.
“Kami juga mengingatkan, jangan sampai dewan ini masuk di ruang kerja yang sama dengan OPD. OPD sudah ada, sudah digaji, sudah punya tugas. Kalau sekarang ada struktur baru lagi, nanti bisa terjadi tumpang tindih, komando tidak jelas, koordinasi kacau, dan akhirnya masyarakat yang jadi korban karena pelayanan makin lambat,” ujar BTM.
Mantan walikota Jayapura itu lantas berharap Dewan Eksekutif TP3C mampu memberikan hasil yang berdampak langsung bagi masyarakat. Terlebih dalam hal pelayanan publik dan persoalan mendasar yang terasa bagi masyarakat di kampung-kampung. Selain itu, BTM juga mengatakan pihaknya akan turut melakukan pengawasan dalam rangka mengawal kepentingan rakyat Papua.
“Kami tegaskan, bahwa rakyat Papua tidak butuh seremoni, rakyat butuh hasil. Kalau memang namanya percepatan pembangunan, maka ukurannya sederhana, apa yang berubah di kampung-kampung? Enam bulan sampai satu tahun ke depan, kita lihat bersama, apakah pelayanan publik membaik, program benar-benar sampai ke rakyat, dan pembangunan bergerak cepat. Kalau tidak ada perubahan nyata, maka publik berhak menilai bahwa ini hanya kebijakan yang kelihatan hebat di atas, tapi kosong di lapangan,” sebut BTM.
“PDI Perjuangan akan mengawasi dengan serius, karena bagi kami yang utama bukan kepentingan kelompok, tapi kepentingan rakyat Papua,” tutupnya.
Seperti diketahui, Gubernur Papua melantik Dewan Eksekutif TP3C bersamaan dengan Staf Khusus Gubernur Papua. Mathius menyampaikan bahwa momentum tersebut bukan sekedar pelantikan jabatan, melainkan juga sebagai penguatan komitmen untuk mempercepat kerja pemerintahan dan menghadirkan hasil nyata bagi rakyat.
“Papua tidak boleh berjalan lambat di tengah tantangan yang semakin kompleks. Saya membutuhkan tim yang bekerja cepat, berpikir strategis, berani turun ke lapangan, dan mampu memberi solusi, bukan sekadar laporan,” ujarnya.
“Saya tegaskan, tugas utama saudara-saudara adalah mengawal visi Papua Cerah agar benar-benar dirasakan masyarakat melalui pemerintahan yang bersih, pembangunan yang adil, dan keberpihakan nyata kepada Orang Asli Papua. Kepercayaan ini harus dijawab dengan integritas, loyalitas, dan kerja nyata. Papua harus maju, bukan dengan janji, tetapi dengan tindakan,” sambung Mathius.
Tim ini resmi dibentuk melalui Keputusan Nomor 100.3.3.1/KEP.27/2026 dengan struktur dipimpin oleh pakar atau akademisi. Diantaranya yakni jabatan Ketua oleh Prof. Dr. Fredik Sokoy, Wakil Ketua oleh Prof. Dr. M. Gusti Ingratubun, Sekretaris oleh Prof. Dr. Idrus Alhamid dan anggota diantaranya yakni Prof. Dr. Frans Reumi, Dr. Ir. Didik S. Mabui hingga Dr. Renida Toroby. (UWR)


