JAKARTA, JAGAINDONESIA.COM – Ketua Komite III DPD RI, Dr. Filep Wamafma menghadiri dialog antaragama bertema ‘Allah Hadir untuk Menyelamatkan Keluarga’ yang menjadi bagian dari rangkaian Perayaan Natal tahun 2025 dan Tahun Baru 2026 MPR, DPR, dan DPD RI, bertempat di Gedung Nusantara IV DPR RI, 14 Januari 2026 di Senayan, Jakarta.
Kegiatan ini dihadiri para anggota DPR RI dan DPD RI, perwakilan Kementerian Agama, serta tokoh lintas agama sebagai wujud komitmen bersama menjaga persatuan dan nilai kemanusiaan. Dalam sambutannya, Dr. Filep Wamafma menegaskan bahwa keluarga adalah fondasi utama ketahanan bangsa.
“Keluarga bukan sekadar urusan privat, melainkan juga menjadi ruang strategis pembentukan karakter, nilai moral, dan kualitas sumber daya manusia Indonesia. Karena itu, ketika keluarga mengalami kerapuhan yang terancam, bukan hanya individu, melainkan ketahanan sosial dan masa depan bangsa secara keseluruhan,” ungkap Dr. Filep Wamafma.
Lebih lanjut, ia memaparkan sejumlah data bahwa puluhan juta keluarga Indonesia masih hidup dalam garis kemiskinan, diantaranya berdasarkan laporan Bank Dunia tahun 2025 yakni lebih dari 60% penduduk Indonesia berada dalam kategori rentan secara ekonomi.
“Selain itu, juga maraknya judi online dan pinjaman daring ilegal, yang tidak hanya merusak ekonomi rumah tangga, tetapi juga memicu konflik, perceraian, hingga kekerasan dalam keluarga. Kemudian, masih rawan terjadi kerapuhan sosial dan perlindungan di dalam rumah. Data SIMFONI PPA tahun 2025 mencatat lebih dari 27 ribu kasus kekerasan, dengan mayoritas korban adalah perempuan dan anak. Fakta ini menunjukkan bahwa rumah, yang seharusnya menjadi tempat paling aman, tidak selalu demikian bagi semua keluarga,” urai Filep.
“Lalu soal kerapuhan regenerasi dan masa depan bangsa, seperti masalah stunting dan kesehatan keluarga, hingga kini pemerintah masih fokus pada verifikasi keluarga berisiko stunting, yang menandakan bahwa persoalan pemenuhan gizi, kesehatan ibu dan anak, serta pola pengasuhan belum sepenuhnya terselesaikan di tingkat keluarga. Fakta-fakta ini menegaskan bahwa krisis keluarga bersifat multidimensi yakni ekonomi, sosial, dan kesehatan, dan karenanya membutuhkan solusi dan kolaborasi bersama,” tegasnya lagi.
Melalui dialog lintas iman ini, Dr. Filep menekankan pentingnya kebersamaan seluruh elemen bangsa untuk menjaga dan memperkuat keluarga Indonesia di tengah tantangan zaman. Menurutnya, momen dialog antar agama ini menjadi sangat relevan dan strategis. Bagi Komite III DPD RI, dialog ini bukan sekadar forum refleksi moral, tetapi ruang untuk menyamakan diagnosis dan membangun pemahaman bersama tentang krisis keluarga Indonesia.
“Kami, Komite III DPD RI berkomitmen mengawal kebijakan dan regulasi agar benar-benar berpihak pada penguatan ketahanan keluarga, termasuk soal RUU Ketahanan Keluarga yang disusun pada tahun 2017. Kami juga mendorong sinergi lintas sektor dan lintas iman, agar program-program penguatan keluarga tidak berjalan terpisah, tetapi saling melengkapi. Selain itu, kami aktif dan terbuka menyerap aspirasi daerah, karena persoalan keluarga sering kali paling nyata dirasakan di tingkat desa, kampung, wilayah adat, dan daerah tertinggal,” kata Pace Jas Merah ini.
“Menyelamatkan keluarga berarti menyelamatkan masa depan Indonesia. Tugas ini tidak bisa diserahkan kepada negara saja atau kepada agama saja, tapi membutuhkan kolaborasi yang tulus, berbasis data, dan berlandaskan pada nilai kemanusiaan universal. Semoga dialog ini menjadi langkah nyata untuk menghadirkan keadilan dan kesetaraan sosial bagi setiap keluarga Indonesia,” tutupnya.


